Bisnis.com, JAKARTA — PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) memperkuat ekspansi bisnis properti dan hospitality di tengah tantangan daya beli masyarakat serta dinamika industri ritel. Perseroan optimistis konsep lifestyle mall dan hotel premium masih memiliki pasar yang kuat di Indonesia.
Direktur Keuangan INPP Surina mengungkapkan, hingga 2026 Paradise Indonesia telah memiliki sebanyak 26 portofolio proyek di berbagai kota besar. Portofolio tersebut terdiri dari enam pusat perbelanjaan yang akan bertambah menjadi tujuh mal bulan depan, 13 hotel, serta enam proyek property sales.
Salah satu proyek yang dijadwalkan mulai dibuka pada 23 Mei 2026 adalah 23 Semarang Shopping Mall.
Perseroan juga mengaku tetap optimistis terhadap daya beli masyarakat. Menurut Surina, konsep pusat perbelanjaan saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat belanja, melainkan destinasi hiburan dan leisure experience.
“Jadi memperbesar porsi tenant food and beverage untuk menarik trafik pengunjung. Leisure mall dan destination. Jadi bukan sekadar tempat belanja, tapi tempat orang datang untuk menikmati pengalaman,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Strategi tersebut dinilai efektif menjaga tingkat kunjungan mal di tengah tekanan ekonomi. Surina mengungkapkan tingkat okupansi tenant untuk proyek tersebut sudah mencapai 80% bahkan sebelum resmi beroperasi.
Menariknya, sebagian tenant telah melakukan pemesanan ruang sejak dua hingga tiga tahun lalu. Perseroan menargetkan hingga Desember nanti okupansinya bisa mencapai 90%-95%.
Selama kuartal I/2026 INPP membukukan pendapatan Rp326,90 miliar, di antaranya Rp157 miliar dari segmen komersial, Rp136 miliar dari hospitality, serta Rp34 miliar dari penjualan properti.
Perusahaan juga mencatat laba bersih sebesar Rp44,07 miliar pada kuartal I/2026, dari sebelumnya rugi bersih Rp132,87 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, EBITDA Paradise Property tercatat mencapai Rp101 miliar atau naik sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Presiden Direktur sekaligus CEO INPP Anthony Prabowo Susilo menilai strategi pengembangan bertahap penting karena industri properti sangat bergantung pada keseimbangan antara modal dan penguasaan lahan.
Anthony juga menegaskan pusat perbelanjaan besar tetap memiliki pasar tersendiri dalam jangka panjang. Menurutnya, di setiap kota besar biasanya hanya ada tiga hingga empat mal utama yang benar-benar dominan.
Oleh karena itu, pihaknya tetap percaya diri mengembangkan proyek mal bahkan di tengah pandemi maupun perlambatan ekonomi.
Untuk sektor hotel, Anthony mengakui segmen hotel bintang tiga ke bawah menjadi yang paling terdampak perlambatan pasar. Namun, hotel premium milik perseroan justru masih mencatatkan performa kuat.
“Hotel Hyatt kami malah mencatatkan kinerja tertinggi. Dari 13 hotel, hanya dua yang bintang tiga, jadi kami relatif tidak terlalu terdampak,” katanya.





