REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Pertanyaan yang kini berkembang di internal Partai Likud tidak lagi terbatas pada kapan pemilu berikutnya digelar, atau apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih mampu memimpin kubu kanan menuju putaran politik baru.
Pertanyaan yang jauh lebih sensitif kini mulai mengemuka: apakah Netanyahu mampu membentuk ulang Partai Likud sesuai kehendaknya sebelum pemilu berlangsung, atau justru konflik internal akan melahirkan kekuatan baru yang oleh sejumlah politisi Israel disebut sebagai “Likud B”?
Baca Juga
Mesir Kirim Jet Tempur ke Uni Emirat Arab, Begini Tanggapan Santai Iran
Media Inggris Ungkap Retaknya Hubungan Trump dan Netanyahu, Dulu Saling Dukung Kini Saling Tuduh
Hizbullah, Para Pemburu Mematikan, dan 3 Pesan Kuat untuk Tentara Israel
Laporan yang dipublikasikan media Israel seperti Walla!, Maariv, dan Israel Hayom, yang dilansir Aljazeera, Rabu (13/5/2026), mengungkap bahwa Netanyahu kini bergerak dalam tiga jalur sekaligus.
Tiga jalur tersebut yaitu menekan partai agar memberinya kursi aman dalam daftar calon legislatif Likud, mencoba mengendalikan atau menunda pemilihan pendahuluan internal partai, serta tetap membuka opsi membentuk daftar independen jika tuntutannya gagal dipenuhi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam laporannya di Israel Hayom, jurnalis politik Shirit Avitan Cohen menulis bahwa jadwal pemilu Israel kini bukan lagi keputusan domestik sepenuhnya. Netanyahu disebut mempertimbangkan memajukan pemilu dari 27 Oktober menjadi 1 September.
Alasannya adalah semakin memudarnya capaian keamanan Israel serta kebuntuan operasi militer di Gaza dan Lebanon akibat apa yang disebut laporan itu sebagai batasan dari Trump.
Sebanyak 300 ribu lebih Yahudi Haredim memadati Yerusalem protes wajib militer. - (Anadolu.)