Nilai tukar rupiah ambruk hingga menyentuh level Rp17.510 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026), menandai posisi terlemah sepanjang sejarah intraday. Pelemahan tajam ini langsung memicu respons cepat DPR yang menilai situasi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut.
Ketua DPR Puan Maharani menyatakan pihaknya akan memanggil Gubernur Perry Warjiyo dan perwakilan pemerintah, termasuk Purbaya Yudhi Sadewa, untuk meminta penjelasan. Langkah ini diambil guna mengetahui strategi konkret dalam menahan tekanan terhadap rupiah di tengah kondisi global yang tidak menentu.
"Ya tentu saja kami (DPR) akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal (pelemahan rupiah) tersebut," ujar Puan usai sidang paripurna.
Sejak awal perdagangan, rupiah memang sudah menunjukkan tekanan yang konsisten. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,42 persen ke Rp17.485 per dolar AS, lalu terus turun hingga 0,56 persen sebelum akhirnya menembus Rp17.510 per dolar AS.
Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari tersebut. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional jika tidak segera diantisipasi.
Puan mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi membawa efek domino terhadap perekonomian secara luas. Ia menegaskan pemerintah dan bank sentral harus bergerak cepat agar kondisi ini tidak berkembang menjadi krisis yang lebih dalam.
"Apa yang dilakukan pemerintah, termasuk BI, situasi ini jangan sampai pengaruh nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal. Bukan hanya tahun ini, tapi juga sampai tahun 2027," kata dia.
Sebagai langkah lanjutan, DPR juga akan memasukkan isu pelemahan rupiah ke dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Puan Warning Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya menjadi perhatian jangka pendek, tetapi juga akan memengaruhi arah kebijakan fiskal ke depan.
Tekanan yang masih berlangsung, stabilitas rupiah kini menjadi sorotan utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam waktu dekat akan menjadi penentu arah pergerakan nilai tukar ke depan.




