Bisnis.com, SURABAYA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa cadangan beras nasional per hari ini, Rabu (13/5/2026), telah menyentuh 5,3 juta ton. Stok komoditas karbohidrat utama masyarakat tersebut diklaim mencapai pasokan tertinggi sejak era pemerintahan Presiden Soeharto.
Tak berhenti sampai di situ, Amran juga mematok target angka cadangan beras nasional naik hingga 5,5 juta ton pada akhir bulan atau pertengahan 2026.
"Alhamdulillah, hari ini kita mencapai stok tertinggi dalam sejarah yaitu 5,3 juta ton. Mudah-mudahan bulan depan bisa mencapai atau akhir bulan 5,5 juta ton, dan ini adalah tertinggi selama Republik ini merdeka," ujar Amran saat berkunjung di Gudang Sewa Bulog kawasan Romokalisari, Kota Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Selain itu, Amran juga memaparkan data pertumbuhan ekonomi di sektor agraria yang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Amran, pendapatan domestik bruto (PDB) dari sektor pertanian tercatat mengalami lonjakan tajam dari semula 0,67% menjadi 5,7% sepanjang masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Capaian ini juga diklaimnya sebagai catatan tertinggi dalam 25 tahun terakhir bahkan dalam sejarah Republik Indonesia.
"Sekarang itu naik 5,7%, tertinggi selama 25 tahun dan mungkin tertinggi sepanjang sejarah," jelasnya.
Amran menyampaikan, seluruh capaian tersebut berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik, organisasi pangan dan pertanian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa Food and Agriculture Organization (FAO), hingga pemerintah Amerika Serikat.
Baca Juga
- Amran Bantah Isu Stok Beras Kurang: Dorong Impor, Berarti Antek Asing
- Stok Beras Bulog Tembus 5,3 Juta Ton, Siap Bangun 100 Gudang Rp5 Triliun
- Bapanas Siapkan Strategi Jaga Keseimbangan Harga Gabah dan Beras
"Data ini adalah data dari BPS, produksi [beras] kita yaitu 34,6 juta ton, juga ini diaminkan oleh FAO. Ini 36 juta ton, juga dari Amerika Serikat, United States Department of Agriculture mengatakan 34,6 [juta ton]. Jadi, tiga data dari dunia maupun nasional mengatakan produksi kita 34 juta ton dan itu surplus 4 juta ton. Bukan kata Kementerian Pertanian," ujar dia.
Amran membandingkan capaian stok beras nasional saat ini dengan catatan yang dibukukan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto pada 1984. Ketika itu, Indonesia mendapat penghargaan FAO dengan stok beras Bulog sebesar 2,6 juta ton.
Namun, stok beras yang telah mencapai lebih dari 5 juta ton membuat pemerintah harus menyewa gudang-gudang tambahan untuk menyimpan pasokan komoditas tersebut.
"Kapasitas gudang hanya 3 juta ton. Sekarang 5 juta ton, sudah sewa 2 juta ton. Kalau ini data tidak benar, mana kepala gudang? Itu dipenjara tuh," ucapnya.
Amran juga menyinggung terkait kondisi pangan global yang sedang mengalami tekanan akibat krisis energi dan pupuk. Namun, kata Amran, Indonesia masih aman, bahkan mampu mengekspor pupuk ke Australia dan India.
"Kemudian masalah global pupuk. Pupuk kita bukan cukup, tapi ekspor. Lusa kami akan lepas ekspor ke Australia. Perdana menteri Australia meminta terima kasih, menelepon langsung Bapak Presiden [Prabowo Subianto]. Dua-tiga minggu lalu kalau tidak salah, meminta terima kasih atas bantuan Indonesia. Kita menjual pupuk. Kemudian, saya ditelepon langsung dubes India meminta 500.000 ton pupuk urea," ucapnya.
Lalu, Amran mengatakan bahwa Indonesia saat ini telah menyiapkan stok cadangan beras untuk menghadapi fenomena alam kekeringan berkepanjangan atau El Nino.
Berbagai mitigasi untuk menghadapi potensi gagal panen akibat ancaman kekeringan sudah dipersiapkan bahkan dilakukan, di antaranya perbaikan infrastruktur irigasi, skema tanam lebih awal, hingga penyiapan benih dengan daya tahan tinggi selama musim kemarau berlangsung.
"Nah, itu ancaman di negara lain. Untuk Indonesia, insyaallah kita sudah siapkan lebih baik. Dulu, El Nino 2015 kita siapkan infrastruktur. Kemudian 2023-2024, El Nino. Kita alhamdulillah justru 2025 karena infrastruktur kita perbaiki dengan cepat, sarana produksi kita perbaiki kualitasnya seperti benih, bibit, benih unggul yang tahan kekeringan," katanya.
Dalam perhitungannya, lanjut Amran, stok cadangan beras nasional dalam menghadapi El Nino ini dikalkulasikan pihaknya mampu mengakomodasi konsumsi masyarakat hingga Maret 2027 mendatang.
"Nah, kami hitung kalkulasi. Sekarang stok kita 5,3 juta ton. Standing crop kita 11 juta ton. Kemudian juga di horeka, hotel, rumah-rumah, itu 12 juta ton. Totalnya 28 juta ton. Itu bertahan 11 bulan. Kalau kita hitung 11 bulan kekuatan kita setelah panennya standing crop ini. Jadi sampai Maret tahun depan cukup stok kita sekarang," ujar dia.
Sementara itu, untuk menghadapi prediksi El Nino Godzilla, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu juga menyebut stok cadangan beras Indonesia mencukupi hingga 6 bulan ke depan.
"Sedangkan El Nino Godzilla yang diprediksi, mudah-mudahan tidak benar, itu 6 bulan, sedangkan kekuatan kita 11 bulan, tetapi perlu diingat selama El Nino itu produksi minimal 2 juta ton. Kalau 2 juta kali 6, berarti 12 juta. Artinya apa? Bisa sampai bulan Juli, Agustus. Paham maksudnya? Jadi, enggak ada masalah kan? Karena kita sudah persiapkan sejak awal," pungkasnya.





