MAKASSAR, FAJAR — Ongkos pengiriman (ongkir) barang (logistik) melonjak. Dampaknya, harga-harga naik, ekspedisi menurun.
Kenaikan ongkos logistik nasional di kisaran 20–30 persen memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga barang dan distribusi pasokan di berbagai daerah, khususnya di kawasan luar Pulau Jawa.
Lonjakan tarif ekspedisi disebut efek berantai dari krisis energi global yang menyebabkan biaya operasional transportasi melonjak. Kenaikan tersebut mulai dirasakan di berbagai jalur distribusi.
Pengiriman mobil dari Tanjung Priok ke Kota Makassar misalnya, naik dari sekitar Rp3 juta menjadi Rp3,5 juta.
Sementara tarif pengiriman kontainer 20 feet melonjak dari Rp11 juta menjadi Rp16 juta.
Ini kemudian dirasakan masyarakat, utamanya mereka yang kerap berbelanja daring, meski ada embel-embel gratis ongkos kirim, harga barang dijajakan malah naik dibanding sebelumnya.
Direktur Utama PT Rizkindo Global Logistik atau 2R Cargo, Aswar Ibrahim, mengatakan kenaikan paling signifikan terjadi pada sektor pengiriman laut, khususnya kontainer dan Kapal Roro.
Berbeda dengan angkutan darat yang sebagian masih menggunakan BBM subsidi, sektor kargo laut sepenuhnya menggunakan BBM nonsubsidi sehingga lebih cepat terdampak kenaikan biaya energi.
“Kalau untuk kenaikan sendiri memang yang paling berdampak itu di kontainer dan pengiriman kendaraan, khususnya untuk kapal Roro sama kontainer sih. Kalau yang di darat itu masih aman sejauh ini karena masih pakai BBM subsidi, kan,” ujar Aswar, Senin, 11 Mei 2026.
Kenaikan tarif mulai memengaruhi volume pengiriman sejumlah pelanggan, terutama pada sektor industri plastik, packaging, tekstil, dan otomotif. Sejumlah pelanggan disebut mulai mengurangi frekuensi pengiriman.
Pelanggan beralasan, mereka menanggung kenaikan harga barang sekaligus biaya distribusi yang lebih mahal. Kondisi tersebut mulai berdampak langsung terhadap omzet perusahaan ekspedisi.
Dalam satu bulan terakhir, omzet pengiriman laut di perusahaannya disebut mengalami penurunan sekitar 30 persen dibanding kondisi normal.
Kenaikan harga cukup dirasakan langsung oleh pengusaha logistik dan kargo. Dampaknya mulai terasa pada sejumlah jalur distribusi barang dari dan menuju Makassar.
“Kalau dari volume pengiriman, memang ada beberapa customer kita yang sebulan terakhir ini turun pengirimannya dibanding sebelumnya. Kayak beberapa barang plastik atau packaging. Jadi dari harga barang sudah naik, harga pengiriman juga naik drastis, makanya volume pengirimannya juga turun,” kata Aswar.
Meski demikian, dampak kenaikan tarif belum dirasakan merata di semua sektor usaha. Beberapa pelanggan masih mempertahankan volume pengiriman karena kebutuhan distribusi tetap berjalan, walaupun dengan biaya logistik yang jauh lebih tinggi.
Saat ini, perusahaan ekspedisi berada dalam posisi sulit karena harus menjaga kelangsungan layanan di tengah kenaikan biaya operasional yang terus bergerak naik.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi harga barang di tingkat konsumen apabila ongkos distribusi terus meningkat dalam waktu lama. “Kalau kontainer naik 30 persen, kalau pengiriman kendaraan itu sekitar 20 persen. Jadi antara 20-30 persen kenaikan harga pengirimannya,” tuturnya.
Terpisah, penanggung jawab CV Berdikari Mitra Abadi, Andi Safril, mengungkapkan bahwa perusahaan yang bergerak di sektor ekspedisi jalur laut dan darat itu ikut terdampak akibat kenaikan harga BBM, khususnya Solar. Meskipun, volume barang masih sama, biaya operasional menjadi lebih tinggi.
“Kalau penurunan volume barang yang masuk, alhamdulillah tidak terlalu parah. Cuma untuk pendistribusian memang harganya agak tinggi,” sebut Safril.
Perubahan biaya pengiriman barang via kapal laut sudah terjadi sebanyak tiga kali dalam dua bulan terakhir. Safril menyebut kenaikannya belum signifikan.
“Alhamdulillah masih sama (volume barang, red). Mau tidak mau orang pasti tetap mengirim barang karena tidak ada alternatif lain. Kalau pakai kontainer malah lebih mahal lagi,” bebernya.
Pengusaha ekspedisi laut berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Apalagi, jika biaya pengiriman berpotensi akan terus meningkat akibat biaya operasional dan BBM terus bertambah.
“Kalau bisa harga BBM diturunkan lagi, supaya biaya distribusi kapal maupun distribusi darat bisa kembali normal, sehingga kami juga bisa memberikan harga yang lebih baik kepada pelanggan,” tandas Safril.
Main Siasat
Alam Anjar, warga Sungguminasa, Gowa, mengeluhkan kenaikan ongkir belanja daring. Beberapa waktu lalu membeli susu whey protein di salah satu toko daring dengan harga Rp500 ribu.
Saat ingin membeli kembali, kendati promo gratis ongkir masih ada, harganya melonjak hingga di atas Rp700 ribu.
Menurutnya ini hanya akal-akalan dari pihak toko daring untuk menyiasati harga ongkir.
“Mungkin dia buat begitu, seolah gratis, tapi kalau naik harganya, ya, sama saja,” tutur Alam Anjar.
Hal senada disampaikan Humairah, warga Ulaweng Kabupaten Bone. Biasanya, saat memesan daring dan diantar ke rumahnya di kampung, acap kali harus terkena biaya ongkir.
“Biasa kena 30-50 ribu untuk pengiriman reguler, sekarang sudah di atas itu. Ada opsi kargo, tapi hampir sebulan baru sampai,” jelasnya.
Dia lebih memilih mengirim paketnya ke Kota Watampone di rumah sanak keluarganya, karena lebih banyak mendapatkan kesempatan gratis ongkos kirim.
“Mahal. Jadi kalau mau murah harus pilih paket hemat itupun, lama sampai yang kargo. Biasa dua minggu kadang hampir sebulan. Itupun kadang rusakmi bungkusan luarnya baru sampai,” jelasnya.
“Untuk di Bone kota saja (Tanete Riattang) paket hematnya Rp0 rupiah alias gratis ongkir, tapi konsekuensinya paket lama datang, kadang lewat dua minggu. Jadi harus sabar menunggu. Pernah juga tidak sampai atau rusak barangnya baru datang,” terangnya.
(an-uca/zuk)





