Volatilitas MSCI Jadi Ajang Buy on Dip, Asing Mulai Borong Big Caps

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Volatilitas pasar yang dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk rebalancing Juni 2026 dinilai justru membuka peluang strategi buy on dip bagi investor, khususnya pada saham-saham big caps berfundamental kuat.

Di tengah potensi gejolak pasar, sejumlah analis melihat investor asing mulai kembali mengakumulasi saham-saham unggulan yang valuasinya dinilai semakin menarik setelah terkoreksi tajam sejak awal tahun.

Sepanjang pekan lalu, pasar saham Indonesia mencatatkan net buy asing sebesar Rp12,26 triliun. Torehan positif tersebut terjadi menjelang pengumuman MSCI yang akan memberi perkembangan terbaru terhadap penilaian pasar modal Indonesia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai aksi beli asing tersebut mencerminkan langkah antisipasi investor global untuk mengoleksi saham-saham dengan fundamental solid di tengah tekanan pasar.

"Akumulasi asing ini menjadi bagian dari strategi buy on dip karena IHSG sedang membentuk lower low," ujar Nafan, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, meski ada risiko sejumlah saham yang masuk daftar high shareholding concentration (HSC) dikeluarkan dari indeks MSCI, saham-saham bluechip Indonesia masih dinilai menarik. Investor asing disebut melihat valuasi saham domestik sudah cukup murah seiring pelemahan IHSG sejak awal tahun.

Baca Juga

  • Jalan Panjang Reformasi Pasar Modal di Tengah Tekanan MSCI & Capital Outflow
  • Pelemahan Rupiah dan Sentimen MSCI Tekan Indeks Bisnis-27
  • Rupiah Ditutup Melemah Sentuh Rp17.529, Sentimen Global dan MSCI Tekan Pasar

Dalam tren tersebut, Nafan menilai saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBNI berpotensi menjadi incaran utama investor asing. Selain itu, saham-saham berbasis hilirisasi mineral seperti ANTM, INCO, dan TINS juga dinilai menarik di tengah sentimen penundaan royalti minerba.

Di sisi lain, saham telekomunikasi disebut dapat menjadi pilihan defensif menghadapi volatilitas pasar menjelang pengumuman MSCI.

Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa melihat net buy asing dalam sepekan terakhir menjadi indikasi bahwa investor global mulai kembali melirik pasar saham Indonesia.

"Saham yang paling banyak diburu asing masih didominasi big banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI karena fundamental dan likuiditasnya paling kuat di tengah volatilitas pasar," ujar Reydi.

Sementara itu, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menilai pola pergerakan saham menjelang pengumuman MSCI sudah mulai terlihat dari daftar saham top leaders dan top laggards perdagangan Senin (11/5/2026).

Fath melihat saham-saham seperti INCO, MDKA, dan MBMA menguat didorong sentimen positif penundaan royalti minerba. Di sisi lain, tekanan pada saham-saham big banks mulai mereda.

"Pasar mulai rebalancing sebelum pengumuman. Saham-saham bluechip yang diekspektasikan bobotnya mungkin berkurang tidak signifikan di awal tahun mulai terefleksi. Di sisi lain, saham yang turun dan dihapus [dari MSCI] sangat terasa volatilitasnya. Bisa dilihat saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu beberapa turun cukup dalam," ujarnya dalam kanal YouTube Maybank Sekuritas, Selasa (12/5/2026).

Fath memperingatkan perdagangan pada 12 Mei dan 13 Mei 2026 berpotensi menjadi periode dengan volatilitas tertinggi. Pengumuman MSCI diperkirakan akan dirilis pada Rabu dini hari waktu Indonesia.

Dia menegaskan bahwa pengumuman MSCI kali ini bukan terkait status Indonesia sebagai emerging market, melainkan menyangkut perubahan konstituen dan pengurangan bobot saham Indonesia di indeks MSCI.

Dalam pengumuman sebelumnya, MSCI menyatakan akan mengeluarkan saham-saham yang masuk daftar HSC. Saham DSSA dan BREN disebut hampir dipastikan terdepak dari indeks tersebut.

Meski demikian, Fath mengingatkan investor agar tidak panik menghadapi volatilitas jangka pendek.

"Kalian yang punya posisi saat ini, terutama di saham-saham MSCI lebih tenang, karena volatilitasnya ini sifatnya short term," ujar Fath.

Dia menambahkan, penurunan bobot saham Indonesia di MSCI juga dipengaruhi faktor alami seperti pelemahan IHSG hingga 21% year to date (YtD), depresiasi rupiah, serta penguatan signifikan bursa emerging market lain.

Fath memperkirakan bobot Indonesia di MSCI yang sebelumnya berada di kisaran 1,2% kini berpotensi turun ke level 0,7%-0,8% atau bahkan lebih rendah.

"Kabar baiknya adalah kalau ini memang bobot terakhir dibanding tahun lalu, otomatis outflow yang diekspektasikan berkurang, karena bobotnya lebih kecil. Yang ingin kita dengar kali ini adalah perubahan foreign inclusion factor yang akan diumumkan MSCI yang pasti akan memengaruhi bobot-bobot yang ada di saham saat ini," jelasnya.

Menurut Fath, investor yang telah memiliki saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang masih baik tidak perlu terlalu khawatir terhadap gejolak jangka pendek akibat pengumuman MSCI.

"Volatilitasnya pasti tinggi, investor tidak perlu khawatir, ini hanya short term," tegasnya.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bukti Baru Perang AS-Iran Benar-Benar "Makan Korban" Amerika Sendiri
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Koperasi BME Blora Mulai Kirim 15 Ribu Liter Minyak Mentah Sumur Rakyat ke Pertamina
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Wamenkes: Pasien ODGJ Bisa Lanjut Berobat di Puskesmas
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Polres Siak Ekshumasi Jenazah Bocah 6 Tahun Korban Penganiayaan Ibu Tiri
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tak Ada Toleransi, Agensi IVE Siap Laporkan Akun yang Sebarkan Fitnah & Komentar Jahat
• 15 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.