Kisah Tuty Daulay (20) menggambarkan pilunya perjuangan warga desa tertinggal di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Tuty ditandu belasan warga selama enam jam melewati jalan setapak yang tak pernah dibangun agar bisa melahirkan anak pertamanya di rumah sakit. Namun, tiba di rumah sakit, bayinya justru meninggal.
“Kami menandu Tuty menggunakan sarung, bambu, dan keranjang. Setelah enam jam berjalan kaki, baru tiba di rumah sakit. Namun, bayinya tak bisa diselamatkan,” kata Samsul Bahri Sihombing, mantri desa yang mendampingi Tuty, Selasa (12/5/2026).
Tuty adalah warga Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Dia tinggal bersama suaminya di Dusun Aek Nabara, dusun terpencil yang dihuni 24 keluarga. Dua dusun lainnya di desa itu sama terpencilnya.
Di desa itu tidak ada jaringan listrik atau fasilitas kesehatan. Di sana hanya ada satu sekolah SD dengan 12 murid. Desa itu hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
Desa Dalihan Na Tolu terpaut sekitar 15 kilometer dari desa terdekat yang bisa diakses mobil. Dari desa terdekat itu, butuh 15 km lagi agar bisa sampai ke Rumah Sakit Umum Daerah Sipirok, Tapanuli Selatan.
Saat musim kemarau, Desa Dalihan Na Tolu bisa ditempuh dengan sepeda motor yang dimodifikasi. Warga biasanya melilitkan rantai besi di ban sepeda motor. Mereka juga harus mengganti gir untuk mendapat rasio transmisi yang lebih rendah dari gigi 1 motor standar.
Di tengah kondisi desa terisolasi itu, Tuty membangun rumah tangga bersama suaminya. Mereka hidup sederhana dari hasil sawah, kopi, dan membuat gula merah dari aren.
Tuty seharusnya melahirkan anak pertamanya pada awal Mei ini. Namun, Tuty sakit dan anaknya tak kunjung lahir. Seorang sanak saudara diutus untuk memanggil mantri dari desa lain yang biasa mengobati mereka, yakni Samsul.
Samsul yang tinggal di desa tetangga, yakni Desa Panaungan, Kecamatan Sipirok, mendapat informasi itu pada Jumat (8/5/2026) pagi. Dia langsung pergi ke apotek untuk membeli obat yang dibutuhkan. Dia sudah bergegas sejak pukul 08.00 WIB.
Dari apotek, Samsul mencoba mengendarai sepeda motor melewati jalan setapak sepanjang 15 km menuju Desa Dalihan Na Tolu. Dia berangkat bersama sanak saudara Tuty yang mengabarinya.
Namun, hujan turun. Beberapa kali sepeda motornya terpeleset karena jalan berlumpur. Mereka akhirnya meninggalkan sepeda motor itu di tengah jalan.
“Kami berjalan kaki ke Dusun Aek Nabara menembus hujan. Kami mengenakan mantel yang selalu disiapkan setiap kali pergi ke Aek Nabara,” kata Samsul.
Samsul pun tiba di desa pukul 20.00 WIB. Keadaan di desa sudah gelap gulita. Desa itu belum dialiri listrik. Mereka menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan.
Samsul lantas memeriksa keadaan Tuty yang sudah terbaring lemas. Samsul hanya bisa memeriksa dengan alat medis terbatas, yakni pengukur tekanan darah dan stetoskop.
Samsul pun meminta agar Tuty segera dibawa ke rumah sakit. Samsul khawatir pada keselamatan Tuty dan bayinya. Namun, hari sudah gelap dan hujan turun. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit besok paginya.
Mereka menyiapkan sarung, keranjang rotan, dan satu batang bambu. Belasan orang warga berangkat ke kota menandu Tuty pada Sabtu (9/5/2026) pukul 09.00 WIB.
Kepada Kompas, Samsul membagikan video perjalanan warga dari desa hingga ke rumah sakit. Mereka beberapa kali berhenti untuk beristirahat.
Mereka makan siang dengan nasi, ikan asin, dan cabai merah bulat. Setelah berjalan kaki 15 km, mereka akhirnya tiba di desa yang sudah bisa diakses mobil berpenggerak roda empat di Kecamatan Sipirok.
Tuty dibawa dengan mobil berpenggerak empat roda menempuh 15 km lagi hingga tiba di rumah sakit di Kecamatan Sipirok pada pukul 15.00.
Setelah diperiksa di rumah sakit, dokter menyatakan bayi Tuty yang berada di dalam kandungan telah meninggal. Tuty menangis mendengar kabar dari dokter itu. Tuty pun menjalani operasi untuk mengangkat bayinya.
“Tuty akhirnya selamat, tetapi bayinya tidak tertolong,” kata Samsul.
Samsul mengatakan, kisah Tuty hanya satu dari banyak kisah warga desa terisolasi di Tapanuli Selatan. Mereka sudah hidup turun-temurun di desa terisolasi tersebut. Namun, jalan menuju desa-desa terisolasi itu tak pernah diperbaiki.
Di Desa Dalihan Na Tolu, kata Samsul, semua warganya adalah petani. Mereka bertanam sawah, kopi, dan aren. Namun belakangan, hasil kopi dari desa itu juga menurun karena tanaman yang sudah menua.
Setiap hari Kamis, warga desa berjalan kaki memikul hasil bumi ke ibu kota. Jika tidak menandu orang sakit, mereka bisa menempuh perjalanan itu selama empat jam sekali jalan. Dari kota, warga desa pulang membawa keperluan rumah tangga seperti garam, gula, dan ikan asin.
Setelah video perjalanan itu beredar di media sosial, kata Samsul, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu telah menghubungi warga desa dan berjanji akan datang ke sana. Kompas mencoba menghubungi Gus Irawan meminta wawancara terkait penanganan desa terisolasi itu, tetapi belum direspons.
Antropolog dan pegiat hak asasi manusia dari Universitas Sumatera Utara Wina Khairina mengatakan, apa yang terjadi kepada Tuty adalah puncak gunung es persoalan ketimpangan pembangunan di Sumut dan di Indonesia secara keseluruhan.
"Kita enggak bisa bayangkan hari ini di tahun 2026 masih ada perempuan yang harus ditandu enam jam untuk melahirkan dan akhirnya anaknya meninggal. Ini tamparan buat Indonesia," kata Wina.
Wina menyebut, perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan dari ketimpangan pembangunan. Pemerintah harus menyusun ulang rencana pembangunan di desa-desa tertinggal.
Persoalan penanganan desa tertinggal sebelumnya sudah diingatkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Sumut 2026 di Medan, Rabu (22/4/2026). Musrenbang itu dihadiri Gubernur Sumut, para wali kota, dan bupati se-Sumut, termasuk Gus Irawan.
Tito memaparkan sejumlah data tentang Tapanuli Selatan seperti gini ratio, tingkat kemiskinan, harapan lama sekolah, indeks pembangunan manusia, dan lain sebagainya. Menurut Tito, data itu menunjukkan fasilitas kesehatan yang kurang, masyarakatnya kemungkinan kurang gizi, dan ada yang stunting.
Di sekitar Kantor Bupati Tapanuli Selatan, kata Tito, pembangunan di Tapanuli Selatan mungkin terlihat bagus. “Tapi kalau masuk ke dalam-dalam, tingkat kemiskinannya masih cukup tinggi. Pak Gus Irawan harus kerja keras. Kepala dinas kesehatannya jangan dibuat menganggur,” kata Tito.





