Liputan6.com, Jakarta - Media digital tidak lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi berkembang menjadi arena strategis yang memengaruhi ideologi, politik, ekonomi, hingga keamanan. Kondisi tersebut dinilai sebagai ancaman sekaligus peluang dalam konteks ketahanan nasional.
Fenomena tersebut dibahas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat dalam diskusi nyemah atikan penyiaran rangkaian Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) bertajuk Gen Z Media Habits: A Pancagatra Perspective di Aula Mandalasaba, Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Rabu, 13 Mei 2026.
Advertisement
Ketua KPID Jabar, Adiyana Slamet, mengungkapkan, pembahasan kali ini merupakan pengembangan dari kajian sebelumnya yang berfokus pada psikologi. Pendekatan terbaru dinilai lebih luas karena mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
“Kami melihat situasinya sudah darurat dalam berbagai aspek, termasuk dalam konteks Pancagatra,” ujar Adiyana di sela acara yang melibatkan Lemhannas, Universitas Pasundan, DPRD, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Ia menjelaskan media tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga berpotensi mengubah struktur kehidupan berbangsa. Pengaruh tersebut dinilai perlu dipetakan secara menyeluruh untuk merumuskan kebijakan yang tepat.
“Kita ingin melihat apakah media ini mendekonstruksi ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, hingga pertahanan dan keamanan,” jelasnya.
Ketua Ikatan Alumni FISIP Unpas (IKA FISIP Unpas) tersebut menegaskan hasil riset yang dilakukan selama enam bulan pada 2025 menjadi dasar penyusunan kebijakan. Pemetaan tersebut akan digunakan sebagai rujukan dalam merumuskan rekomendasi strategis.
“Pemetaan ini akan menjadi rekomendasi kebijakan KPID Jawa Barat,” tegas Adiyana.
KPID Jabar memetakan perilaku dan dampak konsumsi media digital pada generasi muda. Penelitian tersebut mengungkap Gen Z memiliki potensi besar dalam ekonomi digital, tetapi juga menghadapi ancaman terhadap ideologi, sosial budaya, hingga keamanan data.
Kajian tersebut melibatkan 601 responden berusia 15–24 tahun di enam klaster wilayah Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin kesalahan lima persen.
Analisis dilakukan menggunakan kerangka Pancagatra yang mencakup lima aspek dinamis. Setiap aspek menunjukkan kekuatan sekaligus potensi risiko dari ekosistem media digital.
Pada aspek ideologi, 76,71 persen responden mendukung nilai Pancasila dalam ruang digital. Namun, 64,73 persen mengaku mampu mendeteksi masuknya ideologi asing yang diperkuat fenomena echo chamber.
Dalam aspek politik, sekitar 80 persen responden mendukung regulasi konten digital. Namun, 80,20 persen mengakui pandangan politik banyak dipengaruhi media sosial.
Kondisi tersebut menunjukkan potensi paparan hoaks dan filter bubble yang dapat merusak kualitas demokrasi. Media digital dinilai memiliki peran besar dalam membentuk persepsi politik generasi muda.
Pada aspek ekonomi, 89,18 persen Gen Z menunjukkan antusiasme tinggi terhadap ekonomi kreatif digital. Potensi ini dinilai besar, tetapi dibayangi dominasi platform asing serta ketimpangan akses.
Dalam dimensi sosial budaya, 73,21 persen responden percaya media dapat memperkuat budaya lokal. Sebanyak 77 persen tertarik pada konten Sunda, namun 52,41 persen mengakui dominasi budaya asing.
Fenomena phubbing juga dialami lebih dari 70 persen responden. Kondisi ini berdampak pada menurunnya etika interaksi serta kualitas hubungan sosial.
Pada aspek pertahanan dan keamanan, 85,19 persen responden menyadari pentingnya perlindungan data pribadi. Namun, 86,35 persen mengaku pernah mengalami atau mengetahui penyalahgunaan data.
Temuan tersebut menunjukkan ancaman serius terhadap kedaulatan data di ruang siber. Praktik seperti doxing menjadi indikator lemahnya perlindungan digital.




