JAKARTA, KOMPAS - Generasi muda kini menjauh dari berita konvensional di media arus utama dan lebih mengandalkan media sosial, kreator konten, serta kecerdasan buatan untuk mendapatkan informasi. Perubahan besar ini menjadi tantangan baru bagi industri pers dalam mempertahankan relevansi di tengah perubahan perilaku audiens muda.
Hal itu mengemuka dalam diskusi daring bertajuk "Dari Para Kreator ke Ruang Redaksi: Bagaimana Audiens Muda Berinteraksi dengan Berita" oleh Reuters Institute mengenai tren konsumsi berita generasi usia 18–24 tahun, Kamis (14/6/2026).
Dalam penelitian Laporan Berita Digital Reuters Institute tahun 2026 disebutkan bahwa generasi muda kini tumbuh sebagai generasi yang menjadikan media sosial sebagai pintu utama untuk mengakses berita.
“Kita bisa melihat bersama perubahan sangat jelas di mana anak muda sekarang lebih mengutamakan media sosial daripada internet dalam hal akses berita, tidak seperti sepuluh tahun lalu," kata Amy Ross-Arguedas, peneliti Reuters Institute for the Study of Journalism, Kamis (14/6/2026).
Dalam riset tersebut, sebanyak 39 persen responden usia 18–24 tahun menyebut media sosial sebagai sumber utama berita mereka. Angka itu meningkat tajam dibandingkan hanya 21 persen satu dekade sebelumnya.
Perubahan tersebut juga diikuti dengan pergeseran platform. Jika Facebook menjadi platform berita paling dominan pada tahun 2015, kini posisinya tergeser oleh Instagram, YouTube, dan TikTok. Instagram tercatat menjadi platform berita paling populer di kalangan anak muda dengan tingkat penggunaan mencapai 30 persen.
Media arus utama masih tetap menjadi rujukan utama publik ketika menghadapi isu-isu besar dan penting.
Sebaliknya, penggunaan Facebook untuk berita di kelompok usia muda turun drastis dari 47 persen menjadi 16 persen. Menurut Amy, banyak responden muda kini menganggap Facebook sebagai platform untuk generasi lebih tua. "Ada kecenderungan di kalangan anak muda bahwa Facebook adalah tempat untuk orang yang lebih tua," ucap Amy.
Seiring dengan perubahan platform tersebut, generasi muda juga semakin bergeser ke format berita audiovisual dibandingkan format teks. Fenomena ini tampak lebih kuat di negara-negara Asia seperti Indonesia, India, dan Thailand dibandingkan negara-negara Eropa. Di India, YouTube menjadi platform utama berita bagi anak muda, sementara di Thailand TikTok lebih dominan.
Tidak hanya platform yang berubah, sosok yang dipercaya anak muda dalam menerima informasi juga mengalami pergeseran. Sebanyak 51 persen responden mengaku lebih memerhatikan kreator konten dan figur personal dibandingkan media konvensional yang hanya dipilih oleh 39 persen responden.
"Ini karena anak muda seringkali memandang para kreator yang juga muda-muda ini sebagai sosok yang lebih mudah, relevan, dan lebih otentik," kata Amy.
Reuters Institute membagi kreator berita ke dalam sejumlah kategori, mulai dari kreator komentar politik yang cenderung partisan, kreator investigatif, kreator penjelas berita, hingga kreator spesialis yang fokus pada topik tertentu seperti olahraga atau budaya.
Temuannya menunjukkan, konten komentar politik yang bersifat opini, partisan, dan menghibur kini justru lebih menarik bagi anak muda. Sementara format analisis lebih moderat yang sering dibuat oleh media konvensional perlahan ditinggalkan.
“Berita format komentar dan analisis yang lebih seimbang cenderung kalah saing dengan pendekatan yang lebih partisan dan menghibur terhadap komentar berita,” kata Amy.
Meski semakin terkoneksi dengan berbagai platform digital, minat anak muda terhadap berita justru terus menurun. Hanya 35 persen responden muda yang mengaku memiliki minat tinggi terhadap berita, turun tajam dari sekitar 60 persen satu dekade lalu.
Anak muda juga cenderung kurang tertarik pada berita politik dibandingkan generasi tua. Pada kelompok usia di atas 55 tahun, politik menjadi salah satu topik berita paling diminati.
Namun, pada kelompok usia muda, politik hanya berada di peringkat kesembilan. Mereka lebih suka berita hiburan dan konten yang bersifat menyenangkan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sekitar 42 persen anak muda mengaku kadang atau sering menghindari berita. Alasannya beragam, mulai dari sifat berita yang dianggap terlalu depresif hingga karena berita dirasa tidak relevan atau sulit dipahami.
Setelah media sosial, tren penggunaan kecerdasan buatan generatif untuk mengakses berita juga meningkat di kalangan muda juga semakin cepat. Ini bisa menjadi masa depan pola konsumsi berita di masyarakat.
Riset menunjukkan, sebanyak 15 persen responden usia 18–24 tahun mengaku menggunakan AI chatbot untuk berita dalam satu minggu terakhir. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia di atas 55 tahun yang hanya mencapai 3 persen.
Menariknya, generasi muda tidak sekadar menggunakan AI untuk mengetahui berita terbaru, tetapi juga untuk memahami konteks berita. Mereka menggunakan AI untuk mencari sumber informasi, menyederhanakan berita rumit, hingga memahami cara kerja media.
"Orang tua cenderung meminta chatbot AI hanya untuk memberikan berita terbaru, sementara kaum muda lebih cenderung menggunakan Gen AI untuk membantu mereka menavigasi dan memahami berita," ungkap Amy menambahkan.
Amy menegaskan, tantangan terbesar media konvensional saat ini bukan hanya soal distribusi berita, tetapi juga bagaimana menghadirkan informasi yang relevan, mudah dipahami, dan dekat dengan keseharian generasi muda tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar jurnalisme.
Secara terpisah, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menilai, kondisi ini membuat media arus utama semakin terdesak oleh derasnya arus informasi di media sosial. Pers tidak lagi menjadi pengendali utama arus informasi publik, masyarakat kini lebih dekat dengan konten-konten media sosial yang emosional, sensasional, dan terasa lebih personal.
Sementara itu, Indonesia belum memiliki kedaulatan digital yang kuat seperti negara lain. Komaruddin menggambarkan media sosial saat ini sebagai “kerumunan besar” tanpa aturan yang ideal.
“Sekarang kerumunan itu bukan konser, tapi orang pegang handphone. Banyak sekali jumlahnya. Mereka bebas teriak lewat jarinya, bebas ngomong lewat jarinya, bebas menyebarkan informasi. Pertanyaannya, peraturan seperti apa yang diperlukan? Apakah peraturan itu menindas atau mengatur?” kata Komaruddin dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia (WPFD) 2026 di Jakarta, pada Rabu (13/5/2026).
Meski begitu, Komaruddin meyakini media arus utama masih tetap menjadi rujukan utama publik ketika menghadapi isu-isu besar dan penting. Sejauh-jauhnya masyarakat pergi ke platform lain, ia akan tetap mencari media arus utama ketika membutuhkan informasi yang dianggap lebih dapat dipercaya.





