Situasi Makin Gila! Drone Iran Bakar Kapal di Qatar, Trump Siap Rebut Uranium Iran

erabaru.net
15 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam setelah Teheran secara resmi menyampaikan proposal terbaru terkait perundingan nuklir melalui mediator Pakistan pada Minggu pagi, 10 Mei 2026. Namun proposal tersebut langsung memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena Iran disebut tetap menolak membongkar fasilitas nuklirnya.

Situasi yang sebelumnya sudah panas akibat blokade laut dan ancaman militer di Selat Hormuz kini semakin memburuk setelah serangkaian serangan drone menghantam kapal dagang Amerika serta wilayah beberapa negara Teluk. Pada saat yang sama, laporan baru juga mengungkap dugaan tindakan ekstrem Iran yang membuang jutaan barel minyak mentah ke Teluk Persia akibat krisis penyimpanan energi yang semakin parah.

Iran Ajukan Proposal Baru, tetapi Tolak Bongkar Fasilitas Nuklir

Menurut laporan media resmi Iran pada 10 Mei 2026, pemerintah Teheran melalui jalur mediasi Pakistan telah mengirimkan proposal terbaru kepada Washington terkait konflik dan negosiasi nuklir yang terus berlangsung.

Namun, berdasarkan laporan The Washington Post yang mengutip sumber internal pemerintahan, proposal tersebut justru menolak tuntutan utama Amerika Serikat dan Israel, yakni pembongkaran fasilitas pengayaan uranium Iran.

Tak lama setelah laporan itu dipublikasikan, Presiden Donald Trump langsung memberikan reaksi keras melalui platform media sosial Truth Social.

Trump menulis bahwa dirinya “sangat tidak puas” dengan respons yang diberikan Iran.

Ia menyebut proposal tersebut sama sekali tidak dapat diterima dan menuduh Iran selama puluhan tahun telah mempermainkan Amerika Serikat maupun negara-negara lain.

Dalam unggahannya, Trump mengatakan bahwa Iran selama 47 tahun terus membuat Amerika menunggu, menyerang kepentingan AS melalui perang proksi, menindas demonstran dalam negeri, hingga mengeksekusi puluhan ribu warga sipil yang disebutnya tidak bersalah.

Trump menegaskan bahwa era ketika Iran dapat “tertawa” atas Amerika kini telah berakhir.

Trump Ancam Rebut Seluruh Uranium Iran

Pada hari yang sama, Trump kembali memperkeras sikapnya terhadap program nuklir Iran.

Dalam wawancara program televisi Full Measure with Sharyl Attkisson yang dikutip New York Post, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan menguasai seluruh sisa uranium yang diperkaya milik Iran beserta material nuklir lainnya.

Ia menegaskan bahwa pengawasan terhadap fasilitas nuklir Iran kini dilakukan tanpa henti selama 24 jam penuh.

Trump mengatakan bahwa Pasukan Antariksa Amerika Serikat saat ini memainkan peran utama dalam operasi pengawasan tersebut.

Menurutnya, teknologi pengawasan Amerika mampu mengidentifikasi siapa pun yang memasuki fasilitas nuklir Iran, termasuk nama, alamat, hingga identitas pribadi mereka.

Trump kemudian melontarkan ancaman terbuka dengan mengatakan bahwa siapa pun yang mendekati fasilitas tersebut akan diketahui dan dapat dihancurkan sewaktu-waktu.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington kini tidak hanya mengandalkan tekanan diplomatik, tetapi juga mulai menampilkan kemampuan pengawasan dan serangan presisi sebagai bentuk intimidasi strategis terhadap Teheran.

Netanyahu: Perang Tidak Akan Berakhir Sebelum Uranium Iran Dipindahkan

Di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran.

Menurut laporan South China Morning Post, dalam wawancara CBS yang ditayangkan pada malam 10 Mei 2026, Netanyahu menegaskan bahwa perang tidak akan benar-benar selesai selama Iran masih menyimpan uranium yang diperkaya dan tetap mempertahankan fasilitas pengayaan nuklirnya.

Ia menuntut agar seluruh material nuklir Iran dipindahkan keluar negeri serta fasilitas pengayaan uranium dibongkar sepenuhnya.

Pernyataan Netanyahu menunjukkan bahwa Israel tetap mempertahankan garis keras terhadap program nuklir Iran dan kemungkinan besar akan terus mendukung tekanan militer maupun diplomatik terhadap Teheran.

Drone Iran Serang Kapal Dagang Amerika di Teluk Persia

Ketegangan semakin memburuk setelah muncul laporan mengenai serangan drone Iran terhadap kapal dagang Amerika Serikat.

Menurut laporan Fox News, Ketua Grup Anhai Amerika, SV Anchang, menyatakan bahwa pada 10 Mei dua drone Iran menyerang kapal dagang Amerika bernama Niha di kawasan Teluk Persia.

Saat serangan terjadi, kapal tersebut sedang berlabuh dalam kondisi kosong di dekat Doha, Qatar.

Sebanyak 23 awak kapal berada di atas kapal ketika serangan berlangsung, tetapi tidak ada korban jiwa maupun luka-luka yang dilaporkan.

