EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan bahwa operasi blokade laut terhadap Iran masih terus berlangsung. Dalam perkembangan terpisah, ledakan besar dilaporkan mengguncang wilayah pegunungan di Provinsi Fars, Iran, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan kembali opsi militer terhadap Teheran.
Menurut informasi yang diumumkan pada Senin, 11 Mei 2026, CENTCOM menyatakan bahwa operasi militer laut Amerika masih difokuskan untuk menekan pergerakan kapal yang berkaitan dengan Iran. Situs resmi CENTCOM juga menampilkan aktivitas militer AS di kawasan Teluk Oman dan Laut Arab, termasuk operasi terhadap kapal berbendera Iran serta pengalihan kapal dagang dalam rangka penegakan blokade.
Dalam laporan yang beredar, disebutkan bahwa sedikitnya 62 kapal dagang terpaksa mengubah rute pelayarannya akibat situasi tersebut. Selain itu, empat kapal lain dilaporkan kehilangan kemampuan operasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan maritim terhadap Iran belum mereda, bahkan justru semakin luas.
Pada hari yang sama, wilayah pegunungan di Provinsi Fars, Iran, mendadak diguncang ledakan dahsyat. Sejumlah warga setempat mengaku sempat melihat benda terbang tak dikenal menghantam sebuah lokasi sebelum ledakan terjadi. Rekaman video yang beredar memperlihatkan asap tebal membumbung tinggi ke langit, disertai suara ledakan beruntun yang sangat keras.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan tersebut belum dapat dipastikan secara independen. Namun, sejumlah spekulasi menyebutkan bahwa ledakan itu kemungkinan dipicu oleh serangan kecil, bom mikro, atau amunisi yang mengenai fasilitas bawah tanah di kawasan pegunungan. Jika benar, lokasi tersebut diduga memiliki kaitan dengan gudang persenjataan atau infrastruktur militer tersembunyi Iran.
Situasi semakin rumit setelah televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Kuwait serta Uni Emirat Arab. Dalam laporan itu disebutkan bahwa sebagian besar serangan difokuskan ke wilayah UEA, dengan klaim lebih dari 2.800 rudal dan drone diarahkan ke negara tersebut. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi menunjukkan betapa seriusnya eskalasi militer di kawasan Teluk.
Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, juga dilaporkan menyatakan bahwa UEA sedang memperkuat hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat secara besar-besaran. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa negara-negara Teluk mulai mengambil posisi lebih tegas di tengah meningkatnya ancaman Iran.
Di luar Iran, gerakan oposisi pendukung Dinasti Pahlavi juga terlihat semakin aktif. Pada 11 Mei 2026, media “Kaiyuan Alert” melaporkan bahwa kelompok oposisi Iran di luar negeri menggelar demonstrasi besar di pusat kota Kopenhagen, Denmark. Mereka tampil mengenakan seragam militer yang seragam dan menunjukkan formasi yang rapi.
Seorang netizen bernama “Lion” menulis komentar yang menarik perhatian: “Kami sudah siap. Persenjatai kami, latih kami, dan berikan dukungan intelijen serta perlindungan udara. Kami adalah jutaan rakyat Iran patriotik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.”
Ia juga membagikan video lain yang disebut direkam di Jerman pada 10 Mei 2026. Dalam video tersebut, kelompok oposisi Iran terlihat melakukan parade dengan pakaian seragam dan gerakan yang terkoordinasi. Aksi ini memicu perhatian publik internasional karena memperlihatkan adanya kesiapan sebagian kelompok diaspora Iran untuk mendukung perubahan politik di tanah air mereka.
Di Washington, Presiden Donald Trump dalam wawancara bersama Fox News mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali “Operation Freedom”. Kali ini, operasi tersebut disebut tidak hanya terbatas pada pengawalan kapal di Selat Hormuz, tetapi bisa memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Laporan Axios pada 11 Mei 2026 menyebutkan bahwa Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali aksi militer terhadap Iran. Axios juga melaporkan bahwa salah satu opsi yang dibahas adalah menghidupkan kembali operasi angkatan laut AS di Selat Hormuz sebagai tekanan tambahan terhadap Teheran.
Menurut laporan yang sama, Trump masih menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, penolakan Iran terhadap tuntutan utama Amerika, khususnya terkait program nuklir, membuat opsi militer kembali masuk ke meja pembahasan.
Pilihan yang dibahas Washington antara lain mengaktifkan kembali Operation Freedom, melanjutkan pengawalan kapal perang AS di Selat Hormuz, serta membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap target-target strategis di dalam Iran.
Dalam isu nuklir, Trump menyampaikan pernyataan keras bahwa Amerika “cepat atau lambat” akan mendapatkan uranium yang telah diperkaya milik Iran. Pasukan Antariksa Amerika Serikat disebut terus mengawasi lokasi penyimpanan uranium tersebut. Trump bahkan memperingatkan bahwa siapa pun yang mencoba mendekati lokasi itu dapat langsung dihancurkan oleh militer AS.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mendesak agar ancaman uranium Iran dihapus sepenuhnya. Israel dilaporkan mendorong opsi pengerahan pasukan khusus untuk merebut cadangan uranium yang telah diperkaya milik Iran.
Sementara itu, laporan The Guardian pada 11 Mei 2026 menggambarkan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh. Trump disebut menolak proposal perdamaian Iran, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus mengganggu jalur pelayaran dan rantai pasok global.
Dengan blokade laut yang masih berlangsung, ledakan misterius di wilayah Iran, meningkatnya aktivitas oposisi luar negeri, serta kemungkinan dimulainya kembali operasi militer Amerika, kawasan Timur Tengah kini memasuki salah satu fase paling berbahaya dalam konflik terbaru ini.
Jika Washington benar-benar menghidupkan kembali Operation Freedom dalam skala yang lebih besar, maka konflik AS-Iran berpotensi bergerak dari tekanan diplomatik dan blokade laut menuju babak konfrontasi militer yang jauh lebih terbuka. (***)



