Sejumlah kamera kecil dipasang pada tubuh David Park, Manajer Makanan dan Minuman Hotel Lotte, salah satu hotel bintang lima di Seoul, Korea Selatan. Kamera-kamera itu menempel di bagian kepala, dada, dan tangannya.
Begitu kamera menyala, David dengan cekatan mempraktikkan cara melipat serbet di meja perjamuan, persis seperti rutinitas kesehariannya selama sembilan tahun bekerja di Hotel Lotte. Setiap detail gerakan David direkam dan dimasukkan ke dalam sistem data. Kelak, data tersebut akan digunakan untuk melatih robot—termasuk robot humanoid—agar mampu melakukan hal serupa.
Park menjalani proses ini sebulan sekali. Terkadang, ia mengeluhkan proses perekaman tersebut kepada insinyur yang bertugas, sebab sabuk kamera di tubuhnya dipasang terlalu ketat sehingga membuatnya kurang nyaman. Selain Park, sepuluh staf lain dari departemen makanan dan minuman Hotel Lotte juga berpartisipasi melakukan hal yang sama untuk merekam cara kerja mereka.
Setelah melipat serbet menjadi persegi berlapis yang rapat, Park menyeka gelas anggur, pisau, dan garpu di sudut ruang perjamuan. Sementara itu, staf lainnya bersiap untuk melaksanakan tugas pelayanan yang lain.
Jaringan hotel tersebut merupakan salah satu dari banyak perusahaan yang bekerja sama dengan start up akal imitasi asal Korea Selatan, RLWRLD (dibaca: Real World), untuk menciptakan basis data sekaligus perpustakaan keahlian manusia yang luas.
Basis data tersebut dikumpulkan dari para pekerja terampil di berbagai sektor industri, guna mengembangkan otak akal imitasi bagi robot-robot yang kelak mungkin akan hadir di lingkungan industri maupun rumah tangga
Proses perekaman dan pengumpulan data untuk robot AI yang dilakukan RLWRLD. AP/LEE JI MAN
AP/LEE JIN MAN
David Park, manajer makanan dan minuman Hotel Lotte Seoul mendemonstrasikan layanan di meja perjamuan. AP/LEE JIN MAN
Selain Hotel Lotte, RLWRLD juga mengumpulkan data serupa dari para pekerja logistik di CJ. Perusahaan tersebut merekam bagaimana pekerja menggenggam, mengangkat, dan menangani barang di gudang, serta melacak cara kerja staf di jaringan toko serba ada Jepang, Lawson, saat mereka menata tampilan makanan.
Menurut para insinyur RLWRLD, upaya meniru ketangkasan tangan manusia guna menciptakan mesin mirip manusia atau humanoid menjadi prioritas utama yang akan mendorong perkembangan teknologi AI ini.
Tujuannya adalah membangun lapisan perangkat lunak AI yang dapat diaplikasikan pada robot untuk berbagai pekerjaan di pabrik dan sektor lainnya dalam beberapa tahun mendatang. Dalam proyeksi yang lebih luas, robot-robot humanoid ini juga berpotensi digunakan di tiap-tiap rumah tangga.
RLWRLD termasuk dalam gelombang perusahaan dan produsen teknologi tinggi Korea Selatan yang tengah bersaing di ranah global untuk memperebutkan pasar ”akal imitasi fisik”. Istilah ini merujuk pada mesin yang dilengkapi dengan AI dan sensor, sehingga mampu merasakan, memutuskan, serta bertindak di lingkungan dunia nyata dengan tingkat otonomi tertentu.
Kemampuan robot ini jauh melampaui fungsi robot di pabrik konvensional yang umumnya hanya dirancang untuk melakukan tugas-tugas berulang.
Meski masih belum jelas apakah mesin-mesin ini akan sepenuhnya memenuhi harapan transformasi industri, pengembangan teknologi yang sedang dilakukan penting bagi ambisi Korea Selatan untuk memanfaatkan kekuatan semikonduktor dan manufakturnya guna menjadi kekuatan AI.
