Diam-Diam Banyak Warga RI Mulai Pilih Beli Barang Murah, Ada Apa?

cnbcindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kondisi peritel modern tampak lengang masih berjalan normal dan tidak ada fenomena panic buying. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peralihan tren konsumsi dan belanja warga Indonesia dilaporkan mulai terjadi, setidaknya sudah sejak akhir tahun 2025 lalu. Mirisnya, peralihan yang terjadi adalah warga kini lebih memilih barang dengan harga murah. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengungkapkan, shifting atau peralihan konsumsi yang terjadi adalah konsumen tidak lagi dijaga ketat oleh loyalitas akan suatu merek. Tapi, kebutuhan sudah jadi pertimbangan utama. 

"Pergeseran itu sudah terjadi. Yang tadinya beli shampoo harus merek tertentu, sekarang memilih yang harganya lebih murah. Asal berbusa, bisa bersih. Dan ini sudah berlangsung cukup lama ya, sejak awal tahun ini, sejak akhir tahun lalu," kata Solihin saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026). 


Di sisi lain, dia mengakui, perubahan perilaku konsumen ini tidak mengganggu pertumbuhan omzet ritel modern secara signifikan. Karena, secara volume, konsumsi tetap terjadi. 

"Aprindo itu anggotanya bukan produsen. Hanya perantara antara produsen dan pembeli barang alias pemakai. Ada standar margin. Kalau produsen menaikkan harga ya kita nakin. Seperti saat ini, harga plastik naik, benar berdampak. Itu ke produsen, ujungnya harga barang naik," ujarnya. 

"Kalau ditanya apakah menurunkan omzet, nggak. Karena volumenya kita maksimalkan. Jadi, kalau harga jual di produsen naik, akan terjadi penyesuaian harga di konsumen akhir," katanya. 

Baca: Pengakuan Mengejutkan Pedagang Tanah Abang: Tahun Ini Paling Berat!

Hanya saja, Solihin tidak gamblang membenarkan, volume konsumsi yang terjadi mampu mengompensasi peralihan dari mengutamakan merek menjadi mengutamakan kebutuhan yang berdampak ke memilih barang lebih murah. 

Di sisi lain, sambung dia, saat ini peritel modern mulai siap-siap menghadapi kondisi setelah momen festive alias periode puncak konsumsi, yaitu momen Ramadan-Lebaran 2026. 

 "Kalau ditanya tumbuh, ada pertumbuhan. Tapi ini kan baru selesai festive, Puasa-Lebaran. Ujiannya setelah ini, melewati festive ini. Mei sampai September. Festive selanjutnya baru ada saat Nataru (Natal-Tahun Baru)," katanya. 

"Pertumbuhan ada, berapa persen, itu masing-masing tahun berbeda ya. Tapi kalau kemarin kami harapkan pertumbuhan 10% di momen festive, itu tidak tercapai," kata Solihin. 

Baca: Survei Terbaru: Warga RI Mulai Cemas Soal Ekonomi ke Depan


(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Vidoe: Warga RI Belum "Pede" Tingkatkan Belanja

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tottenham gagal menjauh dari zona degradasi usai ditahan Leeds 1-1
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Pembakar Random di Jaktim Sempat Menyesal tapi Beraksi Lagi di Tempat Lain
• 13 jam laludetik.com
thumb
Gantikan sang Ayah, Adela Kanasya Adies Dilantik Jadi Anggota DPR dari Dapil Jatim I
• 15 jam laluberitajatim.com
thumb
Konflik Jalan Tak Kunjung Usai, DPRD Sulsel Panggil Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah dan Pihak Terkait
• 12 jam laluharianfajar
thumb
MC Lomba Cerdas Cermat Ikut Terseret dalam Polemik Jawaban Siswi Disalahkan Juri, Kini Sampaikan Maaf
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.