Rupiah Melemah, Mobil Murah dan LCGC Bisa Jadi Segmen Paling Tertekan

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpotensi memberi tekanan besar terhadap pasar mobil murah di Indonesia. Segmen low cost green car (LCGC) dan kendaraan entry level disebut menjadi kelompok yang paling rentan terdampak apabila harga kendaraan mulai mengalami kenaikan dalam beberapa bulan ke depan.

Ekonom sekaligus Chief Economist Bank Permata, Joshua Pardede, mengatakan pasar otomotif Indonesia saat ini masih sangat sensitif terhadap perubahan harga, terutama di segmen kendaraan massal yang banyak dibeli konsumen kelas menengah dan pembeli pertama.

Baca Juga :
BYD Atto 1 Terbaru Hadir dengan Teknologi Tak Biasa di Mobil Rp100 Jutaan
Terpopuler: Lonjakan EV, Mobil Murah Rp100 Jutaan, hingga Harga Mitsubishi

Menurut dia, pelemahan rupiah hingga tembus Rp17.500 per dolar AS memang belum langsung membuat harga mobil naik drastis. Namun jika kondisi tersebut berlangsung lama, tekanan biaya produksi akan sulit dihindari dan pada akhirnya masuk ke harga jual kendaraan.

“Jika pelemahan rupiah memaksa kenaikan harga mobil beberapa juta hingga belasan juta rupiah, segmen pembeli pertama, kelas menengah, mobil murah, dan pembelian berbasis kredit akan paling cepat terdampak,” ujar Joshua kepada VIVA, Rabu 13 Mei 2026.

Ia menjelaskan, kendaraan entry level memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding segmen premium. Konsumen mobil murah biasanya sangat memperhatikan besaran uang muka, cicilan bulanan, hingga selisih harga beberapa juta rupiah antar model.

Karena itu, kenaikan harga kecil sekalipun bisa langsung memengaruhi keputusan pembelian.

Joshua menilai tekanan tersebut datang di saat kondisi pasar otomotif nasional belum sepenuhnya kuat. Penjualan kendaraan memang masih berjalan, tetapi daya beli masyarakat belum pulih optimal.

Data GAIKINDO periode Januari hingga April 2026 menunjukkan pasar otomotif masih bergerak, tetapi belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga besar tanpa risiko perlambatan permintaan.

Di sisi lain, penjualan ritel nasional juga masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 1,9 persen pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih berada dalam tekanan.

Menurut Joshua, tantangan industri otomotif saat ini bukan hanya kurs rupiah. Harga minyak dunia yang masih tinggi akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah turut menambah beban biaya logistik dan distribusi.

Baca Juga :
Mobil Murah Rp100 Jutaan Masih Banyak Peminatnya
Analis Ungkap 2 Faktor Pendorong Dolar AS Perkasa hingga Picu Rupiah Jebol ke Level 17.300
Bocoran Harga Mobil Listrik Murah Nissan Sakura di Indonesia

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kecewa Dituntut 27,5 Tahun Penjara, Nadiem: Lebih Besar dari Teroris
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Israel "Cemburu" Jika AS Deal dengan Iran, Netanyahu Ungkap Alasannya
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
MPR Panggil dan Tegur 2 Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Khofifah Sebut Sinergi Jadi Kunci Keberhasilan Pembangunan Jawa Timur
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Putusan MK Terbaru Menyatakan Jakarta Masih Ibu Kota Negara, IKN Bagaimana?
• 39 menit lalujpnn.com
Berhasil disimpan.