Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global setelah capaian ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen.
Berbagai strategi percepatan pertumbuhan kini terus diperkuat, mulai dari peningkatan koordinasi lintas kementerian hingga pembenahan iklim investasi melalui kanal debottlenecking.
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, kondisi ekonomi global sepanjang 2026 masih dibayangi ketidakpastian dan tantangan besar.
“Ekonomi global pada tahun 2026 masih menghadapi berbagai tantangan yang signifikan. Meski demikian, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dan berada pada posisi yang baik untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” ujar Airlangga dalam International Seminar on Debottlenecking Channel di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Kanal Debottlenecking dianggap sebagai strategi pemerintah, pelaku usaha, dan para pemangku kepentingan dalam menciptakan mekanisme penyelesaian hambatan investasi yang lebih efektif, cepat, dan terkoordinasi.
“Probabilitas Indonesia mengalami resesi juga tetap sangat rendah, yakni di bawah 5%, lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Hal ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia serta kapasitas pertumbuhan yang tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” imbuh Menko Airlangga.
Menko Airlangga menjelaskan ketahanan ekonomi Indonesia terlihat pada triwulan I tahun 2026, di mana ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen, dengan tingkat inflasi yang terjaga pada level 2,42 persen, serta tingkat keyakinan konsumen yang tetap kuat.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga terus mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, didukung oleh stabilitas sektor keuangan dan cadangan devisa yang solid.
Lebih lanjut, dalam upaya memperkuat akselerasi pertumbuhan ekonomi, Prabowo Subianto Presiden telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Satgas tersebut dibentuk untuk memperkuat sinergi lintas Kementerian/Lembaga, menyederhanakan proses, serta mempercepat penyelesaian berbagai hambatan implementasi program strategis nasional.
Fungsi debottlenecking channel, yakni menangkap dan mengelola hambatan secara real time, menyediakan kanal yang kredibel bagi investor untuk menyampaikan berbagai kendala secara langsung, serta menerjemahkan berbagai masukan tersebut menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat segera ditindaklanjuti.
Melalui penguatan mekanisme debottlenecking tersebut, Pemerintah tidak hanya berupaya menyederhanakan proses dan memperbaiki iklim usaha, tetapi juga membangun kepercayaan investor.
Pemerintah optimistis di tengah ketidakpastian global, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia. Tapi memerlukan langkah yang cepat, koordinasi yang solid, dan implementasi kebijakan yang konsisten agar berbagai potensi ekonomi dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Mari kita ubah hambatan-hambatan ini menjadi saluran yang terbuka lebar untuk kemakmuran bersama. Saya berharap seminar ini dapat menghasilkan diskusi yang produktif dan memberikan berbagai masukan yang konstruktif,” pungkasnya.(lea)



