BEIRUT, KOMPAS.TV - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyerukan agar pemerintah Lebanon meninggalkan perundingan langsung dengan Israel dan membahas penghentian perang melalui negosiasi tidak langsung.
Pemerintah Lebanon dan Israel sedianya akan melanjutkan perundingan melalui mediasi AS pada Kamis (14/5/2026) besok. Kedua puhak sebelumnya telah berunding dan menghasilkan gecatan senjata yang berlaku hingga 17 Mei nanti.
Associated Press melaporkan, dalam surat yang ditujukan ke petinggi Hizbullah, Selasa (12/5), Qassem menilai Lebanon telah merugi dalam negosiasi dengan Israel.
Baca Juga: Buntut Pelecehan Simbol Kristen di Lebanon, 2 Tentara Israel Dijatuhi Hukuman Penjara
Naim Qassem menambahkan, Hizbullah bersedia bekerja sama untuk memenuhi lima poin tuntutan yang disampaikan pemerintah Lebanon dalam perundingan.
Tuntutan tersebut di antaranya penghentian serangan, penarikan pasukan Israel dari Lebanon, penerjunan militer Lebanon ke area selatan Sungai Litani, pembebasan tahanan Lebanon di Israel, dan pemulangan warga yang mengungsi ke rumahnya.
Akan tetapi, Qassem menolak jika pelucutan senjata Hizbullah dibahas dengan Israel. Menurutnya, isu pelucutan senjata Hizbullah adalah urusan dalam negeri dan harus dibahas secara internal.
Israel dan Lebanon sendiri diketahui menandatangani gencatan senjata pada 17 April lalu. Periode gencatan senjata kemudian diperpanjang hingga 17 Mei.
Kendati demikian, militer Israel dilaporkan berulangkali melanggar gencatan senjata di Lebanon. Sebaliknya, Hizbullah menembakkan roket ke wilayah utara Israel.
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyatakan serangan Israel ke Lebanon sejak 2 Maret 2026 telah membunuh 2.882 orang dan menimbulkan 8.786 korban luka.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Gading-Persada
Sumber : Associated Press
- serangan israel ke lebanon
- lebanon
- hizbullah
- perundingan israel lebanon
- israel





