172,3 Juta Pelanggan dalam Empat Bulan, Transportasi Rel Kian Menjadi Penopang Mobilitas Nasional

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Januari–April 2026, sebanyak 172,3 juta masyarakat menggunakan layanan KAI Group meningkat 9,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 157,9 juta pelanggan

Jakarta (ANTARA) - Mobilitas masyarakat Indonesia terus bergerak dalam skala besar. Aktivitas kerja, pendidikan, perdagangan, wisata, hingga perjalanan antarkota mendorong kebutuhan transportasi yang mampu melayani masyarakat lebih efisien, tepat waktu, dan terhubung dengan berbagai pusat aktivitas.

Di tengah pertumbuhan mobilitas tersebut, transportasi berbasis rel menunjukkan peran yang semakin penting dalam menopang pergerakan masyarakat di berbagai wilayah.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat total seluruh pelanggan KAI Group pada Januari–April 2026 mencapai 172.359.716 pelanggan, meningkat 9,14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 157.923.002 pelanggan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan pelanggan tersebut memperlihatkan transportasi rel semakin menjadi bagian penting dalam aktivitas masyarakat modern yang membutuhkan kepastian waktu perjalanan dan konektivitas antarkawasan.

“Ketika kota berkembang semakin padat dan mobilitas masyarakat meningkat, kebutuhan terhadap transportasi massal berkapasitas besar menjadi semakin penting. Transportasi rel berkembang sebagai bagian dari sistem mobilitas yang menjaga pergerakan masyarakat dan aktivitas ekonomi tetap berjalan,” ujar Anne.

Pada layanan KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI, jumlah pelanggan meningkat 8,52% dari 17.709.669 pelanggan menjadi 19.218.440 pelanggan.

Kenaikan tersebut mencerminkan tingginya mobilitas antarkota di berbagai daerah. Kereta api kini digunakan untuk mendukung perjalanan bisnis, pendidikan, wisata, mudik, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Di sejumlah kota tujuan seperti Yogyakarta, Bandung, Semarang, Malang, dan Banyuwangi, pertumbuhan perjalanan kereta api turut mendorong aktivitas sektor pendukung seperti hotel, kuliner, transportasi lanjutan, UMKM, dan kawasan ekonomi di sekitar stasiun.

Pada layanan commuter line yang dikelola KAI Commuter, jumlah pelanggan mencapai 136.585.949 pelanggan atau meningkat 8,34% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 126.067.645 pelanggan.

Angka tersebut memperlihatkan commuter line semakin menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat perkotaan, khususnya di kawasan Jabodetabek, Bandung Raya, Yogyakarta dan Solo, Surabaya dan kota penyangganya. Jutaan masyarakat mengandalkan transportasi rel setiap hari untuk menjaga mobilitas tetap terukur di tengah tingginya kepadatan jalan raya.

Efisiensi perjalanan juga memberi dampak terhadap produktivitas masyarakat perkotaan karena waktu tempuh yang lebih pasti membantu aktivitas harian berjalan lebih efektif.

LRT Jabodebek mencatat pertumbuhan tertinggi kedua pada layanan KAI Group dengan kenaikan 26,47%, dari 8.434.674 pelanggan menjadi 10.667.038 pelanggan.

Peningkatan tersebut memperlihatkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap sistem transportasi perkotaan modern berbasis teknologi otomatisasi. LRT Jabodebek menggunakan teknologi GoA 3 (Grade of Automation 3), yaitu sistem pengoperasian kereta otomatis tanpa masinis di kabin yang dikendalikan melalui pusat kendali operasi.

Integrasi LRT Jabodebek dengan KRL Commuter Line, MRT Jakarta, Transjakarta, Whoosh, dan moda pengumpan lain mulai membentuk pola perjalanan masyarakat urban yang semakin terhubung.

Kawasan yang terkoneksi jaringan rel kini berkembang menjadi pusat aktivitas baru karena akses mobilitas yang semakin mudah dan efisien.

Whoosh juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,60%, dari 1.852.534 pelanggan menjadi 1.900.641 pelanggan.

Kereta cepat pertama di Asia Tenggara tersebut mulai membentuk pola perjalanan baru masyarakat untuk mobilitas Jakarta–Bandung dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat. Perjalanan antarkota kini menjadi semakin dekat dan terhubung, bahkan mulai menghadirkan pengalaman mobilitas yang terasa seperti berpindah antarwilayah penyangga dalam satu kawasan metropolitan.

Integrasi antara Whoosh dan LRT Jabodebek melalui kawasan Stasiun Halim memperkuat konektivitas transportasi antarkota dan perkotaan dalam satu ekosistem perjalanan modern.

Pada layanan KAI Bandara, jumlah pelanggan meningkat 2,96% dari 2.267.831 pelanggan menjadi 2.334.929 pelanggan.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya penggunaan transportasi publik menuju bandara. Layanan ini mencakup KA Bandara YIA yang menghubungkan pusat Kota Yogyakarta dengan Bandara Yogyakarta International Airport serta KA Srilelawangsa yang mendukung mobilitas masyarakat menuju Bandara Kualanamu dan kawasan sekitarnya.

Di Palembang, LRT Sumsel melayani 1.441.069 pelanggan sepanjang Januari–April 2026. Kehadiran layanan tersebut mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat kota, kawasan pendidikan, pusat ekonomi, hingga Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pada sektor perjalanan wisata, KAI Wisata mencatat peningkatan tertinggi pada layanan KAI Group sebesar 107,93%, dari 48.745 pelanggan menjadi 101.357 pelanggan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan perubahan preferensi masyarakat dalam menikmati perjalanan. Kereta api kini berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata dan leisure, terlihat dari meningkatnya minat terhadap Kereta Panoramic, perjalanan heritage, hingga layanan wisata berbasis rel lainnya.

Perjalanan dengan kereta api mulai dipandang sebagai bagian dari pengalaman menikmati lanskap, kenyamanan perjalanan, dan interaksi sosial selama di perjalanan.

Di wilayah timur Indonesia, KA Makassar–Parepare mencatat pertumbuhan 38,56%, dari 79.601 pelanggan menjadi 110.293 pelanggan.

Kenaikan tersebut memperlihatkan tingginya antusiasme masyarakat Sulawesi Selatan terhadap layanan kereta api. Moda berbasis rel mulai membuka ruang konektivitas baru di kawasan timur Indonesia sekaligus memperkuat akses mobilitas antarwilayah.

Anne menambahkan pertumbuhan pelanggan di berbagai layanan KAI Group menunjukkan transportasi rel semakin memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kawasan dan mobilitas masyarakat Indonesia.

“Data ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi rel terus tumbuh. Ketika mobilitas meningkat dan kawasan berkembang semakin luas, transportasi berbasis rel akan semakin penting dalam mendukung konektivitas, produktivitas, dan pergerakan masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Anne.

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Astra Daihatsu Buka Lowongan Kerja 2026: Buka 3 Posisi untuk Lulusan S1, Cek Syaratnya!
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Tak Cuma Jual Minyak, Rusia Minat Investasi Pembangkit Nuklir di RI
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KSP Bantah Isu Intimidasi Politik dan Klaim Pemerintah Terbuka Terhadap Kritik
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
PSM Makassar Bisa Jadi Mimpi Buruk Persib Bandung, Ahmad Amiruddin Target Sapu Bersih Dua Laga Sisa
• 12 jam laluharianfajar
thumb
BSN Kuasai Pangsa Pasar KPR Subsidi Syariah
• 22 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.