FAJAR, MAKASSAR — Nama Darije Kalezic kembali berembus kuat di tengah situasi penuh evaluasi yang sedang dialami PSM Makassar. Setelah menjalani musim yang berat dan nyaris terseret ke jurang degradasi, Pasukan Ramang kini mulai dikaitkan dengan kemungkinan reuni bersama sosok yang pernah menghadirkan salah satu momen paling emosional dalam sejarah klub.
Rumor kembalinya Kalezic untuk musim 2027 perlahan memunculkan harapan di kalangan suporter PSM.
Meski masa pengabdiannya tidak berlangsung lama seperti Bernardo Tavares, kehadiran Kalezic tetap meninggalkan jejak mendalam di hati publik Makassar. Pelatih asal Bosnia itu dianggap sebagai salah satu figur yang sukses mengembalikan identitas kompetitif PSM setelah penantian panjang tanpa trofi.
Musim 2019 menjadi titik paling bersejarah dalam kiprahnya.
Di bawah kepemimpinan Kalezic, PSM akhirnya berhasil meraih gelar Piala Indonesia 2019. Trofi tersebut terasa sangat spesial karena mengakhiri penantian panjang selama 19 tahun tanpa gelar nasional.
Saat itu, PSM tampil dengan karakter permainan agresif dan penuh keberanian. Atmosfer Stadion Andi Mattalatta begitu hidup, sementara hubungan antara tim dan suporter terasa sangat kuat.
Namun di balik keberhasilan itu, perjalanan Kalezic sebenarnya tidak mudah.
Ia datang ke Makassar dalam situasi skuad yang sudah terbentuk sebelumnya. Bahkan sang pelatih pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam proses perekrutan pemain musim 2019.
Menurut Kalezic, proyek yang ia bangun bersama PSM sejatinya belum selesai.
“Apa yang kami lakukan sebenarnya baru awal dari proses panjang. Saya datang ketika tim sudah terbentuk, dan seharusnya pembangunan sesungguhnya berjalan pada musim berikutnya,” ujar Kalezic dalam kutipan yang telah disunting ulang.
Pernyataan itu kini kembali ramai dibicarakan seiring munculnya rumor kepulangannya ke Makassar.
Banyak suporter merasa Kalezic belum benar-benar mendapatkan kesempatan penuh untuk membangun PSM sesuai visinya. Sebab meski sukses mempersembahkan trofi, performa tim di liga saat itu memang belum sepenuhnya stabil.
PSM kesulitan tampil konsisten di laga tandang sepanjang kompetisi Liga 1 2019. Situasi itu akhirnya membuat tekanan terhadap pelatih semakin besar, hingga pada Desember 2019 Kalezic memutuskan mengundurkan diri.
Keputusan tersebut cukup mengejutkan kala itu.
Sebab sehari sebelum laga melawan PS Sleman, Kalezic secara terbuka mengumumkan bahwa pertandingan tersebut akan menjadi laga terakhirnya bersama PSM.
“Besok akan menjadi pertandingan terakhir saya bersama PSM sebagai pelatih. Tetapi saya bangga pernah menjadi bagian dari klub ini,” ucapnya kala itu.
Meski berpisah, hubungan emosional antara Kalezic dan publik Makassar tidak pernah benar-benar hilang.
Ia masih dikenang sebagai pelatih yang menghadirkan trofi setelah penantian panjang. Bahkan gaya kepemimpinannya yang tenang namun tegas masih sering dibandingkan dengan beberapa pelatih yang datang setelahnya.
Kini, di tengah musim sulit yang dialami PSM, nama Kalezic kembali muncul sebagai sosok yang dianggap mampu membangun ulang fondasi tim.
Musim 2025/2026 memang menjadi salah satu periode paling berat bagi Pasukan Ramang dalam beberapa tahun terakhir. Dari tim yang pernah menjadi juara Liga 1, PSM justru harus berjuang keras menghindari degradasi.
Masalah finansial, sanksi transfer, pergantian pelatih, hingga inkonsistensi performa membuat klub kehilangan identitas permainan mereka sepanjang musim ini.
Karena itu, wacana menghadirkan kembali pelatih yang memahami kultur PSM mulai mendapat dukungan luas.
Kalezic dinilai cocok karena bukan hanya memahami tekanan besar di Makassar, tetapi juga pernah berhasil membangun hubungan emosional kuat dengan pemain dan suporter.
Selain itu, reputasinya dalam mengembangkan pemain muda menjadi salah satu alasan utama namanya kembali diperhitungkan.
Saat pertama datang ke PSM, salah satu tugas utama yang diberikan kepadanya memang bukan sekadar menghadirkan trofi, tetapi juga membangun regenerasi pemain. Filosofi itu dianggap masih relevan dengan kebutuhan PSM saat ini yang membutuhkan pembangunan jangka panjang, bukan sekadar hasil instan.
Meski hingga kini belum ada pernyataan resmi dari manajemen, rumor kepulangan Kalezic terus berkembang di kalangan suporter.
Bagi sebagian pendukung PSM, kembalinya sang pelatih bukan hanya soal nostalgia. Mereka melihatnya sebagai peluang untuk memulai kembali proyek besar yang dulu terasa belum selesai.
Dan mungkin, setelah bertahun-tahun berlalu, Darije Kalezic memang masih memiliki “utang cerita” bersama PSM Makassar.
Sebab di kota yang penuh gairah sepak bola itu, namanya belum pernah benar-benar dilupakan.