Persaingan pun sangat ketat, terutama dengan raksasa teknologi Amerika Serikat, seperti Tesla, dan sejumlah besar perusahaan China yang menginvestasikan miliaran dolar AS ke dalam robot humanoid dan robot AI lainnya.
Sama halnya dengan chatbot seperti ChatGPT dan Gemini yang dilatih dengan sejumlah besar teks internet, robot AI juga membutuhkan data ekstensif tentang tindakan manusia untuk menangani tugas-tugas fisik tingkat lanjut.
Korea Selatan mungkin kesulitan bersaing dalam pengembangan chatbot, mengingat kemampuan berbahasa Inggris memberikan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan AS.
Robot humanoid yang dikembangkan oleh perusahaan AS dan China telah menunjukkan kemampuan fisik yang mengesankan. Pada April lalu, maraton robot humanoid digelar di Beijing, China. Ajang tahunan tersebut merupakan penyelenggaraan untuk yang kedua kalinya.
Hyemin Cho, konsultan yang bertanggung jawab atas strategi bisnis di RLWRLD, mengatakan bahwa kemampuan melakukan tugas-tugas rumit dengan tangan akan menentukan apakah robot humanoid dapat digunakan secara luas, baik di lingkungan industri maupun rumah tangga. ”Mengumpulkan data gerakan di lingkungan dunia nyata sangat penting, dan kualitas data tersebut sangat berpengaruh,” katanya.
Meski menghadapi tantangan berat dari AS dan China, Korea Selatan justru melihat peluang yang lebih baik dalam AI fisik. Salah satu keunggulannya adalah basis pekerja terampil yang kuat di bidang manufaktur dan sektor lainnya, yang dapat diandalkan untuk membantu melatih sistem robot.
Bulan lalu, pemerintah Korea Selatan mengumumkan proyek senilai 33 juta dolar AS untuk mengumpulkan ”pengetahuan dan keterampilan naluriah” dari para ”teknisi ahli” ke dalam basis data guna mendukung manufaktur bertenaga AI. Proyek ini diharapkan dapat menciptakan robot yang akan membantu meningkatkan produktivitas, sekaligus menjadi solusi untuk mengimbangi masalah penuaan dan penyusutan jumlah tenaga kerja.
RLWRLD sendiri baru saja meluncurkan model dasar robotikanya, yakni sebuah sistem AI untuk robot. Perusahaan ini memperkirakan bahwa robot AI untuk industri akan dapat diterapkan secara besar-besaran pada kisaran tahun 2028. Perkiraan jangka waktu tersebut juga banyak diyakini oleh berbagai perusahaan teknologi besar lainnya.
Hyundai Motor berencana memperkenalkan robot humanoid buatan unit robotikanya, Boston Dynamics, di pabrik-pabrik globalnya dalam beberapa tahun mendatang. Pabrik mereka di Georgia akan menjadi salah satu yang pertama memulainya pada tahun 2028.
Sementara itu, raksasa cip Samsung Electronics berencana mengubah seluruh lokasi manufakturnya menjadi ”pabrik yang digerakkan oleh AI” pada tahun 2030. Kelak, robot humanoid dan robot khusus akan beroperasi secara menyeluruh di setiap lini produksi.
”Korea Selatan memiliki sektor manufaktur yang sangat maju dan fokusnya sepenuhnya diarahkan pada robot humanoid yang dirancang khusus untuk industri tersebut,” kata Billy Choi, profesor di Pusat Penelitian AI Universitas Korea.
Saat ini, robot humanoid masih membutuhkan waktu hingga beberapa jam untuk membersihkan satu kamar tamu. Durasi tersebut masih lebih lama jika dibandingkan dengan pekerja manusia yang umumnya hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit.
Meski demikian, Hotel Lotte berharap robot-robot tersebut sudah siap dioperasikan untuk membersihkan kamar dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya pada tahun 2029. Mereka juga berencana menyediakan layanan penyewaan robot bagi industri perhotelan dan jasa lainnya, serta tidak menutup kemungkinan untuk memperluas layanan tersebut hingga ke ranah rumah tangga. (AP)





