Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan terdalam sepanjang sejarah setelah menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga dipengaruhi sentimen domestik yang membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah.
Mengacu data Bloomberg dan Refinitiv, rupiah sempat diperdagangkan di level Rp17.512 per dolar AS pada perdagangan siang hari. Angka tersebut melemah sekitar 0,56 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sejak awal April 2026, saat mata uang RI pertama kali menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Secara year to date, pelemahan rupiah kini telah mencapai sekitar 5 persen.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu UtamaTekanan terbesar terhadap rupiah datang dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara AS dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar global.
Pengamat ekonomi dan mata uang dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan konflik tersebut membuat investor global memilih dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Kondisi itu menyebabkan indeks dolar AS (DXY) kembali menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Pasar juga menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan keberlanjutan gencatan senjata dengan Iran. Selain itu, muncul laporan mengenai kemungkinan pembahasan operasi militer baru serta pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak terbesar dunia. Ketegangan di kawasan itu langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global.
Harga minyak Brent tercatat naik hingga US$105,2 per barel, sedangkan minyak WTI menembus US$99 per barel. Kenaikan harga energi ini memberikan tekanan tambahan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dan membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk transaksi impor.
Penguatan Dolar AS Menekan Mata Uang Emerging MarketMenguatnya dolar AS membuat mata uang negara berkembang semakin tertekan. Investor global cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.




