Bisnis.com, DENPASAR — Nilai ekspor Provinsi Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar US$44,60 juta atau turun 16,87% dibandingkan dengan Maret 2025 sebesar US$53,65 juta.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali Anak Agung Ngurah Aditya Pradnyana Sunu mengatakan penurunan ekspor dipengaruhi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan proteksi perdagangan di sejumlah negara tujuan ekspor.
"Setelah pandemi kami dihadapkan dengan perang Rusia Ukraina, Perang Amerika-Iran yang berdampak terhadap naiknya biaya logistik hingga 150%," ujar Gung Adit kepada media, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, eksportir juga menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah yang membuat biaya bahan baku impor meningkat.
“Sedangkan daya beli pasar sedang menurun,” katanya.
Dia menambahkan GPEI akan mendorong penguatan ekosistem logistik untuk menekan biaya distribusi eksportir Bali. Hal tersebut akan dibahas dalam Musyawarah Daerah (Musda) GPEI Bali, termasuk rencana pengembangan Bali sebagai hub ekspor jalur udara untuk wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia Timur.
Baca Juga
- Kebutuhan Gas PLN Diproyeksi Naik 4,5% per Tahun
- Amman Mineral Buka Lowongan, Simak Jadwal Pendaftaran dan Seleksi!
- BPD Bali Berikan Kredit Rp114,11 Miliar ke Pemkab Klungkung untuk Percepatan Infrastruktur
Selain itu, GPEI juga berupaya memperkuat ekspor komoditas unggulan Bali seperti produk perikanan, produk olahan, dan kerajinan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 10 negara tujuan utama ekspor Bali pada Maret 2026, sebanyak delapan negara mencatat penurunan ekspor secara tahunan. Penurunan terdalam terjadi pada ekspor ke Jerman yang turun 38,40%, terutama dipicu penurunan ekspor pakaian dan aksesori nonrajutan.
Dari sisi komoditas, ekspor Bali pada Maret 2026 masih didominasi produk ikan, krustasea, dan moluska dengan nilai US$11,16 juta atau berkontribusi 25,03% terhadap total ekspor.
Namun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekspor komoditas tersebut turun 22,76%, terutama akibat penurunan permintaan dari Amerika Serikat.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, produk ikan, krustasea, dan moluska masih menjadi komoditas ekspor terbesar Bali dengan kontribusi 26,51% terhadap total ekspor. Sementara itu, penurunan terdalam terjadi pada ekspor buah-buahan yang turun 41,86%.





