FAJAR, MAKASSAR — Ada satu pola menarik yang perlahan mulai dipercaya publik sepak bola Indonesia musim ini: tim yang gagal melewati ujian di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, perlahan kehilangan arah dalam perburuan gelar juara.
Dan klub pertama yang merasakan dampaknya adalah Persija Jakarta.
Pada putaran pertama Super League 2025/2026, Macan Kemayoran datang ke markas PSM Makassar dengan kekuatan terbaik dan kepercayaan diri tinggi. Saat itu Persija masih disebut sebagai salah satu kandidat kuat juara bersama Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda.
Namun semuanya berubah di Parepare.
PSM sukses menang 2-1 dalam pertandingan penuh tensi tinggi di Gelora BJ Habibie. Kekalahan itu bukan sekadar kehilangan tiga poin bagi Persija, tetapi juga menjadi awal munculnya keraguan besar terhadap mental juara Macan Kemayoran.
Sejak saat itu, performa Persija mulai naik turun.
Mereka memang tetap bertahan di papan atas, tetapi gagal menjaga konsistensi dalam momen-momen penting. Dan kini, dua pekan sebelum kompetisi berakhir, Persija dipastikan hanya mampu finis di posisi ketiga.
Target juara pun resmi gagal tercapai.
Kapten Persija, Rizky Ridho, bahkan secara terbuka meminta maaf kepada suporter atas hasil musim ini.
Bek berusia 24 tahun itu mengakui perjalanan Persija tidak berjalan sesuai harapan. Dalam pernyataan yang telah disunting ulang, Ridho menyebut bahwa tim sudah berusaha keras, tetapi inkonsistensi membuat target besar gagal diwujudkan.
“Kami memahami ekspektasi suporter sangat besar. Sebagai pemain, kami tentu kecewa karena belum bisa memberikan hasil terbaik musim ini,” ujar Ridho.
Kini, situasi yang hampir mirip mulai mengintai Persib Bandung.
Maung Bandung memang masih berada di puncak klasemen sementara dengan 75 poin. Tetapi posisi mereka belum aman karena Borneo FC Samarinda terus menempel dengan jumlah poin yang sama.
Persib hanya unggul head to head.
Artinya, laga tandang ke Parepare pada pekan ke-33 bisa menjadi titik paling menentukan dalam perjalanan mereka menuju gelar juara.
Dan tantangannya tidak kecil.
Persib datang ke markas PSM dalam kondisi pincang. Pelatih kepala Bojan Hodak dipastikan absen akibat akumulasi kartu kuning. Selain itu, dua pemain penting mereka, Federico Barba dan Luciano Guaycochea, juga harus menepi karena hukuman serupa.
Kehilangan tiga sosok itu jelas bukan situasi ideal untuk menghadapi PSM di Parepare.
Absennya Federico Barba menjadi pukulan besar bagi lini belakang Persib. Bek asal Italia itu selama musim ini dikenal sebagai salah satu pemain paling konsisten dan hampir tidak tergantikan di jantung pertahanan.
Sementara Luciano Guaycochea adalah motor kreativitas lini tengah.
Tanpa Lucho, Persib berpotensi kehilangan kontrol permainan ketika menghadapi tekanan tinggi dari PSM.
Dan tekanan itu hampir pasti akan muncul sejak menit pertama.
Gelora BJ Habibie musim ini memang menjelma menjadi stadion yang sangat sulit ditaklukkan tim-tim besar, khususnya klub-klub era perserikatan.
Selain Persija yang kalah 2-1, Persebaya Surabaya juga nyaris tumbang sebelum akhirnya hanya mampu bermain imbang 1-1.
Atmosfer di Parepare selalu menghadirkan tekanan berbeda.
Suporter PSM dikenal sangat agresif dalam memberikan dukungan, sementara karakter permainan Pasukan Ramang juga berubah jauh lebih berani ketika tampil di kandang sendiri.
Duel keras, pressing cepat, dan permainan emosional sering membuat lawan kehilangan ritme.
Kini pertanyaannya mulai muncul: apakah Persib akan bernasib sama seperti Persija?
Situasi itu bukan mustahil terjadi.
Meski Persib sedang dalam tren positif dengan tiga kemenangan beruntun, laga melawan PSM tetap memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Apalagi pertandingan ini membawa beban psikologis yang sangat besar.
Jika terpeleset di Parepare dan Borneo FC berhasil menang di pertandingan lain, posisi Persib bisa langsung turun ke peringkat kedua.
Dan jika itu terjadi, seluruh momentum juara bisa berubah drastis hanya dalam satu malam.
PSM sendiri memang sudah aman dari degradasi. Tetapi justru situasi itu membuat mereka bisa bermain lebih lepas tanpa tekanan besar.
Bagi Pasukan Ramang, laga melawan Persib kini berubah menjadi soal harga diri sekaligus kesempatan menjadi penentu arah trofi Super League musim ini.
Apalagi sejarah pertemuan kedua tim selalu sarat tensi emosional.
Menariknya, Persib sebenarnya punya modal positif karena menang 1-0 atas PSM pada putaran pertama. Namun situasi di Parepare jelas berbeda.
Atmosfer GBH musim ini telah membuktikan bahwa banyak tim besar datang dengan percaya diri tinggi, tetapi pulang membawa luka.
Dan Persija sudah menjadi contoh paling nyata.
Kini, giliran Persib yang akan diuji di stadion yang perlahan mulai dianggap sebagai “penjegal mimpi juara” musim ini.





