Planet tersebut diberi nama L 98-59 d dan mengorbit sebuah bintang kecil berwarna merah yang berjarak sekitar 35 tahun cahaya dari Bumi. Ukurannya sekitar 1,6 kali lebih besar dari Bumi, tetapi bobotnya jauh lebih ringan dari yang seharusnya dan atmosfernya mengandung gas hidrogen sulfida dalam jumlah yang cukup besar.
Selama ini, para ilmuwan hanya mengenal dua jenis planet kecil, yaitu planet berbatu beratmosfer tipis atau planet yang dipenuhi air dan es. Namun L 98-59 d ternyata tidak masuk ke dalam kategori mana pun, sehingga para peneliti menyimpulkan bahwa planet ini merupakan jenis yang benar-benar baru.
“Penemuan ini menunjukkan kategori yang selama ini digunakan para astronom untuk mendeskripsikan planet-planet kecil mungkin terlalu sederhana. Meskipun planet yang meleleh ini kecil kemungkinannya mendukung kehidupan, ia mencerminkan betapa beragamnya dunia yang ada di luar Tata Surya,” ujar Peneliti utama, Harrison Nicholls, dikutip dari laman ox.ac.uk, Selasa, 12 Mei 2026.
Temuan ini membuka mata banyak pihak bahwa keragaman planet di galaksi kita jauh lebih luas dari yang pernah dibayangkan. Nicholls melontarkan pertanyaan yang kini menggugah rasa ingin tahu para ilmuwan di seluruh dunia mengenai jenis planet apa lagi yang masih menunggu untuk ditemukan.
Baca Juga :
OMG! 2 Planet Bertabrakan Tertangkap Kamera, Jaraknya 11.000 Tahun CahayaLautan magma inilah yang membuat planet mampu menyimpan belerang dalam jumlah sangat besar di dalam perutnya selama miliaran tahun. Selain itu, lautan magma tersebut juga membantu planet mempertahankan atmosfernya agar tidak tersapu habis oleh radiasi yang dipancarkan bintang induknya. Peran Belerang di Planet Ini Teleskop luar angkasa James Webb pada tahun 2024 berhasil mendeteksi keberadaan berbagai gas belerang di lapisan atas atmosfer planet ini. Gas-gas tersebut terbentuk karena sinar dari bintang induk memicu reaksi kimia di atmosfer, sementara lautan magma di bawahnya terus menyimpan dan melepaskan gas tersebut secara perlahan selama miliaran tahun.
Para ilmuwan memperkirakan L 98-59 d dulunya jauh lebih besar, namun perlahan mengecil seiring waktu karena mendingin dan kehilangan sebagian atmosfernya. Menariknya, kondisi awal planet ini sebenarnya mirip dengan kondisi awal Bumi dan Mars miliaran tahun lalu, sehingga mempelajarinya bisa membantu manusia memahami bagaimana planet yang ditinggalinya terbentuk. Membuka Wawasan Baru tentang Pembentukan Planet Profesor Raymond Pierrehumbert dari Universitas Oxford menyebut kemampuan merekonstruksi sejarah planet yang tidak mungkin dikunjungi manusia sebagai pencapaian yang luar biasa. Dengan hanya berbekal data ukuran, massa, dan komposisi atmosfer dari kejauhan, para ilmuwan kini bisa menggambarkan kondisi di dalam planet tersebut secara detail.
Ke depannya, tim peneliti akan terus mengembangkan simulasi ini menggunakan data dari misi luar angkasa berikutnya. Tujuannya adalah untuk memetakan lebih banyak jenis planet di luar Tata Surya dan mencari tahu planet mana saja yang berpotensi mendukung kehidupan. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





