Bisnis.com, JAKARTA - Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT PLN Indonesia Power mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 megawatt (MW). Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Tarif di Bandung, Jawa Barat.
Dalam pengumuman perusahaan, Rabu (13/5/2026), kesepakatan tarif ini menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan proyek sebelum memasuki fase berikutnya melalui skema Independent Power Producer (IPP). Proyek tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber energi bersih berkelanjutan.
PLTP Lahendong Bottoming Unit dikembangkan dengan teknologi binary atau bottoming cycle yang memanfaatkan panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi eksisting untuk menghasilkan tambahan listrik. Teknologi tersebut memungkinkan panas yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi energi listrik sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan capaian tersebut menjadi langkah lanjutan sinergi PGE dan PLN Indonesia Power dalam mendukung percepatan transisi energi nasional berbasis energi bersih.
Menurut dia, teknologi bottoming cycle memungkinkan potensi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit eksisting dimanfaatkan lebih optimal.
“Melalui teknologi ini, panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik, sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus memperkuat kontribusi panas bumi dalam bauran energi bersih nasional,” ujar Ahmad Yani.
Setelah kesepakatan tarif tercapai, proyek akan memasuki sejumlah tahapan lanjutan, mulai dari pembentukan joint venture, proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), hingga penyusunan Power Purchase Agreement (PPA). Proyek tersebut ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, PGEO dan PLN Indonesia Power juga mencapai kesepakatan tarif listrik untuk proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 MW. Kedua proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan 19 proyek panas bumi eksisting dengan total kapasitas sekitar 530 MW.
Sebagai pengembang panas bumi, PGEO saat ini mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi. Perseroan juga tengah mengembangkan sejumlah proyek tambahan guna meningkatkan kapasitas pembangkit panas bumi dalam beberapa tahun mendatang.





