PALEMBANG, KOMPAS - Delapan jari tangan Jumiatun (35), salah satu korban selamat dalam kecelakaan bus Antar Lintas Sumatera atau ALS dan truk tangki minyak di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, terancam diamputasi. Tim medis masih berupaya menyelamatkan jari tangan korban yang mengalami kerusakan parah akibat luka bakar serius.
Jumiatun merupakan penumpang bus asal Pati, Jawa Tengah. Ia menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan yang terjadi pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat ini, ia masih menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Mohamad Hasan, Palembang.
Kepala RS Bhayangkara Palembang Komisaris Besar Budi Susanto mengatakan, jari telunjuk hingga kelingking di kedua tangan Jumiatun mengalami luka bakar serius. Luka itu menyebabkan jaringan pembuluh darah dan tulangnya rusak.
“Melalui pemantauan tim dokter bedah vaskular, kami masih berupaya maksimal mempertahankan jari tangannya. Amputasi menjadi pilihan terakhir jika kondisinya terus memburuk atau fungsi pembuluh darahnya tidak bisa diselamatkan,” ujar Budi saat dihubungi dari Palembang, Selasa (12/5/2026).
Budi mengatakan, Jumiatun dan penumpang selamat lainnya, Ngadiono (44), telah menjalani operasi kedua di RS Bhayangkara Palembang pada Senin (11/5/2026) pagi. Keduanya merupakan penumpang bus asal Pati.
Dalam operasi itu, tim medis mengangkat jaringan tubuh yang mati atau rusak. Tim medis juga membersihkan kotoran dan sisa benda hangus yang menempel pada tubuh kedua pasien.
Secara umum, kondisi Jumiatun yang mengalami luka bakar sekitar 90 persen mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan sebelum operasi kedua. Namun, ia masih membutuhkan pemantauan serius dan perawatan intensif di ruang ICU.
Salah satu penyebabnya, Jumiatun masih harus menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator. Alat itu dibutuhkan karena ia mengalami trauma inhalasi, yakni gangguan akibat menghirup asap, udara panas, atau zat berbahaya saat kebakaran.
Selain itu, jaringan pembuluh darah dan tulang pada sebagian besar jari kedua tangannya mengalami kerusakan serius. Kondisi itu membuat tim medis harus terus memantau aliran darah dan perkembangan jaringan pada bagian tubuh tersebut.
Jika aliran darah pada jaringan itu masih cukup baik, tim medis akan berupaya mempertahankan jari tangan Jumiatun. Namun, jika aliran darah tidak lagi memadai dan jaringan tidak bisa diselamatkan, amputasi menjadi pilihan terakhir.
“Dalam kasus pasien luka bakar, yang kami khawatirkan adalah kerusakan bagian dalam tubuh, seperti tendon, otot, saraf, dan pembuluh darah. Kalau tidak dirawat atau ditangani dengan baik, itu bisa berakibat fatal bagi pasien. Amputasi menjadi salah satu cara terakhir untuk menyelamatkan pasien,” kata Budi.
Menurut Budi, luka bakar di permukaan tubuh Jumiatun memang luas. Namun, penanganannya relatif lebih memungkinkan dibandingkan luka bakar yang telah merusak jaringan tubuh bagian dalam. “Karena luka bakar di permukaan tubuhnya luas, proses perawatan Jumiatun akan lebih lama,” ujarnya.
Kondisi Ngadiono, kata Budi, jauh lebih baik. Operasi kedua berhasil mengurangi dampak luka bakarnya hingga sekitar 20 persen. Saat ini, luka bakar pada tubuh Ngadiono tersisa sekitar 30 persen.
Ngadiono juga semakin stabil dan akan segera dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan bedah. Ia bahkan sudah bisa makan dan minum. “Ngadiono terus menunjukkan perbaikan. Bahkan, dia sudah bisa makan dan minum. Jadi, dia akan dipindahkan ke ruang perawatan bedah,” tutur Budi.
Jumiatun dan Ngadiono merupakan bagian dari korban yang selamat dalam kecelakaan bus ALS dan truk tangki minyak di Muratara. Selain mereka, korban selamat lainnya adalah kernet bus ALS, M Fadli bin Ibrahim (30), asal Riau.
Fadli mengalami luka ringan di tangan dan kaki. Setelah mendapat perawatan, ia dimintai keterangan sebagai saksi kunci untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Hingga kini, Fadli masih menjalani pemeriksaan oleh kepolisian di Muratara.
