Pemkot Makassar Siapkan PLTSa Rp3 Triliun untuk Olah 1.000 Ton Sampah per Hari

terkini.id
2 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar — Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui kolaborasi bersama Komunitas Berdaya Nusantara dan RAPPO Indonesia.

Menurut Munafri yang akrab disapa Appi, sinergi tersebut menjadi langkah nyata untuk mewujudkan Makassar sebagai kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Appi saat menghadiri Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan di Makassar yang dilaksanakan Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo, Rabu (13/5/2026).

“Hari ini saya merasa bangga dan optimis. Kehadiran Komunitas Berdaya Nusantara yang menggandeng RAPPO Indonesia bukan sekadar acara seremonial biasa. Ini adalah langkah nyata dari apa yang selalu kita cita-citakan bersama, yakni Makassar yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan,” ujar Appi.

Ia menegaskan, Pemkot Makassar ingin memastikan perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga menjadi aktor utama dalam penguatan ekonomi masyarakat.

Melalui program tersebut, perempuan diberikan akses keterampilan dan ruang kreatif untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, khususnya melalui pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai jual.

Appi menyebut persoalan sampah plastik merupakan tantangan global yang membutuhkan inovasi dan kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, kreativitas masyarakat bersama RAPPO Indonesia telah membuktikan bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi produk fesyen ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi.

“Masalah sampah plastik adalah tantangan global. Namun di tangan ibu-ibu kita, limbah yang tadinya tidak bernilai diubah menjadi produk fesyen kelas dunia yang ramah lingkungan,” katanya.

Ia menilai keterlibatan pihak swasta menjadi faktor penting dalam menyelesaikan persoalan kota, termasuk pengelolaan sampah.

“Persoalan di Kota Makassar tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi dengan pihak swasta agar solusi yang dihasilkan lebih optimal,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Appi mengungkapkan Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari. Namun, kapasitas pengangkutan saat ini baru mencapai sekitar 67 persen sehingga masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani maksimal.

Ia juga menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping. Tahun ini, Pemkot Makassar menargetkan penghentian sistem tersebut sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup dengan beralih ke metode sanitary landfill.

“Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan,” tuturnya.

Selain itu, Pemkot Makassar saat ini tengah menyiapkan proyek strategis berupa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste to Energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun.

Proyek tersebut ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt.

“Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan,” jelas Ketua IKA FH Unhas tersebut.

Appi juga mendorong penguatan sinergi dengan berbagai pihak agar produk hasil olahan sampah dapat terus dipasarkan melalui kelompok reseller masyarakat seperti yang dilakukan RAPPO Indonesia.

Selain fokus pada pengelolaan sampah, Nusantara Infrastructure disebut turut berkontribusi dalam program penurunan angka stunting di Kota Makassar melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah.

Lebih lanjut, Pemkot Makassar terus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah organik maupun anorganik.

Untuk sampah organik, pemerintah mengembangkan konsep pertanian lahan sempit berbasis kompos hingga tingkat kelurahan dan rukun warga (RW). Salah satu inovasi yang dikembangkan yakni teba modern, metode pengolahan sampah organik menggunakan lubang kompos yang dapat dipanen dalam waktu lima hingga enam bulan.

“Pupuk kompos ini kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk bertani di lahan-lahan sempit, sehingga setiap sudut kota yang tidak terpakai bisa menjadi produktif,” ungkapnya.

Selain itu, program budidaya maggot juga terus dikembangkan sebagai solusi pengolahan sampah organik. Menurut Appi, satu kilogram maggot mampu mengolah hingga lima kilogram sampah sekaligus bernilai ekonomis sebagai pakan ternak.

“Kami berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat terus diperluas demi menciptakan Kota Makassar yang lebih bersih,” pungkasnya.

Diketahui, program Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Pannampu dimulai dari edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga. Sampah terpilah kemudian disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara sebagai pusat pengumpulan dan pengelolaan awal.

Selanjutnya, sampah plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE diproses oleh RAPPO Indonesia menjadi produk daur ulang bernilai jual.

Program ini juga melibatkan perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia dalam proses pembersihan dan pencacahan plastik sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

Produk hasil daur ulang tersebut kini telah dipasarkan hingga Makassar, Jakarta, dan Bali sebagai bagian dari penguatan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korban Pencabulan di Ponpes Pati Kemungkinan Bertambah
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BYD Salip Honda, Peta Persaingan Mobil di RI Makin Sengit Awal 2026
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
GREEN for Riau Dikebut, Pemprov Bidik Pendanaan Karbon Internasional pada 2027
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Daftar Tenant Indonesia Women Fest 2026, Ada Wardah hingga Somethinc
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Eks Asisten Shin Tae-yong Bangga Bisa Bantu Persijap Jepara Lolos Degradasi: Tidak Menyerah hingga Akhir!
• 12 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.