Aksi Senyap Crazy Rich Kalimantan Haji Isam Genggam 21,12% Saham PACK

katadata.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) kedatangan investor baru. Dia adalah crazy rich dari Kalimantan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, yang baru saja memborong saham emiten sektor nikel itu dalam jumlah jumbo.

Pada Rabu (13/5) kemarin, pengusaha asal Batulicin, Kalimantan Selatan, itu diketahui membeli sebanyak 6,83 miliar saham PACK di harga Rp 137. Dengan begitu, Haji Isam mengantongi 21,12% hak suara PACK dari yang sebelumnya tidak dia miliki sama sekali.

“Status kepemilikan saham langsung, tujuan transaksi untuk investasi,” tulis Haji Isam dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Rabu (13/5). 

Seiring dengan aksi itu, harga saham PACK langsung mencapai auto reject atas (ARA) hingga 9,86% ke level Rp 312 dengan kapitalisasi pasar hampir Rp 10,10 triliun pada perdagangan kemarin. Apabila menilik performanya, secara year to date (ytd) atau tahun berjalan saham PACK sudah melejit hingga 70,33% dan naik 38% dalam sebulan terakhir. 

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, saham PACK sempat beberapa kali mengalami penghentian sementara perdagangan oleh BEI pada 20–24 Januari 2025, lalu 30–31 Januari 2025, 3–5 Februari 2025, kemudian 12 Juni 2025, 17–20 Juni 2025, serta 23–26 Juni 2025.

Manajemen PACK menyebut suspensi dilakukan sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga saham secara kumulatif yang signifikan. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari mekanisme bursa untuk meredam dinamika perdagangan sekaligus melindungi investor.

Kendati demikian, perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis ke depan. Mengacu pada realisasi kinerja 2025, PACK menetapkan target 2026 secara hati-hati dengan memproyeksikan volume perdagangan bijih nikel sekitar 4 juta ton nikel metal.

Perseroan juga berencana memperkuat posisi di rantai nilai nikel melalui optimalisasi operasional dan berbagai inisiatif pengembangan usaha.

PACK menilai peluang pertumbuhan usaha pada 2026 masih terbuka lebar. Hal ini didorong permintaan nikel yang tetap kuat dari sektor baterai kendaraan listrik, stainless steel, hingga berbagai industri alloy lainnya. 

Perseroan mencatat permintaan nikel untuk sektor baterai pada 2025 diperkirakan telah melampaui 400 ribu ton nikel metal. Angka ini diproyeksikan terus meningkat pada 2026 seiring perkembangan teknologi baterai berkadar nikel tinggi, eVTOL, robot humanoid, dan kendaraan listrik.

Dalam jangka panjang, permintaan nikel global diperkirakan meningkat dari sekitar 3,5 juta ton nikel metal pada 2025 menjadi lebih dari 5 juta ton pada 2040. Pertumbuhan tersebut ditopang kebutuhan industri kendaraan listrik, energi bersih, konstruksi, manufaktur, hingga pengembangan berbagai aplikasi berbasis alloy.

“Kondisi ini memberikan prospek yang positif bagi industri nikel dan rantai pasoknya,” tulis manajemen PACK dalam laporan tahunannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Panjang, Tol Jakarta-Cikampek Diberlakukan Contraflow di KM 55 hingga KM 65
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Ke China, Trump Bawa Rombongan CEO Perusahaan Raksasa, Termasuk Elon Musk, Ada Apa?
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
PTKIN Perkuat PSGA dan Satgas PPKS untuk Cegah Kekerasan Seksual di Kampus
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Peneliti BRIN soal Paparan Logam Berat dari Ikan Sapu-Sapu: Jika Konsumsi Rutin 8 Kg Per Minggu
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Xi Jinping Ingatkan Trump Soal Taiwan: Bisa Picu Konflik AS-Cina
• 2 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.