Bisnis.com, JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mencatat pertumbuhan kinerja operasional pada kuartal I/2026 seiring dengan peningkatan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan.
Sepanjang Januari—Maret 2026, Garuda Indonesia mengangkut sebanyak 5,42 juta penumpang atau tumbuh 6,76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 5,08 juta penumpang.
Pertumbuhan trafik tersebut ditopang peningkatan frekuensi penerbangan sebesar 5,87% menjadi 19.337 penerbangan dibandingkan 18.265 penerbangan pada kuartal I/2025.
Direktur Utama Glenny Kairupan mengatakan capaian tersebut mencerminkan proses penguatan fundamental operasional dan bisnis yang mulai menunjukkan hasil positif.
“Pertumbuhan trafik penumpang, peningkatan kapasitas penerbangan, serta perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I/2026 menunjukkan bahwa langkah transformasi dan penguatan fundamental bisnis yang dijalankan perusahaan mulai menunjukkan progres positif secara bertahap,” ujar Glenny dalam keterangan resmi, Rabu (13/5).
Dia mengatakan fokus perseroan saat ini diarahkan untuk menjaga disiplin operasional, memperkuat reliabilitas layanan, serta memastikan pertumbuhan bisnis berjalan lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga
- Gelar RUPST, Ini Susunan Direksi Garuda Indonesia (GIAA) Terbaru
- Garuda (GIAA) Raup Rp12,9 Triliun di Kuartal I/2026, Rugi Susut 45,2%
- Cek Emiten BUMN Belum Penuhi Free Float, Ada GIAA, BRIS hingga PGEO
Dari sisi operasional, tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on time performance (OTP) Garuda Indonesia Group meningkat menjadi 91,01% pada kuartal I/2026 dibandingkan 87,93% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, hingga akhir Maret 2026 perseroan berhasil mengoperasikan sebanyak 102 armada serviceable sebagai bagian dari percepatan program return-to-service (RTS) aircraft guna mendukung kebutuhan kapasitas penerbangan.
Secara rinci, maskapai Garuda Indonesia mengangkut sebanyak 2,47 juta penumpang, sedangkan Citilink melayani 2,94 juta penumpang pada kuartal I/2026.
Pertumbuhan operasional tersebut turut mendorong peningkatan pendapatan usaha konsolidasian sebesar 5,36% menjadi US$762,35 juta dibandingkan US$723,56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan penerbangan berjadwal atau scheduled flight menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 7,36% menjadi US$648,10 juta dibandingkan US$603,69 juta pada kuartal I/2025.
Selain itu, Garuda Indonesia juga berhasil menekan rugi bersih sekitar 45,2% menjadi US$41,62 juta dibandingkan rugi bersih sebesar US$75,93 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Glenny, transformasi yang saat ini dijalankan menjadi bagian dari proses rebuilding fundamentals untuk memastikan Garuda Indonesia Group dapat tumbuh dengan fondasi bisnis yang lebih sehat, agile, dan sustainable dalam jangka panjang.





