Oleh: KH Mukti Ali Qusyairi, penasihat Lembaga Bahstul Masail NU DKI Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Apakah kitab-kitab Syekh Yusuf Al-Qaradhawi (SYQ) mu'tabarah/kredibel atau tidak? Ada yang bilang tidak.
Konon pendapat yang menyatakan bahwa kitab-kitab karya SYQ tidak kredible adalah KH Muhibbul Aman Aly, senior saya dan sama-sama menjadi perumus Bahtaul Masail di pesantren Lirboyo Kediri serta rois suriyah PBNU.
Baca Juga
Mesir Kirim Jet Tempur ke Uni Emirat Arab, Begini Tanggapan Santai Iran
Media Inggris Ungkap Retaknya Hubungan Trump dan Netanyahu, Dulu Saling Dukung Kini Saling Tuduh
Hizbullah, Para Pemburu Mematikan, dan 3 Pesan Kuat untuk Tentara Israel
Tetapi menurut saya, dalam menimbang kitab-kitab karya SYQ sebaiknya proporsional dan melihat tahawwulat (transformasi) dua pandangan (kalam) SYQ yakni kalam qadim (pendapat lama) sebelum Musim Semi Arab yang sangat ilmiyah, jernih, berbasis kitab klasik, menggunakan metodologi, dan jauh dari bias politik, dan kalam jadid (pendapat baru) pasca Musim Semi Arab yang bias politik (IM).
Fikih zakat, fikih aqaliyat (minoritas), dan lainnya adalah produk kalam qadim SYQ. Kalam qadim SYQ serupa dengan Syekh Wahbah Zukhaili.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Begitu baru saja saya menulis di status facebook karena merespons persoalan yang sedang viral itu. Dalam tulisan ini saya ingin lebih luar lagi menjelaskan apa yang saya kemukakan di Facebook saya itu. Agar pembaca bisa lebih bisa memahaminya.
Yusuf Al-Qaradhawi berpulang ke haribaan Allah SWT pada Senin, 26 September 2022 di Doha Qatar.
Yusuf Al-Qaradhawi memiliki kalam qadim (pendapat lama) dan kalam jadid (pendapat baru). Kalam qadimnya mirip dengan pandangan mayoritas muslim Indonesia terutama NU.
Tapi setelah Arab Spring atau al-Rabi' al-'Arabiy, ISIS, Ikhwanul Muslimun, dan yang sejenisnya muncul, Yusuf Al-Qaradhawi mengeluarkan kalam jadid yang banyak berbeda dengan kalam qadimnya.
Kalam qadim Yusuf Al-Qaradhawi wasathiyat, tasamuh, menghargai ta'addudiyat al-ara (keragaman pendapat) dan wathaniyah (kebangsaan) yang berangkat dari pemahamannya terhadap turats.