Jakarta (ANTARA) - Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Syiah Kuala (USK) Safrizal Zakaria Ali menegaskan bahwa jabatan profesor bukan titik akhir karier, melainkan gerbang tanggung jawab untuk menunaikan amanah intelektual yang lebih berat.
“Teaching is more than imparting knowledge: it is inspiring change. Learning is more than absorbing facts: it is acquiring understanding,” kata Safrizal dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.
Pernyataan Safrizal, yang juga menjabat sebagai sebagai Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri tersebut, mengutip William Arthur Ward, seraya menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai capaian akademik semata.
Hal itu disampaikannya dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Syiah Kuala (USK) yang berlangsung di Event Hall Academic Activity Center (AAC) Prof. Dr. Dayan Dawood, M.A di Banda Aceh. Kegiatan itu juga merupakan pengukuhan enam profesor baru sekaligus peneguhan komitmen moral akademik.
“Ilmu bukan sekadar capaian monumen karir akademik yang menjulang tinggi laksana mercusuar, sebaliknya ia bak tetes embun yang membasahi kerontangnya tanah di musim kemarau. Menjadi satu entitas yang cerah dan mencerahkan, dan entitas yang hidup dan menghidupi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dan mengingatkan para profesor harus menjadi teladan moral masyarakat.
“Jagalah integritas akademik setinggi-tingginya. Karena ketika kampus kehilangan integritasnya, maka runtuhlah kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Di tengah dunia yang semakin pragmatis, profesor harus tetap menjadi teladan moral, penjernih di tengah kegaduhan, dan penuntun ketika masyarakat kehilangan arah,” ujar Safrizal.
Safrizal turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga para profesor yang ikut menopang perjalanan panjang pengabdian akademik.
“Sesungguhnya profesor tidak pernah lahir sendirian. Di belakang setiap ilmuwan besar, selalu ada keluarga yang ikut berjuang dalam diam,” katanya.
Enam profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Zumaidar (Biologi Tumbuhan), Prof. Dr. rer.nat Ilham Maulana (Kimia Anorganik), Prof. Dr. Vivi Silvia (Ekonomi Mikro), Prof. Dr. Rizwan (Teknik Galangan Kapal), Prof. Dr. dr. Iskandar Zakaria (Radiologi Intervensi), dan Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi (Matematika Komputasi).
Pengukuhan ini turut dihadiri Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Ir. Abubakar, jajaran Forkopimda Aceh dan Banda Aceh, para guru besar, tokoh masyarakat, mahasiswa, serta insan media.
Baca juga: Kemendagri sebut pembangunan Aceh harus tumbuh bersama alam
Baca juga: Kemendagri canangkan Satpol PP sebagai pelopor Gerakan Indonesia Asri
“Teaching is more than imparting knowledge: it is inspiring change. Learning is more than absorbing facts: it is acquiring understanding,” kata Safrizal dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.
Pernyataan Safrizal, yang juga menjabat sebagai sebagai Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri tersebut, mengutip William Arthur Ward, seraya menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai capaian akademik semata.
Hal itu disampaikannya dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Syiah Kuala (USK) yang berlangsung di Event Hall Academic Activity Center (AAC) Prof. Dr. Dayan Dawood, M.A di Banda Aceh. Kegiatan itu juga merupakan pengukuhan enam profesor baru sekaligus peneguhan komitmen moral akademik.
“Ilmu bukan sekadar capaian monumen karir akademik yang menjulang tinggi laksana mercusuar, sebaliknya ia bak tetes embun yang membasahi kerontangnya tanah di musim kemarau. Menjadi satu entitas yang cerah dan mencerahkan, dan entitas yang hidup dan menghidupi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dan mengingatkan para profesor harus menjadi teladan moral masyarakat.
“Jagalah integritas akademik setinggi-tingginya. Karena ketika kampus kehilangan integritasnya, maka runtuhlah kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Di tengah dunia yang semakin pragmatis, profesor harus tetap menjadi teladan moral, penjernih di tengah kegaduhan, dan penuntun ketika masyarakat kehilangan arah,” ujar Safrizal.
Safrizal turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga para profesor yang ikut menopang perjalanan panjang pengabdian akademik.
“Sesungguhnya profesor tidak pernah lahir sendirian. Di belakang setiap ilmuwan besar, selalu ada keluarga yang ikut berjuang dalam diam,” katanya.
Enam profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Zumaidar (Biologi Tumbuhan), Prof. Dr. rer.nat Ilham Maulana (Kimia Anorganik), Prof. Dr. Vivi Silvia (Ekonomi Mikro), Prof. Dr. Rizwan (Teknik Galangan Kapal), Prof. Dr. dr. Iskandar Zakaria (Radiologi Intervensi), dan Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi (Matematika Komputasi).
Pengukuhan ini turut dihadiri Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Ir. Abubakar, jajaran Forkopimda Aceh dan Banda Aceh, para guru besar, tokoh masyarakat, mahasiswa, serta insan media.
Baca juga: Kemendagri sebut pembangunan Aceh harus tumbuh bersama alam
Baca juga: Kemendagri canangkan Satpol PP sebagai pelopor Gerakan Indonesia Asri





