Mentan Sebut RI Siap Ekspor Pupuk 500.000 Ton saat Harga Melambung

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, RI sanggup melakukan ekspor pupuk di tengah melambungnya harga komoditas tersebut hingga 35% imbas konflik di Timur Tengah.

Harga pupuk yang melonjak itu dipengaruhi oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah sejak Februari 2026 hingga menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar sepertiga kapal perdagangan pupuk dunia.

Pada saat yang sama, China juga menghentikan ekspor pupuk nitrogen utama. Hal tersebut berimplikasi pada harga urea global yang melonjak lebih dari 40% dalam hitungan pekan.

Amran mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyepakati perjanjian ekspor pupuk ke beberapa negara, seperti Australia dan India dengan jumlah mencapai sekitar 500.000 ton pupuk urea.

"Lusa kami akan lepas ekspor ke Australia. Perdana menteri Australia meminta terima kasih, menelepon langsung Bapak Presiden [Prabowo Subianto]. Kemudian, saya ditelepon langsung dubes India meminta 500.000 ton pupuk urea," ujar Amran.

Dengan kapabilitas negara yang mampu melakukan ekspor pupuk di tengah gangguan stabilitas global, Amran menyebut, Indonesia saat ini dalam keadaan aman dari guncangan rantai pasok akibat konflik geopolitik.

Baca Juga

  • Surplus Pupuk Belum Menjamin Ketersediaan di Petani Aman
  • Pupuk Indonesia Kurangi Ketergantungan Impor Sulfur dengan Beralih ke Asam Sulfat
  • Pupuk Indonesia Siap Ekspor ke Australia

"Nah, di saat terjadi guncangan pangan maupun sarana produksi dunia, Indonesia alhamdulillah stabil," tegasnya.

Tidak hanya itu, Amran juga menegaskan pihaknya telah mengambil langkah strategis dengan menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga sebesar 20% untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Dari segi distribusi, Amran juga menjelaskan pihaknya telah memangkas birokrasi panjang, dengan menyederhanakan 145 regulasi pupuk melalui Instruksi Presiden. Dengan begitu, alur kebijakan distribusi dapat dipercepat dari Kementerian Pertanian ke PT Pupuk Indonesia (Persero) hingga langsung para petani di seluruh pelosok negeri.

"Di saat pupuk langka di tingkat dunia, Indonesia menurunkan harga 20% dan itu tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri," ujarnya.

Meski begitu, Amran mengakui terdapat selisih harga yang timpang di wilayah tertentu. Hal tersebut, kata dia, dipengaruhi oleh biaya distribusi yang tinggi, khususnya di wilayah kepulauan.

"Terkadang ada satu wilayah yang naik karena ini transportasi. Kita ini negara kepulauan, bayangkan pulau kita 17.000 [pulau] seluruh Indonesia ini kita harus jangkau semua. Ini persoalan distribusi," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Mobil LCGC Ribut dengan Pemotor di Puncak Cianjur, Begini Faktanya
• 7 jam laludetik.com
thumb
Diduga Jadi Kurir Sabu, Sopir Mobil MBG di Depok Ditangkap Polisi
• 16 jam laluokezone.com
thumb
TNI AL Gagalkan Distribusi Ilegal Pasir Timah dan Berbagai Aktivitas Ilegal
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Nadiem Makarim Resmi Jadi Tahanan Rumah dalam Kasus Dugaan Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Di Tengah Tren Perlemahan Rupiah, Mendag Sebut Ekspor Masih Tumbuh Positif
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.