Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melakukan evaluasi gerakan pilah sampah dari rumah setiap dua minggu sekali.
“Saya sudah minta kepada Biro KDH (Kepala Daerah), setiap dua minggu sekali, kita akan evaluasi perkembangan dari gerakan pilah sampah ini,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota, Jakarta, Selasa.
Menurut dia, evaluasi itu dilakukan untuk memastikan gerakan tersebut sudah berjalan dengan baik dan dilakukan oleh seluruh pihak.
Dia pun berharap gerakan tersebut dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan sehingga mampu mengatasi persoalan sampah di ibu kota.
“Ini bukan hanya sekadar kampanye yang bersifat seremonial. Kami serius, karena ini untuk menangani persoalan sampah yang ada di Jakarta, karena Bantargebang sudah tidak mampu lagi,” tegas Pramono.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, pemilahan sampah terbagi menjadi dua, yakni organik dan anorganik.
Untuk pengolahan sampah organik, Pemprov DKI telah menguji coba teknologi hidrotermal untuk mengolah sampah organik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.
Baca juga: Pramono minta hotel, restoran, dan kafe lakukan gerakan pilah sampah
Teknologi tersebut, kata Pramono, memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran.
Inovasi itu mampu memangkas waktu pengolahan dari metode konvensional yang membutuhkan tujuh hingga sepuluh hari, menjadi hanya dua jam untuk setiap satu kali proses pengolahan.
Berdasarkan hasil uji coba pada April 2026, teknologi tersebut mampu mengolah 1.708 kilogram sampah organik dan menghasilkan 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi waktu hingga 80 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Selain pupuk cair, proses pengolahan itu juga menghasilkan residu padat yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam maupun pupuk organik.
Pramono menuturkan pengolahan sampah, khususnya jenis organik dengan cara tersebut akan diterapkan di seluruh pasar.
Tak hanya itu, dia juga meminta agar hotel, restoran dan kafe di ibu kota ikut melakukan gerakan pilah sampah secara mandiri.
“Untuk hotel, restoran, dan kafe, kami mewajibkan semuanya harus punya tempat untuk pemisahan (sampah), karena memang sampah organik adalah hotel, restoran, dan kafe,” ungkap Pramono.
Baca juga: Pram optimistis pengolahan sampah di pasar kurangi beban Bantargebang
Baca juga: Pramono tinjau pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati
“Saya sudah minta kepada Biro KDH (Kepala Daerah), setiap dua minggu sekali, kita akan evaluasi perkembangan dari gerakan pilah sampah ini,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota, Jakarta, Selasa.
Menurut dia, evaluasi itu dilakukan untuk memastikan gerakan tersebut sudah berjalan dengan baik dan dilakukan oleh seluruh pihak.
Dia pun berharap gerakan tersebut dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan sehingga mampu mengatasi persoalan sampah di ibu kota.
“Ini bukan hanya sekadar kampanye yang bersifat seremonial. Kami serius, karena ini untuk menangani persoalan sampah yang ada di Jakarta, karena Bantargebang sudah tidak mampu lagi,” tegas Pramono.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, pemilahan sampah terbagi menjadi dua, yakni organik dan anorganik.
Untuk pengolahan sampah organik, Pemprov DKI telah menguji coba teknologi hidrotermal untuk mengolah sampah organik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.
Baca juga: Pramono minta hotel, restoran, dan kafe lakukan gerakan pilah sampah
Teknologi tersebut, kata Pramono, memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran.
Inovasi itu mampu memangkas waktu pengolahan dari metode konvensional yang membutuhkan tujuh hingga sepuluh hari, menjadi hanya dua jam untuk setiap satu kali proses pengolahan.
Berdasarkan hasil uji coba pada April 2026, teknologi tersebut mampu mengolah 1.708 kilogram sampah organik dan menghasilkan 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi waktu hingga 80 kali lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Selain pupuk cair, proses pengolahan itu juga menghasilkan residu padat yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam maupun pupuk organik.
Pramono menuturkan pengolahan sampah, khususnya jenis organik dengan cara tersebut akan diterapkan di seluruh pasar.
Tak hanya itu, dia juga meminta agar hotel, restoran dan kafe di ibu kota ikut melakukan gerakan pilah sampah secara mandiri.
“Untuk hotel, restoran, dan kafe, kami mewajibkan semuanya harus punya tempat untuk pemisahan (sampah), karena memang sampah organik adalah hotel, restoran, dan kafe,” ungkap Pramono.
Baca juga: Pram optimistis pengolahan sampah di pasar kurangi beban Bantargebang
Baca juga: Pramono tinjau pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati





