Jakarta: Permintaan emas di Indonesia tumbuh sebesar 47 persen pada kuartal I-2026 secara year on year (yoy). Tren emas global yang meningkat menjadi salah satu pendongkraknya, karena menjadi aset safe haven saat ekonomi global tidak pasti.
"Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia sangat tinggi, bahkan naik 47 persen secara year on year atau setara 23,6 ton," ungkap Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks at the World Gold Council (WGC) Shaokai Fan, dalam forum WGC gold demand trends Q1 2026 secara daring, Rabu, 13 Mei 2026.
Bukan hanya di Indonesia, WGC juga menyebutkan total permintaan emas global yang termasuk Optical Coherence Tomography (OCT) meningkat dua persen atau setara 1.231 ton yoy. Kondisi ini memicu lonjakan nilai emas sebesar 74 persen yoy, dengan rekor harga USD193 miliar.
"Ini terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Ini terjadi juga lintas segmen emas," lanjut Shaokai.
Ilustrasi. Foto: ICDX.
Baca Juga :
Harga Emas Bergerak Melemah, Investor Mesti Waspadai Hal IniAnalisis WGC, emas secara sejarah menjadi instrumen yang mampu menjaga daya beli masyarakat Indonesia saat terjadi pelemahan mata uang dan tekanan pasar. Kondisi tersebut salah satunya pernah terlihat pada krisis ekonomi Indonesia 1997-1998.
"Dari sisi rupiah, kinerja emas tergolong cukup baik dan juga resilient terhadap guncangan keuangan yang pernah dialami Indonesia," kata Shaokai.
Sementara itu, emas juga dinilai mampu menjadi sumber imbal hasil jangka panjang yang stabil, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 15 persen per tahun dalam 20 tahun terakhir. Meski tidak selalu unggul, emas dapat membantu menjaga kualitas portofolio investor melalui pengurangan risiko konsentrasi dan fungsi diversifikasi investasi.
"Investor sebaiknya memandang emas sebagai alat untuk diversifikasi dan juga untuk mempertahankan resiliensi," kata dia. (Adrian Bachtiar)




