Arab Saudi disebut menjalankan operasi militer rahasia terhadap Iran selama berlangsungnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Aksi tersebut selama ini nyaris tidak diketahui publik hingga laporan mengenai serangan balasan itu mulai terungkap.
Meskipun tidak secara terang-terangan mengumumkan keterlibatannya, Arab Saudi telah turut serta secara aktif dalam operasi militer rahasia yang ditujukan untuk menekan pengaruh dan kekuatan militer Iran di kawasan Teluk, sebagaimana dilaporkan Reuters, dikutip dari Kompas.
Ini menunjukkan perubahan signifikan dari sikap Saudi yang sebelumnya cenderung menghindari konflik langsung, kini menjadi salah satu motor dalam koordinasi militer regional demi menjaga stabilitas wilayah mereka.
Serangan Rahasia terhadap Fasilitas Militer dan Energi IranArab Saudi beserta negara-negara aliansi Teluk diketahui terlibat dalam serangkaian serangan rahasia yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur energi vital milik Iran.
Salah satu contoh penting ialah serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan yang menyebabkan kebakaran hebat dan mengganggu kapasitas produksi energi Iran dalam waktu yang cukup lama.
Serangan-serangan ini merupakan bagian dari strategi untuk melemahkan sisi pertahanan dan ekonomi Iran tanpa harus secara langsung menimbulkan konfrontasi militer besar-besaran.
Laporan yang beredar menyebut Riyadh melancarkan sejumlah serangan udara secara diam-diam sebagai respons atas rentetan serangan drone dan rudal yang sebelumnya diarahkan Iran ke wilayah Saudi.
Ketegangan kedua negara meningkat sejak berbagai fasilitas penting di Arab Saudi, termasuk kilang minyak dan wilayah strategis lainnya, menjadi sasaran serangan.
Perkuat Pertahanan Arab SaudiPemerintah Saudi kemudian memperkuat sistem pertahanan sekaligus melakukan langkah balasan tanpa banyak dipublikasikan.
Dalam sejumlah laporan, operasi itu disebut menyasar titik-titik tertentu yang berkaitan dengan kepentingan militer Iran. Meski demikian, pihak Arab Saudi tidak secara terbuka mengumumkan detail serangan maupun target operasi tersebut kepada masyarakat internasional.
Pemerintah Saudi sebelumnya juga menyampaikan sikap tegas atas serangan yang diarahkan ke negaranya. Kabinet Saudi menegaskan bahwa kerajaan akan mengambil langkah apa pun untuk melindungi keamanan nasional.
Saudi turut mengecam serangan Iran terhadap bandara sipil dan fasilitas minyak yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional serta ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
Kewaspadaan Militer Negara TelukDi tengah meningkatnya konflik, sejumlah negara Teluk dilaporkan ikut memperketat kewaspadaan militer. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah jika eskalasi terus berlanjut.
Dalam salah satu pernyataannya, pemerintah Saudi memperingatkan Iran mengenai konsekuensi yang bisa muncul apabila serangan terus dilakukan.
"Jika Iran terus melanjutkan serangannya, maka Iran akan menghadapi konsekuensi diplomatik, ekonomi, dan strategis yang paling berat, serta menjadi pihak yang paling dirugikan."
Ketegangan yang terus meningkat juga memicu perhatian dunia internasional karena dikhawatirkan berdampak pada stabilitas keamanan regional hingga jalur perdagangan global di kawasan Teluk.
Strategi Pragmatis Arab SaudiSementara itu, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group Ali Vaez menilai, langkah Arab Saudi ini sebagai strategi pragmatis.
"Langkah ini menunjukkan pengakuan pragmatis di kedua belah pihak bahwa eskalasi yang tidak terkendali membawa biaya yang tidak dapat diterima," ungkap Vaez.
Hal ini, kata dia, menunjukkan adanya kepentingan bersama untuk menetapkan batasan pada konfrontasi sebelum spiral konflik regional meluas.
Usaha de-eskalasi informal ini sebenarnya mulai berlaku seminggu sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu.
Diketahui Seorang pejabat Iran mengatakan kedua negara sepakat untuk meredakan ketegangan guna menghentikan permusuhan, menjaga kepentingan bersama, dan mencegah eskalasi.





