Nasib Industri Perunggasan

viva.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

(Artikel opini ini ditulis Prof. Yuli Retnani, Guru Besar IPB University)

VIVA – Industri perunggasan sangat strategis mempengaruhi perekenomian Indonesia. Penyediaan protein cepat dapat diproduksi dalam waktu singkat dipenuhi dari penyediaan protein hewani dari daging ayam broiler dan telor ayam.  

Baca Juga :
Era Keuangan Digital Semakin Terbuka, Indodax Soroti Pentingnya Perlindungan Konsumen
Cara VKTR Perkuat Ekosistem Industri EV Nasional di Jateng

Industri perunggasan adalah kisah sukses modernisasi pertanian dan teknologi pangan. Dalam waktu hanya 30–40 hari, ayam broiler sudah dapat dipanen, produksi telur sangat efisien dengan teknologi pembibitan, pakan, kesehatan ternak, dan manajemen kandang modern.

Industri perunggasan menjadi sumber protein hewani yang paling terjangkau di masyarakat dan menyerap tenaga kerja banyak. Secara teknis, industri perunggasan (telur dan daging ayam) menjadi menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani rakyat Indonesia.  Dengan sistem produksi seperti sekarang ini maka kebutuhan protein rakyat tercukupi dan terjangkau karena harganya murah.  

Namun, banyak keluhan di kalangan produsen peternak perunggasan akibat sering mengalami kerugian, gulung tikar, terlibat hutang bahkan penyitaan asset property kandang atau pun rumah terjadi akibat kerugian usahanya.  

Fakta ini menjadi indikasi bahwa struktur industri (produksi dan perdagangan) sakit dan berada dalam persaingan tidak sehat. Industri perunggasan mengalami konsentran horizontal dan vertikal sehingga menguntungkan konglomerasi di hulu dan merugikan peternak di hilir. Nilai tambah dinikmati oleh perusahaan besar, sementara usaha kecil tertindas.

Struktur Industri dan Monopoli

Masalah industri perunggasan adalah praktek monopoli, konsentrasi vertikal dan horizontal tersebut. Teknologi dan sistem produksi tidak ada masalah, di balik keberhasilan  tersebut, tersembunyi persoalan serius dalam struktur industrinya. 

Masalah utama industri perunggasan Indonesia bukan lagi sekadar teknologi produksi, melainkan strukturnya dan industrinya yang semakin terkonsentrasi sehingga mudah terjadi praktek monopoli. Akibatnya, sistem perunggasan menciptakan ketidakadilan ekonomi yang serius. 

Hadirnya rencana Kadin untuk mengundang investor baru di hulu menjadi isu sensitif dan perbindangan meluas di kalangan peternak, akademisi dan kampus, serta pengusaha besar itu sendiri.  

Ini harus dijelaskan apakah akan memperbaiki persaingan yang sehat sehingga peternak lebih mempunyai akses yang lebih baik terhadap input produksi, proses produksi dan pasar? Atau sebaliknya, apakah kehadiran investor baru hanya akan melanggengkan konsentrasi dari hulu ke hilir dan konsentrasi horizontalnya?

Baca Juga :
Industri Rokok Kembali Diterpa Ancaman PHK Seiring Wacana Larangan Bahan Tambahan
Rilis 'Unseen Rules of Business', Denon Prawiraatmadja Refleksikan Pengalaman di Bisnis & Industri Strategis
Wamendagri Wiyagus: Kendari Punya Peluang Besar Jadi Pusat Ekonomi dan Industri MICE Indonesia Timur
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK dan Ombudsman RI Lakukan Pertemuan, Bahas Pencegahan Kasus Suap dan Gratifikasi Melalui Peningkatan Layanan Publik
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Gelombang Anti-Imigran di Eropa dan Matinya Politik Multikultural
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Korupsi Chromebook
• 40 menit laluliputan6.com
thumb
Sentimen MSCI Tekan Indeks Bisnis-27, Saham AMRT hingga ANTM Kompak Merah
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Jelang Bertemu Xi Jinping, Trump Ogah Minta Bantuan China Selesaikan Perang Iran
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.