Film Dokumenter Ini Angkat Perjalanan Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Indonesia menargetkan emisi nol bersih (net zero emission/NZE) tercapai pada tahun 2060 sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan memperluas penggunaan energi bersih. Di tengah ambisi besar transisi energi nasional, sejumlah wilayah penghasil energi masih menghadapi keterbatasan akses listrik.

Realita ini diangkat dalam film dokumenter Pelita Asa yang menyoroti perjalanan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dalam menghadapi transisi energi dari batu bara menuju energi terbarukan. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa mulai membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal.

Baca Juga :
Langkah Prabowo Pangkas Bunga Kredit PNM Mekaar Dinilai Jadi Revolusi Keadilan Ekonomi
BRI Catatkan Profitabilitas Solid dengan ROE dan ROA yang Naik per Triwulan, Ciptakan Nilai Tambah bagi Shareholder

Penonton diajak menyusuri kehidupan masyarakat di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam di Kalimantan Timur. Ketiga desa 3T ini dipilih karena merepresentasikan tantangan besar dalam transisi energi, mulai dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu bara, keterbatasan akses listrik dan gas, hingga ancaman hilangnya lapangan pekerjaan masyarakat. 

Desa Muara Enggelam menjadi salah satu contoh wilayah yang mengalami keterbatasan akses energi. Desa tersebut tidak memiliki jalur darat sehingga pembangunan jaringan listrik konvensional sulit dilakukan. Selama ini warga hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beroperasi terbatas dari sore hingga malam hari.

“Di seluruh kecamatan Muara Wis ini hanya Desa Muara Enggelam saja yang tidak punya akses jalur darat. Karena keterbatasan ini, kami dipaksa harus mandiri," ucap Staff Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, Aliansyah, dalam cuplikan film Pelita Asa. 

Kondisi itu mendorong masyarakat desa mencari solusi mandiri dengan membangun PLTS komunal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes). Aliansyah mengatakan, masyarakat desa bahu-membahu membangun PLTS karena hanya ini yang bisa kami dapatkan dan sesuai dengan kebutuhan Desa Muara Enggelam.

Kehadiran PLTS komunal tidak hanya membantu memperluas akses listrik, tetapi juga mulai mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa. Kini, warga dapat menggunakan peralatan elektronik pada siang hari dan menjalankan usaha kecil dengan lebih optimal.

“Kalau menurut saya pribadi, menyenangkan dan bahagia. Bisa menggunakan televisi, kipas angin, blender dan mesin cuci di siang hari. Untuk ibu-ibu, setelah ada PLTS, usaha kecil dan menengah (UKM) warung-warung juga meningkat karena sudah bisa menggunakan listrik, dan dari sisi BumDes banyak merangkul karyawan dari masyarakat sendiri,” jelas perwakilan BumDes Desa Muara Enggelam, Jam Ah. 

Baca Juga :
Lahirkan Generasi Baru Pengusaha Muda, Hipmi Banten Jadi Motor Penggerak Ekonomi & Pembangunan Daerah
Hadapi Tantangan Ekonomi Global, Seluruh Elemen Bangsa Didorong Tekankan Persatuan dan Kesatuan
Rupiah Melemah ke Rp 17.514, Pasar Ragu Pada Kualitas Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Fiskal RI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapan Pengumuman Hasil Seleksi Kompetensi Manajer Koperasi Merah Putih? Cek Jadwal Lengkapnya
• 14 jam laludisway.id
thumb
UNS Buka 5 Prodi Baru di Seleksi Mandiri 2026, Ada Teknologi AI hingga Budaya Jepang
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
KKI Soroti Diskriminasi Jenis Galon Guna Ulang, Potensi Bahaya BPA
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Inggris Kerahkan Kapal Perang hingga Jet Tempur untuk Misi Keamanan Selat Hormuz
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Menteri Ekraf lantik penilai KI bantu pemilik HKI dapat KUR
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.