FAJAR, MAKASSAR — Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Gunung Sari Makassar, kembali menggelar kegiatan Wisuda Sarjana.
Kali ini untuk jurusan Keperawatan dan Pengambilan Sumpah Profesi Ners serta Pendidikan Profesi Bidan Tahun Akademik 2025/2026.
Pada pelaksanaan wisuda tahun ini, STIKES Gunung Sari Makassar mewisuda sebanyak 254 lulusan yang terdiri atas 182 lulusan Sarjana Keperawatan, 43 lulusan Profesi Ners, dan 29 lulusan Pendidikan Profesi Bidan dikukuhkan di Sandeq Ballroom Claro Hotel Makassar, Rabu, 13 Mei.
Ketua Stikes Gunung Sari Makassar, Syaiful Bahri, mengatakan, perkembangan teknologi kesehatan menjadi tantangan, sekaligus peluang yang harus dihadapi para lulusan tenaga kesehatan saat ini.
“Para lulusan perawat dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi di bidang pelayanan kesehatan,” ucapnya.
Karena itu, kata dia, kampus terus mengarahkan mahasiswa dan alumninya agar memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern.
“Kita mengarahkan alumni untuk siap menghadapi perkembangan teknologi kesehatan. Alumni-alumni kita juga sudah mulai diarahkan ke sana,” ujarnya.
Syaiful Bahri menjelaskan, STIKES Gunung Sari juga membuka peluang kerja luar negeri bagi alumninya. Negara tujuan yang selama ini menjadi fokus penyaluran tenaga kesehatan di antaranya Jepang, Taiwan, hingga Arab Saudi.
Ia mengungkapkan, banyak lulusan STIKES Gunung Sari yang bekerja di luar negeri karena profesi perawat dinilai lebih dihargai, baik dari sisi kesejahteraan maupun fasilitas kerja.
“Kalau di Jepang misalnya, gaji minimumnya bisa mencapai Rp17 juta dan itu bersih karena akomodasi serta biaya hidup sudah ditanggung,” jelasnya.
Selain menyiapkan lulusan yang siap kerja, STIKES Gunung Sari juga menanamkan semangat entrepreneurship kepada mahasiswa.
Hal tersebut menjadi salah satu ciri khas kampus dalam membentuk lulusan yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
Syaiful Bahri menuturkan, sejumlah alumni kini telah memiliki usaha sendiri seperti membuka klinik kesehatan maupun layanan penitipan anak. Bahkan, banyak alumninya yang kini menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Puskesmas di berbagai daerah.
“Harapan kami lulusan tidak hanya mencari kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan, minimal untuk dirinya sendiri,” katanya.
Perwakilan Yayasan Pendidikan Gunung Sari, Abdul Bashar menyampaikan yayasan terus melakukan pengembangan institusi, termasuk penambahan program studi baru di bidang kesehatan.
Menurutnya, dalam dua tahun ke depan yayasan berencana kembali membuka dua program studi tambahan guna memperluas pilihan pendidikan kesehatan bagi masyarakat.
“Selain pengembangan akademik, yayasan juga menyediakan program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi,” ucapnya.
Beasiswa tersebut kata dia, mencakup pembiayaan penuh bagi penerima yang memenuhi kriteria.
“Kalau dari yayasan ada beasiswa penuh untuk mahasiswa berprestasi, meskipun kuotanya memang terbatas,” ujarnya.
Ketua Panitia Wisuda, Normalia mengungkapkan pihak kampus tengah menjalin kerja sama internasional untuk penyaluran tenaga kesehatan ke Eropa, khususnya Jerman.
Kerja sama tersebut dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan lembaga mitra internasional.
“Ini cara kami memfasilitasi lulusan mendapatkan akses pekerjaan di luar negeri setelah menyelesaikan pendidikan,” tuturnya.
Menurutnya, langkah itu menjadi bagian dari visi kampus dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki daya saing global.
“Harapannya alumni setelah selesai tidak lagi bingung mencari pekerjaan karena kampus akan memfasilitasi penyaluran kerja mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain membuka peluang kerja ke luar negeri, kampus juga tetap mendorong mahasiswa untuk memiliki jiwa entrepreneur agar mampu menciptakan peluang usaha di bidang kesehatan di tengah tingginya angka pengangguran tenaga kesehatan. (wis)





