Pidie Jaya: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya mengusulkan pembangunan 3.056 unit hunian tetap bagi korban bencana hidrometeorologi. Bencana tersebut sebelumnya melanda Pidie Jaya pada akhir November 2025.
Kepala Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie Jaya Okta Handifa mengatakan pembangunan hunian tetap tersebut diusulkan kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Pemkab Pidie Jaya mengusulkan sebanyak 3.056 unit hunian tetap untuk korban bencana hidrometeorologi. Ribuan hunian tetap tersebut diusulkan dibangun di sejumlah wilayah terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya," katanya, dilansir dari Antara, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca Juga :
543 Keluarga Korban Bencana Pidie Jaya Mulai Tempati HuntaraOkta mengatakan, dari 3.056 unit hunian tetap yang diusulkan, sebanyak 2.317 unit akan dibangun di lahan mandiri masing-masing penerima manfaat. Lahan tersebut dipastikan berada di lokasi yang aman dan tidak termasuk zona rawan bencana.
Sementara itu, sisanya akan dibangun di titik relokasi yang telah disiapkan pemerintah daerah. Terdapat lima titik relokasi untuk pembangunan hunian tetap tersebut.
"Untuk target pembangunan hunian tetap, masih menunggu konfirmasi dari BNPB dan Kementerian Perumahan dan Permukiman," ungkapnya.
Pekerja membangun rumah hunian untuk korban bencana di Sumatra. Foto: Youtube Septres.
Menyangkut hunian sementara bagi korban bencana hidrometeorologi, Okta mengatakan saat ini sudah terbangun 1.342 unit. Dari 1.342 unit hunian sementara tersebut, sebanyak 1.280 unit di antaranya sudah dihuni.
"Hunian sementara tersebut tersebar di 26 titik di Kabupaten Pidie Jaya. Dari 26 titik hunian tersebut, sebanyak 13 titik di antaranya dibangun BNPB, delapan titik dibangun Danantara, Kementerian PU dan Dompet Duafa masing-masing dua titik, serta Lembaga Kemanusiaan Kita Bisa membangun di satu titik," jelas Okta.
Bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Pidie Jaya akhir November 2025 karena hujan lebat berhari-hari menyebabkan meluapnya Krueng (sungai) Meureudu.
Luapan sungai tersebut menimbulkan banjir bandang yang membawa material kayu dan lumpur. Lumpur tersebut menimbun pemukiman penduduk dan fasilitas publik dengan ketinggian hingga dua meter.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5763398/original/043311900_1778666345-5.jpg)



