Malang (beritajatim.com) – Melalui mata kuliah Internasionalisasi UKM, mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (UM) melakukan kunjungan industri (company visit) ke Bea Cukai Malang dan produsen furnitur Giri Palma, Selasa (12/5/2026). Hal ini dilakukan untuk mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas hingga menembus pasar internasional.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensinkronkan teori manajemen dengan praktik lapangan, khususnya terkait regulasi ekspor dan strategi bertahan di pasar global. Sebanyak 30 mahasiswa doktoral yang terdiri dari praktisi dan akademisi terlibat langsung dalam observasi dan diskusi mendalam bersama para pakar di bidangnya.
Guru Besar FEB Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari kurikulum yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Menurutnya, mahasiswa program doktor di UM dibentuk untuk memiliki kepedulian tinggi terhadap pertumbuhan UMKM.
”Ciri khas program doktor kami adalah pemberdayaan UMKM. Mahasiswa perlu mempelajari mulai dari regulasi, implementasi, hingga kendala ekspor secara langsung. Kami baru saja dari Bea Cukai untuk memahami aturan main negara, lalu melakukan cross-check ke Giri Palma sebagai pelaku usaha yang sudah sukses ekspor ke Papua Nugini,” ujar Prof. Mia, sapaan akrabnya yang juga mengampu mata kuliah ini.
mahasiswa PDIM UM melihat produksi produk di Giri Palma (Foto: Dani Alifian)Prof. Mia menekankan pentingnya peran mahasiswa S3 sebagai pembina UMKM di masa depan. Ia menargetkan setiap mahasiswa mampu membina setidaknya lima UMKM.
“Jika satu mahasiswa membina lima UMKM, dan ada ratusan mahasiswa, maka kontribusi UMKM terhadap PDRB yang saat ini masih di angka 60 persen bisa terus meningkat melampaui dominasi jumlah unit usahanya yang mencapai 99 persen,” imbuhnya.
Di lokasi kedua, rombongan diterima langsung oleh Owner Giri Palma, Made Raji Mahendra, S.E. Dalam sesi diskusi, Made berbagi pengalaman mengenai cara menjaga stabilitas bisnis di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Ia menekankan bahwa ekspor bukan hanya soal pengiriman barang, tapi juga soal sistem pembayaran yang praktis dan mentalitas yang kuat.
”Menjadi pengusaha di kondisi sekarang tidaklah mudah. Hal utama yang saya tanamkan adalah mental. Kita harus punya strategi yang adaptif, terutama dalam sistem pembayaran ekspor agar operasional tetap berjalan lancar,” tutur Made di hadapan para mahasiswa.
Ia menyambut baik kolaborasi ini dan berharap kunjungan akademisi dapat memberikan perspektif baru bagi pengembangan bisnisnya, termasuk rencana ekspansi ke wilayah Kalimantan dan area lainnya yang belum terjamah kerjasama.
Salah satu mahasiswa S3 PDIM UM, H. Abdullah, mengungkapkan bahwa kunjungan ini adalah titik kulminasi dari pembelajaran di kelas. Baginya, memahami regulasi di Bea Cukai dan melihat proses bisnis di Giri Palma memberikan gambaran utuh mengenai ekosistem ekspor-impor di Indonesia.
”Kami belajar regulasi fiskal dan administrasi di Bea Cukai, lalu melihat langsung bagaimana UMKM membangun bisnis dari nol hingga sukses di Giri Palma. Ini adalah implementasi teori yang nyata. Belajar teori tanpa praktik itu mustahil,” kata Abdullah.
Ia menambahkan bahwa dalam dunia profesional, penguasaan antara teori dan praktik harus berimbang 50:50.
“Tanpa teori, kita buta arah di lapangan. Sebaliknya, hanya tahu teori tanpa praktik juga tidak akan menghasilkan apa-apa. Di sini kami melihat bagaimana proses pemasaran dan penjualan berkontribusi langsung pada penyerapan tenaga kerja,” tambahnya.
Penyempurnaan Kurikulum Berbasis Realitas
Lebih lanjut, Prof. Mia menjelaskan bahwa keluaran (output) dari kegiatan ini tidak hanya sekadar berita media atau peningkatan pengalaman mahasiswa, tetapi juga sebagai bahan evaluasi kurikulum.
”Revisi kurikulum dilakukan setiap dua tahun sekali. Kami melihat bagaimana kondisi UMKM di masa sebelum, selama, dan pasca-COVID-19 sangat berbeda. Data lapangan ini kami gunakan untuk menyesuaikan kurikulum agar lulusan kami selalu update dengan regulasi dan kondisi pasar terbaru,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan kunjungan ke PELANUSA (Pelangi Nusantara) di Malang Creative Center (MCC) untuk mempelajari sisi social entrepreneurship dan pemberdayaan perempuan melalui limbah tekstil. (dan/but)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468596/original/096328500_1767960422-0S6A8870.jpg)
