Arsari Tambang Bakal Bangun Pusat Riset Timah dan REE di Bangka

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo mengungkap rencana perusahaan membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang (rare earth elements/REE) di Bangka sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan penguatan teknologi mineral Indonesia.

Menurut dia, keberadaan pusat riset menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat daya saing industri timah nasional di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi global.

Baca Juga :
LPEM FEB UI: Pindar Jadi Bantalan Warga RI Hadapi Tekanan Ekonomi
Peran Riset dalam Membentuk Kompetensi Mahasiswa Kedokteran

“Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah,” kata Aryo dalam presentasinya saat menjadi pembicara dalam forum industri pertambangan dan metalurgi Met Connex 2026 di JCC, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. 

Ia mengatakan, Arsari Tambang menargetkan pusat riset tersebut dapat menjadi basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di dalam negeri.

Menurut Aryo, rare earth elements merupakan salah satu produk sampingan timah yang memiliki nilai strategis tinggi untuk masa depan industri global, terutama dalam mendukung transisi energi dan teknologi tinggi. 

Beberapa unsur yang disebutkannya antara lain neodymium (NdPr) dan dysprosium yang dibutuhkan dalam berbagai perangkat teknologi dan industri energi.

“Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari itu. Salah satu hal yang kami lakukan adalah berinvestasi membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka,” ujarnya.

Aryo menilai Indonesia perlu mulai menguasai teknologi hilir berbasis timah, termasuk pengembangan solder untuk industri semikonduktor yang memerlukan formulasi campuran logam (alloy) dengan standar tinggi.

Menurut dia, pengembangan teknologi tersebut tidak bisa hanya bergantung pada pasar luar negeri, melainkan harus didukung kapasitas riset domestik dan penguatan ekosistem nasional agar inovasi, kolaborasi industri, serta nilai tambah ekonomi tetap berada di Indonesia.

“Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia,” katanya.

Aryo juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, perusahaan swasta, dan perusahaan pelat merah sektor timah, untuk mempercepat pengembangan pusat riset tersebut. Ia menyebut kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah lama bergerak di industri timah dapat menjadi langkah penting membangun ekosistem penelitian mineral nasional.

Baca Juga :
DPR: Strategi Hilirisasi Penting untuk Dorong Ekonomi Nasional
Riset Ungkap AI Bisa Picu 'Resesi' Baru di Dunia Kerja, Pekerja Kantoran Terancam!
Polri Mulai Andalkan Riset Akademik untuk Kebijakan Keamanan Nasional

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Intip Ruang Kendali Transportasi Haji, Kawal Keselamatan Jemaah Indonesia 24 Jam
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Realisasi Penerimaan Negara di Wilker KPPN Malang Tembus Rp40,95 Triliun
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Akhirnya Terungkap, Ini Alasan Alyssa Daguise dan Al Ghazali Belum Mau Tunjukkan Wajah Anak
• 45 menit laluviva.co.id
thumb
Alyssa Daguise Tak Terima Nama Putrinya dengan Al Ghazali Dijadikan Bahan Candaan Warganet
• 15 jam lalutabloidbintang.com
thumb
BGN Beri Deadline 2 Minggu: SPPG Wajib Tingkatkan Cakupan Gizi Ibu dan Balita atau Hadapi Suspend
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.