Pengusaha Biofarmasi dan Bahan Baku Obat Terimpit Pelemahan Rupiah

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan industri farmasi nasional, khususnya sektor biofarmasi dan bahan baku obat. 

Di satu sisi, anjloknya kurs rupiah menyebabkan kenaikan biaya impor bahan baku obat. Di sisi lain, lonjakan biaya impor itu tak bisa sepenuhnya dialihkan ke harga jual, terutama pada produk dimanfaatkan untuk program pemerintah dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dijalankan BPJS Kesehatan.

Ketua Asosiasi Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (AB3O) F.X. Sudirman mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi tantangan besar bagi industri saat ini. Apalagi, dalam 1 hingga 2 bulan terakhir nilai tukar dolar AS telah menguat sekitar 5%—6% sehingga langsung meningkatkan biaya impor bahan baku obat yang mayoritas masih berasal dari China dan India.

“Dalam 1 bulan ini dolar sudah naik 5% sampai 6%, dampaknya besar buat industri,” katanya kepada Bisnis, Rabu (13/5/2026).

Kendati begitu, jelasnya, tekanan terhadap sektor biofarmasi dan bahan baku obat makin berat karena pelaku usaha harus menyerap kenaikan biaya produksi tanpa ruang yang cukup untuk menyesuaikan harga jual. Kondisi itu terutama terjadi pada produk yang masuk dalam skema pengadaan pemerintah dan JKN.

Di satu sisi, biaya bahan baku terus meningkat akibat pelemahan rupiah. Namun, di sisi lain, mekanisme pembelian pemerintah membuat penyesuaian harga tidak bisa dilakukan secara cepat.

Baca Juga

  • Pemodal Jepang Siap Investasi US$1,4 Miliar di Sektor Farmasi, Bangun Industri Bahan Baku Obat
  • Taktik Penguat Imun Emiten Farmasi
  • Intip Peluang Saham Farmasi KLBF-SIDO saat Kurs Rupiah Kian Loyo

“Industri seperti terjepit. Input enggak ada kompromi, tapi biaya itu enggak bisa langsung ditransfer ke konsumen,” katanya.

Meski begitu, Sudirman menilai situasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri. Ketergantungan impor dinilai mulai bisa ditekan seiring bertambahnya kapasitas produksi lokal.

Dia menjelaskan impor bahan baku obat Indonesia pada era pandemi Covid-19 sangat tinggi dengan porsi hampir mencapai 100%. Namun, jelasnya, saat ini jumlah itu bisa ditekan hingga kisaran 15%–20%, khususnya lantaran 21 jenis bahan baku obat utama sudah bisa diproduksi di dalam negeri.

“Kalau 21 macam bahan baku obat itu enggak impor, bisa menurunkan impor sampai sekitar US$300 juta,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BAP Internal Temukan Pelanggaran SOP pada SPPG dalam Kasus Keracunan MBG Surabaya
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ngeri! Suami di Kebumen Diduga Aniaya Istri dan Mertua hingga Tewas
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
IHSG Dibuka Turun ke 6.763 Rabu Pagi
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MC Lomba Cerdas Cermat MPR Minta Maaf, Akui Ucapannya Tak Pantas
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Hakim: Kerugian Negara dalam Kasus Korupsi Chromebook Rp 5,25 Triliun
• 18 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.