FAJAR, MAKASSAR — PT Nusantara Infrastructure Tbk (NI) terus menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu program yang dijalankan adalah Komunitas Berdaya Nusantara, fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah plastik berbasis ekonomi sirkular.
Program yang dimulai sejak tahun 2025 ini dijalankan bersama Rappo Indonesia, UMKM lokal asal Makassar yang bergerak di bidang pengolahan limbah plastik menjadi produk kreatif dan ramah lingkungan.
PT Nusantara Infrastructure sendiri merupakan perusahaan infrastruktur swasta di Indonesia yang memiliki konsesi di berbagai sektor, termasuk jalan tol.
Perusahaan ini juga menjadi induk dari PT Makassar Metro Network (MMN) dan PT Makassar Airport Network (MAN), pengelola Jalan Tol Makassar.
CEO Rappo Indonesia, Akmal Idrus, mengatakan kerja sama dengan Nusantara Infrastructure kembali dilanjutkan pada tahun 2025 hingga 2026 untuk memastikan keberlanjutan program CSR tersebut.
Menurut Akmal, program ini bukan hanya bertujuan mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar memiliki penghasilan tambahan melalui produk hasil daur ulang.
“Melalui program ini, Nusantara Infrastructure bersama Rappo Indonesia menghadirkan kolaborasi untuk mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus menciptakan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah plastik menjadi produk kreatif dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kota Makassar sebagai kota metropolitan dan wilayah pesisir menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan sampah dan tingginya penggunaan produk sekali pakai.
“Karena itu, pengolahan sampah dinilai menjadi solusi penting untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA),” tuturnya.
Dalam program tersebut Akmal memaparkan, sebanyak 19 perempuan dilibatkan dalam proses produksi. Mereka berhasil menghasilkan 313 produk kreatif yang telah dipasarkan, termasuk di area Alun-Alun Kota Makassar.
Akmal menambahkan, Rappo Indonesia selama ini fokus memberikan dampak sosial melalui pengelolaan sampah.
Menurutnya, masalah terbesar bukan hanya mengumpulkan sampah, tetapi bagaimana mengolahnya agar bisa digunakan kembali dan tidak berakhir di TPA.
“Konsepnya bukan hanya memindahkan sampah, tetapi bagaimana sampah itu bisa diolah menjadi barang yang bernilai,” katanya.
Saat ini, Rappo Indonesia mampu mengelola sampah plastik hingga ratusan kilogram per hari. Secara keseluruhan, sekitar tiga ton limbah plastik berhasil didaur ulang setiap tahun menjadi berbagai produk seperti furnitur dan suvenir.
Direktur Utama Nusantara Infrastructure, Ramdhani Basri, mengatakan program ini membuktikan bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan melalui keterlibatan masyarakat, khususnya kaum perempuan dan ibu rumah tangga.
Menurutnya, selain menjadi produk fesyen, limbah plastik ke depan juga berpotensi dimanfaatkan sebagai material pendukung pembangunan infrastruktur seperti campuran bahan jalan tol dan superblok.
“Ini bisa menjadi alternatif ke depan. Sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Ramdhani menjelaskan, alasan Nusantara Infrastructure memilih program ini sebagai bagian dari CSR karena persoalan lingkungan menjadi isu besar yang perlu mendapat perhatian bersama.
Selain membantu pemerintah mengurangi masalah sampah, program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama bagi ibu-ibu yang terdampak kondisi ekonomi dan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Kalau masyarakat diberdayakan dan memiliki penghasilan sendiri, mereka bisa lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada institusi tertentu,” jelasnya.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengatakan penanganan sampah di Kota Makassar tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan pihak swasta dan masyarakat.
Ia menyebutkan, Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari. Namun kapasitas pengangkutan sampah saat ini baru mencapai sekitar 67 persen.
“Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang belum dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengurangi penggunaan TPA terbuka dan beralih ke sistem sanitary landfill sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.
Karena itu, Munafri menilai pengelolaan sampah berbasis daur ulang seperti yang dilakukan Nusantara Infrastructure dan Rappo Indonesia menjadi langkah penting untuk mengurangi sampah rumah tangga yang masuk ke TPA.
“Baik sampah organik maupun non-organik harus bisa dikelola dengan baik agar tidak menjadi masalah lingkungan di kemudian hari,” tutupnya. (wis)





