Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh yang mengolah menu Makan Bergizi Gratis (MBG) penyebab keracunan 200 siswa, akhirnya mengakui tidak punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Pengakuan itu disampaikan Chafi Alida Najla Kepala SPPG Bubutan Tembok Dukuh, saat menghadiri hearing atau rapat dengar pendapat, di DPRD Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, pengajuan pengurusan SLHS itu sudah dilakukan sejak sebelum dapur tersebut beroperasi 2 Februari 2026.
“Tinggal verifikasi saja, belum (terbit SLHS),” kata Chafi menjawab Arif Fathoni Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya dalam hearing, Rabu (13/5/2026).
Kemudian, Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK) juga baru tahap pendaftaran. “Verifikasi faktual, SKRK baru pendaftaran,” imbuhnya.
Dia membenarkan SLHS itu belum dikantongi karena sedang proses menunggu verifikasi.
“Belum (punya SLHS),” tegasnya kepada suarasurabaya.net usai hearing.
Chafi Alida Najla Kepala SPPG Bubutan Tembok Dukuh saat meminta maaf usai menyebut sertifikasinya sudah lengkap, padahal belum punya SLHS, Rabu (13/5/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.netPada kesempatan itu, Chafi meminta maaf atas pernyataannya sebelumnya Senin (11/5/2026) lalu di SPPG, yang mengatakan sudah mengantongi sertifikat lengkap.
“Mohon izin saya Chafi saya di sini mau meminta maaf karena kemarin itu mungkin kesalahpahaman dari saya karena saya mengiranya untuk segala proses yang saya pahami adalah dari proses pendaftaran gitu. Tapi, memang kami sedang proses dan ada beberapa sertifikat seperti SLHS yang masih belum saya kantongi dan saya tinggal satu step terakhir sebenarnya seperti itu. Tinggal verifikasi saja,” bebernya.
Untuk sertifikat selain SLHS, dia menyatakan sudah memenuhinya. Sertifikat penjamah makanan, sertifikat halal, dan lainnya.
Sementara itu, Kusmayanti Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya bilang, SLHS itu tinggal menunggu sertifikasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) yang belum melakukan inspeksi.
“Dinkesnya kan memang belum juga melakukan inspeksi. Bukan menyalahkan Dinkes tapi kan memang itu adalah prosedurnya. Untuk mendaftarkan ada berkas-berkas yang harus dilengkapi,” tutupnya.
Kusmayanti mengakui, SPPG Bubutan Tembok Dukuh yang memproduksi MBG penyebab keracunan 200 siswa memang belum higienis.
“Betul (belum higienis),” tegasnya. (lta/rid)




