Anggota DPRD Jember, Achmad Syahri Assidiqi, ramai dibahas di media sosial. Syahri terekam kamera saat sedang asyik merokok sembari bermain game di dalam ruang rapat, sementara peserta rapat lainnya tengah membahas masalah anggaran dan penanganan kesehatan masyarakat.
Perbuatan Syahri ini pun menuai sorotan dari netizen. Banyak yang belum pernah mendengar namanya sebelumnya. Berikut adalah profil Syahri, dirangkum oleh kumparan.
Profil SyahriSyahri lahir di Kabupaten Jember, tanggal 21 Juni 1999. Ia adalah anak sulung dari pasangan Achmad Fadil Muzakki Syah dengan Siti Aminah yang menikah pada tahun 1998.
Dia tumbuh dalam lingkungan Pondok Pesantren Al Qodiri di Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Sebuah pesantren terkemuka dengan ribuan santri yang diasuh oleh kakeknya, KH Achmad Muzakki Syah.
Syahri bergelar SE (Sarjana Ekonomi) yang menandakan lulus jenjang pendidikan strata satu setelah menamatkan kuliah di Institut Agama Islam (IAI) Al Qodiri.
Kampus yang terdapat dalam lingkungan pesantren keluarga Syahri itu telah beralih nama menjadi Universitas Islam KH Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS).
Syahri mengejutkan banyak orang karena mendadak masuk gelanggang politik dengan bergabung ke Partai Gerindra pada Pemilu Legislatif tahun 2024. Apalagi, maju lewat Dapil 6 DPRD Jember yang jauh dari kampung halamannya.
Di samping itu, ayahnya, Achmad Fadil Muzakki Syah merupakan Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Bondowoso sekaligus masih menjadi anggota DPR RI dari NasDem kala itu.
Pencapaian Syahri di luar dugaan. Walaupun bertarung di Dapil 6 DPRD Jember yang meliputi Kecamatan Puger, Gumukmas, Kencong, dan Jombang, ia justru mampu meraup 12.102 suara.
Pria berperawakan kurus ini pun sukses melenggang ke kursi wakil rakyat. Resmi dilantik sebagai anggota DPRD Jember pada tanggal 21 Agustus 2024.
Kerap disepelekan dengan usianya yang masih sangat muda, hanya 25 tahun kala itu, ia sudah mampu melampaui raihan suara politisi yang lebih senior, membuat Syahri tidak begitu saja berdiam diri.
Ia sempat membuat pernyataan untuk menepis keraguan berbagai pihak tentang kemampuannya menggalang dukungan politik. Meskipun tidak frontal, Syahri membela diri.
Menurut dia, selain bakat alamiah berpolitik, kemampuannya terbentuk oleh lingkungan pesantren. Tidak semata-mata berpangku tangan mengandalkan pengaruh politik keluarganya.
Syahri mengaku belajar politik dengan mengikuti kaderisasi dalam organisasi para aktivis-aktivis kampus IAI Al Qodiri. Disamping mencermati ayah dan kakeknya yang sering dikunjungi para tokoh nasional, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Prabowo Subianto.
"Saya besar di pesantren. Dulu mondok di Genggong-Probolinggo sampai SMA, kemudian kuliah saat kembali di Jember. Ikut organisasi dan kegiatan lain, akhirnya masuk politik di Gerindra," ungkapnya usai dilantik.
Blak-blakan, Syahri menyebut dari koceknya hanya keluar uang sekitar Rp 100 juta untuk maju Pileg. Uang itu digunakan untuk biaya transportasi dan alat peraga kampanye tanpa membeli suara.
Pengamatan selama dua tahun Syahri menjadi anggota Dewan, performanya di ruang legislatif tidaklah menonjol. Syahri nyaris tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang kritis apalagi membuat gaduh dengan suara lantang di panggung rapat para wakil rakyat.
Namun, Syahri sangat rajin masuk kantor. Kerap ikut rapat dengar pendapat atau hearing. Terutama hearing yang memanggil instansi mitra Komisi D.
Publik baru tersentak dengan Syahri usai rekaman hearing antara Komisi D dengan Dinas Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan Puskesmas se-Jember pada Senin, 11 Mei 2026 lalu.
Bukan tentang bantah-bantahan atau adu argumen, melainkan gegara Syahri kepergok mengusap-usap ponsel untuk bermain games Clash of Clans (CoC) sembari menghisap rokok.
Syahri tidak sekadar menuai kecaman publik. Dia harus menghadapi ancaman sanksi kode etik Badan Kehormatan DPRD Jember serta akan disidang Mahkamah Partai Gerindra.





