Harga Pupuk Global Melonjak, RI Justru Klaim Turun 20%

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan harga pupuk global akibat konflik Timur Tengah mulai menekan biaya produksi pertanian dunia. Namun, Indonesia justru mengklaim mampu menurunkan harga pupuk domestik hingga 20%, menciptakan kontras tajam di tengah gejolak pasar internasional.

Perang antara Amerika Serikat dan Iran memicu gangguan rantai pasok pupuk dunia setelah arus perdagangan melalui Selat Hormuz terganggu. Jalur tersebut merupakan koridor utama pengiriman urea, amonia, dan sulfur global.

Dampaknya, harga urea internasional melonjak tajam. Komisi Eropa mencatat harga urea naik 55% sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026. Di Argentina, harga urea acuan melonjak menjadi sekitar US$1.000 per ton dari sebelumnya US$500 per ton.

Kenaikan harga mulai mengubah pola tanam global. Petani di sejumlah negara mengurangi penggunaan pupuk, beralih ke tanaman dengan kebutuhan nutrisi lebih rendah, bahkan menunda penanaman. Kondisi itu meningkatkan risiko penurunan produksi gandum, jagung, dan jelai pada musim 2026.

Analis senior Rabobank Doriana Milenkova menilai pasar pupuk global tengah menghadapi tekanan berulang setelah sebelumnya diguncang pandemi dan perang Rusia-Ukraina.

“Selama enam tahun terakhir, sektor ini telah berulang kali menyerap guncangan,” katanya, dilansir The Western Producer, Kamis (14/5/2026). 

Baca Juga

  • Mentan Sebut RI Siap Ekspor Pupuk 500.000 Ton saat Harga Melambung
  • Surplus Pupuk Belum Menjamin Ketersediaan di Petani Aman
  • Mentan: RI Surplus Pupuk di Tengah Krisis, Siap Ekspor 1 Juta Ton

Di tengah tekanan global itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi Indonesia justru berbeda. Pemerintah mengeklaim harga pupuk domestik turun 20% dan menjadi salah satu faktor yang menjaga harga pangan tetap terkendali.

“Di saat pupuk langka di tingkat dunia, Indonesia menurunkan harga 20 persen dan itu tidak pernah terjadi selama republik ini berdiri. Saya ulangi, bukan naik tapi menurunkan,” kata Amran dalam Dialog Swasembada Pangan melalui kanal YouTube Kementan. 

Dia menyebut penurunan harga pupuk sejalan dengan stabilitas energi domestik setelah harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Menurutnya, kombinasi dua faktor itu ikut menopang ketahanan pangan nasional.

Amran juga menegaskan Indonesia kini berada dalam posisi surplus beras di tengah ancaman krisis pangan global. 

Menurut dia, situasi tersebut menunjukkan stabilitas sektor pangan nasional masih terjaga ketika banyak negara menghadapi tekanan biaya produksi.

Meski demikian, dia mengakui gejolak harga masih bisa terjadi di sejumlah daerah akibat tantangan distribusi. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, persoalan logistik masih menjadi faktor utama pembentuk harga antarwilayah.

“Nah ini persoalan redistribusi,” ujarnya.

Kontras antara lonjakan harga pupuk global dan penurunan harga domestik menjadi sorotan baru. Tantangan berikutnya adalah menjaga pasokan dan distribusi agar stabilitas harga pupuk benar-benar dirasakan merata hingga sentra produksi pangan nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hanvavirus Mengintai, Kesadaran Proteksi Asuransi Kesehatan Meningkat
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Libur Long Weekend, Penumpang Kereta Jarak Jauh Membeludak
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Xi Jinping dan Trump Bahas Timur Tengah hingga Krisis Ukraina
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Ketika laut menjadi masa depan
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Ini Sumber Dana Rp49 Triliun yang Akan Diberikan ke Rakyat Indonesia oleh Prabowo
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.