Harga Minyak Menguat Tipis, Pasar Tunggu Kabar dari Beijing

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat tipis pada perdagangan hari ini, Kamis (14/5/2026).

Penguatan terjadi setelah harga minyak sempat melemah pada perdagangan sebelumnya, sementara pelaku pasar kini mencermati pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Merujuk data Refinitiv pada Kamis (14/5/2026) pukul 10.16 WIB, harga minyak Brent berada di US$105,88 per barel. Posisi ini naik tipis 0,24% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di US$105,63 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$101,28 per barel, menguat 0,26% dari posisi Rabu yang berada di US$101,02 per barel.

Kenaikan harga minyak hari ini terjadi setelah dua kontrak acuan tersebut kompak melemah pada perdagangan Rabu. Brent sebelumnya turun lebih dari US$2 per barel, sementara WTI melemah lebih dari US$1 per barel.

Tekanan pada perdagangan sebelumnya datang dari kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga AS.

Harga energi yang masih tinggi dikhawatirkan memperbesar tekanan inflasi, sehingga membuka ruang bagi suku bunga bertahan tinggi lebih lama atau bahkan naik kembali.

Namun, fokus pasar kini kembali bergeser ke pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing.

Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena tidak hanya membahas hubungan dagang AS-China yang masih rapuh, tetapi juga perang Iran dan isu penjualan senjata AS ke Taiwan.

Dalam pertemuan tersebut, Trump diperkirakan akan mendorong China untuk membantu membujuk Iran agar bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington. Upaya itu dinilai penting karena perang Iran telah mengganggu pasokan minyak global secara signifikan.

Meski begitu, pasar masih berhati-hati. China selama ini merupakan mitra strategis lama Iran, sehingga pelaku pasar meragukan apakah Xi Jinping akan menekan Teheran terlalu jauh. Kondisi ini membuat harga minyak cenderung bergerak dalam mode wait and see.

Salah satu isu terbesar yang masih membayangi pasar adalah Selat Hormuz. Jalur energi utama dunia tersebut sebagian besar masih tertutup sejak perang pecah pada akhir Februari. Selat Hormuz merupakan rute penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Timur Tengah.

Kegagalan mencetak kemajuan berarti dalam pembukaan kembali Selat Hormuz dapat membuat AS memiliki pilihan yang semakin terbatas.

Pasar khawatir, jika jalur tersebut tetap tertutup, risiko aksi militer lanjutan bisa kembali meningkat.

Iran sendiri disebut semakin memperketat kontrol atas Selat Hormuz. Teheran juga mulai menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak serta gas alam cair dari kawasan tersebut.

Kondisi pasokan juga masih menjadi perhatian besar. Pasokan minyak global diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan total permintaan tahun ini akibat perang Iran yang mengganggu produksi minyak Timur Tengah dan menguras persediaan minyak dengan cepat.

Perubahan prospek tersebut membalik ekspektasi sebelumnya yang sempat memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus. Kini, pasar justru menghadapi risiko defisit pasokan di tengah permintaan yang masih berjalan.

Dengan ketidakpastian perang Iran, tertutupnya sebagian besar jalur Selat Hormuz, serta penantian terhadap hasil pertemuan Trump-Xi, harga minyak berpotensi tetap bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Lengkap 39 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri Listyo Sigit, Sejumlah Jenderal Polisi Geser Jabatan Strategis
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Luncurkan GPIPS, BI Ingin Pastikan Ketahanan Pangan hingga Keuangan Nasional Terjaga
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Dudung Pastikan 2 SPPG yang Disidak di Jakbar Kena Suspend Akibat Tak Layak
• 6 jam laludetik.com
thumb
Thailand Open 2026: Depak Wakil Prancis, Amri/Nita Lanjut ke Babak Kedua
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo Minta Bunga PNM di Bawah 9%: Masa Orang Miskin Kena 24%
• 21 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.