FAJAR, MAKASSAR – Sekolah Islam Athirah benar-benar menjadi tempat aman bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Mereka memberi ruang kepada PDBK untuk terus berkembang. Salah satunya, melalui pentas inklusi. Event ini menjadi panggung bagi PDBK untuk mengekspresikan bakat dan potensi mereka masing-masing.
Kasi Pendidikan Inklusi Sekolah Islam Athirah, Andi Opu menyampaikan, Pentas Inklusi ini merupakan salah satu program unggulan dari Seksi Inklusi Sekolah Islam Athirah. Kata dia, ada 61 PDBK yang ambil bagian dalam event ini dengan menampilkan berbagai pertunjukan.
“Pesertanya ini dari seluruh unit di Sekolah Islam Athirah. Jadi ada yang dari wilayah Kajaolalido, Bukit Baruga, dan Bone. Tapi sebenarnya yang di Bone itu dengan versi mereka, ada mengirimkan video kegiatannya, karena memang agak terbatas mobilisasinya ke Makassar,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Lebih lanjut dia menyampaikan, goals yang menjadi target mereka adalah memperlihatkan kepada semuda orang bahwa semua anak sama saja. PDBK juga memiliki kemampuan dan keunggulan seperti anak-anak pada umumnya.
Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) Sekolah Islam Athirah menampilkan berbagai pertunjukan lewat pentas inklusi, Selasa, 12 Mei 2026.“Goals-nya kami ingin memperlihatkan kepada seluruh warga, terutama dunia luar, bahwa PDBK punya kemampuan. Mereka adalah bintang, bisa bersinar dengan sinarnya masing-masing. kami ingin menunjukkan semua anak itu sama, tidak boleh dibeda-bedakan, termasuk dengan PDBK,” lanjutnya.
Kata Andi Opu, hal itu terlihat jelas ketika anak-anak menunjukkan penampilannya. Dengan dukungan semua pihak, mereka bisa percaya diri dan tampil maksimal memperlihatkan kemampuannya masing-masing.
“Seperti yang terlihat tadi, dengan keistimewaannya, mereka memperlihatkan kebanggaan dengan percaya diri menampilkan kemampuannya. Yang menarik tahun ini, karena kolaborasi dari siswa reguler. Jadi banyak teman-temannya yang antusias untuk membantu, seperti menari, waktu pementasan film Naila, pantomim, dan sebagainya,” ungkapnya.
Selain menampilkan pertunjukan masing-masing, para peserta juga diberi ruang untuk melelang hasil karya mereka. Mulai dari kerajinan tangan, lukisan, dan berbagai karya lainnya.
“Iya, ada lelang karya yang dibuat langsung oleh PDBK. Mereka menyiapkan sendiri bahannya, kemudian didampingi oleh Guru Pembimbing Khusus (GPK) masing-masing,” ungkapnya.
Salah satu orang tua siswa, Andi Sani Silwanah mengaku, perjalanan menemukan Athirah butuh proses panjang. Kata dia, semua bermula ketika anaknya berusia tiga tahun. Saat itu, anaknya sudah terdeteksi memiliki keistimewaan dibanding anak-anak pada umumnya.
Namun begitu, dia enggan mengakui bahwa anaknya berbeda. Akhirnya dia menyekolahkan anaknya di TK umum. Namun begitu, anaknya semakin memperlihatkan kelainan, kerap bermain di luar dan luput dari pengawasan.
Pada akhirnya dia memutuskan mencari sekolah yang inklusi dan bertemu dengan Sekolah Islam Athirah. Putranya disekolahkan di sana dan mengalami perkembangan yang signifikan.
”Setelah saya menemukan Athirah, saya tahu betul bahwa anak saya ada di ruang aman. Ini penting, karena ketika anak-anak sudah aman, maka mereka juga pasti merasa nyaman,” terangnya.
Selain itu, dia mengaku putranya mengalami perkembangan signifikan. Sebab, di Athirah para pendidik mengerti betul apa yang menjadi dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
”Pada saat anak saya masuk di sini, dia belum bisa baca dan tulis, bahkan bicara dengan baik. Namun sekarang, lewat pentas inklusi ini, anak saya sudah bisa tampil membacakan puisi,” terangnya. (wid)