Satu korban lain yang semula selamat adalah penumpang bus ALS asal Tegal, Jawa Tengah, Muhammad Fahrul Hubaidi (31). Namun, Fahrul meninggal setelah menjalani perawatan intensif dan operasi di RSUD Rupit, Muratara, Jumat (8/5/2026) sekitar pukul 11.55 WIB.
Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Trisnawarman menyebutkan, Fahrul meninggal karena gagal napas yang dipicu luka bakar sekitar 90 persen.
Jenazah Fahrul telah dibawa pulang melalui jalur darat dari RSUD Rupit ke rumah duka di Tegal pada Jumat sekitar pukul 19.00 WIB. Dengan meninggalnya Fahrul, jumlah korban tewas akibat kecelakaan bus ALS dan truk tangki minyak menjadi 18 orang. Sebanyak 17 korban lain tewas di lokasi kejadian.
Budi mengatakan, hasil tes DNA terhadap 17 korban yang tewas di lokasi kejadian diperkirakan keluar pada Rabu (13/5/2026). Tes DNA diperlukan karena kondisi jenazah korban rusak parah akibat hangus terbakar.
“Saat ini, sampel DNA para korban dan keluarga masih dalam proses pencocokan di Laboratorium DNA Pusdokkes Mabes Polri di Jakarta. Hasil pencocokan itu diperkirakan keluar paling cepat pada Rabu. Kami akan segera memberikan informasi kalau hasilnya sudah keluar,” ucap Budi.
Menurut Budi, pengambilan sampel DNA dari para korban telah selesai dan dikirim ke Jakarta sejak Sabtu (9/5/2026). Sementara itu, pengambilan sampel DNA keluarga selesai pada Minggu (10/5/2026).
Pengambilan sampel keluarga dilakukan dengan sistem jemput bola ke sejumlah provinsi. Di antaranya satu keluarga di Aceh, tiga keluarga di Sumatera Utara, dan empat keluarga di Jawa Tengah.
Para keluarga tersebut tidak sempat datang ke posko ante mortem di RS Bhayangkara Palembang. Menurut Budi, hasil tes DNA paling cepat bisa keluar lima hari setelah sampel diterima Laboratorium DNA Pusdokkes Mabes Polri. Adapun batas paling lama ditargetkan 14 hari.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Mabes Polri Komisaris Besar Wahyu Hidayati mengatakan, sejauh ini belum satu pun dari 17 jenazah korban yang tewas di lokasi kejadian dapat diidentifikasi. Kondisi seluruh jenazah rusak parah sehingga identifikasi visual tidak bisa dilakukan.
“Itu menyebabkan identifikasi dengan pencocokan data ante mortem secara visual tidak bisa dilakukan,” katanya.
Wahyu menjelaskan, tim DVI telah menerima banyak data dari keluarga korban. Data itu meliputi ciri fisik, seperti letak tahi lalat dan tato, hingga benda yang diduga digunakan korban saat kecelakaan, seperti cincin, kalung, jam tangan, dompet, baju, jaket, dan celana.
Namun, sebagian besar data itu tidak dapat dicocokkan dengan jenazah. Hampir semua benda hangus terbakar. Sebagian barang yang tersisa, seperti kalung, jam tangan, dompet, dan potongan pakaian, juga tidak lagi melekat langsung pada tubuh korban.
Benda-benda itu ditemukan berserakan di sekitar korban. Karena itu, barang-barang tersebut tidak dapat dijadikan dasar identifikasi langsung.
“Kondisi itu membuat kami tidak bisa menjadikan benda-benda yang ditemukan sebagai data untuk mengidentifikasi langsung korban,” tutur Wahyu.
Menurut Wahyu, identifikasi seluruh jenazah akhirnya harus dilakukan melalui uji DNA. Tim DVI telah mengumpulkan sampel DNA dari keluarga inti korban. Sampel dari keluarga antara lain berupa cairan liur dan darah.
Sementara itu, sampel DNA dari jenazah sebagian besar diambil dari tulang yang belum hangus terbakar. Sebagian kecil lainnya diambil dari jaringan lunak, seperti otot.
“Hampir seluruh bagian tubuh jenazah sudah rusak karena hangus terbakar, termasuk gigi yang sangat membantu dalam proses identifikasi. Praktis, hanya tulang jenazah yang masih bisa digunakan sebagai sampel untuk tes DNA. Sisanya, masih ada yang memungkinkan diambil dari jaringan lunak,” ujar Wahyu.