Insiden ini menjadi salah satu serangan langsung terbaru terhadap kepentingan maritim Amerika sejak konflik di kawasan Teluk kembali meningkat beberapa minggu terakhir.

Qatar, UEA, dan Kuwait Jadi Sasaran Drone dan Rudal

Tidak hanya menyerang kapal dagang Amerika, Iran juga dituduh melancarkan serangan terhadap beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Pada Minggu dini hari, 10 Mei 2026, Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi bahwa sebuah kapal kargo di wilayah perairannya diserang drone hingga terbakar.

Kapal tersebut diketahui berangkat dari Abu Dhabi dan diserang di wilayah timur laut Pelabuhan Mesaieed, Qatar.

Serangan menyebabkan kebakaran kecil di atas kapal, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Militer Qatar menyatakan investigasi mendalam sedang dilakukan untuk memastikan asal drone serta motif penyerangan tersebut.

Sementara itu, militer Uni Emirat Arab mengumumkan berhasil menembak jatuh dua drone Iran yang memasuki wilayah udaranya.

Kuwait juga menyatakan berhasil menghancurkan beberapa drone musuh pada Minggu dini hari.

Rangkaian insiden ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi mulai meluas ke negara-negara Teluk lainnya.

CENTCOM: AS Terus Perketat Blokade Laut Iran

Sebelumnya, pada Sabtu, 9 Mei 2026, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa sejak dimulainya blokade laut pada 13 April 2026, militer AS telah berhasil mengalihkan jalur 58 kapal dagang dan melumpuhkan empat kapal yang mencoba menerobos blokade.

Militer Amerika menegaskan bahwa operasi blokade terhadap Iran akan terus dilanjutkan.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington tetap berkomitmen memperketat tekanan ekonomi dan logistik terhadap Teheran.

Trump sebelumnya juga pernah menyatakan di Gedung Putih bahwa apabila negosiasi tidak menunjukkan perkembangan berarti, Amerika Serikat siap kembali menjalankan program pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz bahkan memperluas operasi militer untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Iran Diduga Buang Jutaan Barel Minyak ke Laut

Di tengah tekanan ekonomi dan militer yang terus meningkat, Iran kini menghadapi masalah baru di sektor energi.

Menurut laporan Fox News, citra satelit terbaru menunjukkan adanya tumpahan minyak dalam jumlah sangat besar di dekat Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran.

Laporan itu menyebut kapasitas penyimpanan minyak Iran saat ini sudah hampir penuh akibat hambatan ekspor dan blokade internasional.

Masyarakat Iran juga disebut mulai melakukan penyelundupan minyak secara besar-besaran, tetapi upaya tersebut tidak cukup untuk mengatasi penumpukan produksi minyak mentah.

Beberapa laporan bahkan menyebut Iran diduga sengaja membuang sebagian minyak produksinya langsung ke laut dengan menyamarkan aktivitas tersebut sebagai transfer minyak antar kapal tanker.

Tuduhan “Kejahatan Lingkungan” terhadap Iran

Tindakan tersebut langsung menuai kecaman keras dari berbagai pihak.

Pendiri perusahaan teknologi AI sekaligus CEO bernama Martin menyebut tindakan Iran sebagai bentuk “kejahatan lingkungan”.

Ia mengatakan bahwa pembuangan minyak secara sengaja ke laut merupakan bentuk perusakan ekologi besar-besaran yang sedang berlangsung.

Komentator Fox News, Jesse Watters, juga menggambarkan situasi Iran sebagai kondisi yang sudah sangat terdesak.

Ia menyatakan bahwa serangan udara kini menerangi garis pantai Iran sementara minyak terus tumpah ke seluruh kawasan selat.

Menurutnya, Presiden Trump kemungkinan besar tidak akan tinggal diam menghadapi perkembangan tersebut.

Timur Tengah Semakin Dekat ke Titik Ledakan Besar

Dengan negosiasi nuklir yang kembali menemui jalan buntu, ancaman militer Amerika yang semakin terbuka, serangan drone lintas negara, serta krisis energi yang menghantam Iran, situasi Timur Tengah kini dinilai memasuki salah satu fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.

Selat Hormuz sebagai jalur energi paling vital dunia kembali berada di ambang konflik besar yang dapat memicu dampak global, mulai dari lonjakan harga minyak hingga potensi konfrontasi militer berskala lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
11.000 Penerima Bansos Dicoret Permanen, Ada Transaksi Mencurigakan
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
12 Pemerintah Provinsi Kumpul di Jateng, Bahas Kerja Sama Majukan Daerah
• 20 jam laludetik.com
thumb
Dishub Jatim Targetkan Tutup Permanen 100 Titik Perlintasan Sebidang Berdimensi Sempit
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Maaf Wakil Ketua MPR Atas Kelalaian Juri dalam Lomba Cerdas Cermat di Kalbar
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Siapkan Kreator Pertanian Hebat, Polbangtan Kementan Gelar Workshop Digitalisasi Konten Pertanian Berbasis AI
• 18 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.