Fakta 11 Bayi dalam Rumah Bidan di Sleman, Mayoritas Lahir di Luar Nikah, Dititipkan Rp 50 Ribu Perhari

grid.id
19 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Warga dihebohkan dengan temuan 11 bayi dalam rumah bidan di Sleman. Rupanya, bayi-bayi tersebut mayoritas lahir di luar pernikahan dan dititipkan dengan biaya Rp 50 ribu perhari.

Setelah adanya laporan masyarakat, belasan bayi berusia antara 1 hingga 10 bulan, dievakuasi dari sebuah rumah penitipan di Dusun Wonokerso, Padukuhan Randu, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Evakuasi terhadap 11 bayi ini dilakukan oleh petugas gabungan dari Kepolisian, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Puskesmas, hingga Kapanewon dan Kalurahan di Pakem, Sleman, pada Jumat (8/5/2026) lalu.

Evakuasi dilakukan karena petugas merasa janggal dengan adanya 11 bayi di dalam rumah bidan berinisial OR. Polisi juga memeriksa bidan OR, pengasuh berinisial K (ibu dari bidan OR), S (ayah dari bidan OR), satu orang pembantu dan enam orang ibu kandung bayi-bayi tersebut.

Dari 11 bayi dalam rumah bidan di Sleman, tiga di antaranya dalam kondisi yang tidak baik dan membutuhkan penanganan medis serius. Tiga bayi itu kemudian dibawa ke RSUD Sleman untuk dirawat usai didiagnosis menderita sakit kuning, hernia dan penyakit jantung bawaan.

Usai mendapatkan perawatan, bayi yang menderita hernia dan sakit kuning kini sudah dalam keadaan normal. Sementara untuk bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan masih memerlukan penanganan lebih lanjut.

"Yang hernia dan kuning sekarang sudah dalam keadaan normal. Untuk yang jantung bawaan mungkin nanti akan ada tindak lanjut medis," jelas Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi, dikutip dari Kompas.com.

Sementara itu, dari delapan bayi yang dinyatakan sehat, dua bayi telah dikembalikan kepada orangtua kandungnya. Lalu enam bayi lainnya kini berada dalam perawatan Dinas Sosial Kabupaten Sleman guna memastikan masa depan dan pengasuhan yang layak.

Dari evakuasi 11 bayi tersebut, terungkap beberapa fakta di balik tempat penitipan bayi tanpa izin operasional tersebut. Salah satunya adalah terkait status dari bayi-bayi tersebut.

Mayoritas Lahir di Luar Pernikahan

Berdasarkan penyelidikan polisi, terungkap bahwa mayoritas bayi yang dititipkan di rumah bidan OR lahir di luar pernikahan. Selain karena status sosial, orangtua bayi juga menitipkan bayi mereka dengan alasan kesibukan.

"Ya, untuk bayi ini mayoritas memang terus terang di luar pernikahan. Namun dari pemerintah akan mengupayakan bagaimana status terhadap orangtua dan anaknya," kata Mateus, dikutip dari Tribun Jogja.

 

Diketahui bahwa beberapa orangtua bayi berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pekerja.

Lebih lanjut, polisi belum menemukan adanya dugaan perdagangan orang atau TPPO dan penelantaran anak. Meski begitu, polisi masih melakukan pendalaman terkait hal ini.

"Sampai saat ini kami belum menemukan indikasi ke arah perdagangan bayi. Terkait unsur penelantaran anak, kami juga masih mendalami aturan perundang-undangannya, mengingat orang tua di sini menitipkan dan tetap membayar. Statusnya masih dalam tahap penyelidikan," ujar Mateus.

Tak Memiliki Izin Operasional

Fakta 11 bayi dalam rumah bidan di Sleman berikutnya adalah tidak adanya izin operasional penitipan anak. Bidan OR diketahui hanya memiliki izin praktik kebidanan, namun tempat yang dipakai untuk menampung bayi-bayi tersebut tidak memiliki izin operasional atau daycare.

Bidan OR sendiri mengaku awalnya hanya merawat satu bayi saja dari seseorang yang melahirkan di tempatnya. Namun akhirnya, dari satu orang tersebut kemudian berkembang hingga 11 bayi karena informasi dari mulut ke mulut.

Kegiatan ini telah berlangsung selama 5 bulan. Bidan OR mengaku mau menerima penitipan bayi karena alasan kemanusiaan.

Sementara untuk aktivitas penitipan anak di rumah Hargobinangun, Pakem, sendiri baru berlangsung selama 1 minggu karena rumah penitipan di Gamping sedang ada hajatan.

"Untuk praktik bidannya ada izin, tapi untuk penitipannya ini belum ada. Karena seperti yang saya jelaskan tadi, mungkin (berawal) dari kemanusiaan satu orang. Namun karena getok tular atau apa, sehingga sepuluh yang lain mengikuti," jelas Mateus.

Biaya Penitipan Rp 50 Ribu Perhari

Bayi-bayi yang dititipkan pada bidan OR sebagian besar adalah karena kesibukan orangtua sebagai mahasiswa, pekerja, dan status belum menikah.

 

Orangtua membayar biaya penitipan sebesar Rp 50 perhari untuk kebutuhan bayi. Polisi pun masih mendalami pembayaran ini apakah ada kaitannya dengan motif ekonomi.

Polisi juga masih menyelidiki terkait adanya dugaan pelanggaran hukum dari praktik penitipan 11 bayi dalam rumah bidan di Sleman ini.

Lebih lanjut, polisi juga telah menggelar rapat koordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sleman untuk membahas permasalahan ini. Dari rapat ini telah disepakati bahwa keselamatan, kesehatan dan masa depan bayi-bayi yang dievakuasi jadi prioritas utama.

Nantinya bayi-bayi yang sudah sehat akan dirawat di Dinas Sosial. Orangtua yang ingin mengambil bayinya akan didampingi oleh Dinas Sosial maupun kepolisian untuk memberikan pengarahan kepada orangtua untuk merawat bayinya. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penampakan beruang hitam di Jepang capai rekor tertinggi
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Waspada Dehidrasi di Tanah Suci, Jemaah Wajib Kenali Gejala Ini
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gibran Kunjungi Proyek MRT Bundaran HI - Kota, Progres Capai 59%
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Profil Kalis Mardiasih, Aktivis yang Vokal Suarakan Hak-Hak Perempuan
• 13 jam lalubeautynesia.id
thumb
El Rumi Kini Jadi Om, Suami Syifa Hadju Terharu Usai Al Ghazali Resmi Berstatus sebagai Ayah
• 22 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.