Teknologi agrivoltaic yang menggabungkan panel surya dan pertanian mulai dirintis untuk dikembangkan di Indonesia. Berkolaborasi dengan Solar Research Institute UiTM, Malaysia, Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mengembangkan Agrivoltaic Smart-Farming di Desa Pandowoharjo, Sleman, DI Yogyakarta. Teknologi ini diharapkan bisa memadukan ketahanan pangan dan produksi energi.
Meskipun masih menghadapi beberapa tantangan, agrivoltaic dinilai sebagai solusi krusial dalam mencapai kemandirian energi desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Tantangan itu antara lain, biaya instalasi struktur yang tinggi dan kebutuhan desain teknis yang spesifik untuk tanaman tropis.
“Proyek kerja sama UGM-UiTM diharapkan menjadi model di demplot,” ujar pakar teknologi pertanian dari Fakultas Teknologi Pertanian dan tenaga ahli Menteri PPN BAPPENAS, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D, dihubungi pada Rabu (13/5/2026).
Menurut Bayu, di masa depan, integrasi energi surya di Indonesia tidak lagi menempatkan ketahanan energi dan kedaulatan pangan dalam posisi yang saling menegasikan, melainkan melalui harmoni agrivoltaic yang dinamis. Konsep ini mengedepankan penggunaan panel surya vertikal atau struktur penyangga tinggi yang memungkinkan lahan di bawahnya tetap lowong dan produktif bagi tanaman hortikultura maupun aktivitas petani.
Dengan menjaga hamparan vegetasi tetap tumbuh di bawah naungan panel, ekosistem lokal tetap terjaga sebagai ruang hidup bagi serangga penyerbuk, sementara penguapan air tanah dapat ditekan secara alami. Pendekatan yang lebih humanis dan ekologis ini memastikan bahwa transformasi energi hijau tidak harus mengorbankan lanskap agraris maupun keanekaragaman hayati yang menjadi fondasi keberlanjutan bangsa.
Saat ini, adopsi teknologi agrivoltaic di Indonesia sedang bertransformasi dari tahap riset akademis menjadi implementasi proyek percontohan yang strategis. Hal ini antara lain untuk mengatasi konflik penggunaan lahan antara sektor energi dan pangan. Melalui penciptaan mikroklimat yang mampu menekan laju penguapan air dan melindungi tanaman dari panas ekstrem, sistem ini berpotensi meningkatkan efisiensi lahan serta hasil panen komoditas hortikultura tertentu secara signifikan.
Bayu juga menekankan pentingnya integrasi data iklim dalam agrivoltaic. "Optimasi mikroklimat adalah kunci agar panel surya tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menciptakan ekosistem pendukung bagi pertumbuhan tanaman hortikultura di bawahnya," tambah Bayu.
Teknologi agrivoltaic memerlukan investasi awal yang sekitar 10-25 persen lebih mahal dibandingkan PLTS konvensional karena kebutuhan struktur penyangga yang lebih tinggi. Namun, teknologi ini potensial diadopsi secara luas di Indonesia sebagai solusi cerdas mengatasi keterbatasan lahan.
Dengan model pembiayaan yang tepat seperti kemitraan BUMDes atau subsidi energi hijau, biaya tersebut akan tertutup oleh efisiensi ganda dari hasil panen yang lebih stabil karena kelembapan tanah terjaga serta produksi listrik mandiri untuk operasional pertanian. Apalagi, pemerintah Indonesia saat ini mengejar kapasitas energi surya sebesar 100 Gigawatt (GW) yang ditargetkan mulai terbangun secara masif pada periode 2026 hingga 2030.
Untuk tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan percepatan pembangunan dengan target operasional awal sebesar 17 GW guna menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar diesel secara bertahap. Strategi ini merupakan bagian vital dari peta jalan Net Zero Emission 2060. Salah satu solusi adalah agrivoltaic untuk memenuhi kebutuhan lahan yang sangat luas bagi panel surya tanpa mengorbankan sektor pertanian produktif nasional.
Saat ini, pengembangan Agrivoltaic Smart-Farming di Pandowoharjo sedang dalam proses realisasi. Kegiatan ini sebagai rangkaian pelaksanaan dari Pendanaan Program Equity Community Development Berbasis Riset Aplikatif dan Pemberdayaan Masyarakat Dengan Kolaborator Internasional Tahun Anggaran 2026, melalui skema pendanaan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.
“Proyek equity akan diselesaikan pada bulan Juni 2026 ini sebagai bentuk kick off program Pemberdayaan Masyarakat Dengan Kolaborator Internasional UGM - UiTM Malaysia. Ke depan akan dikembangkan dengan skema kerja sama lanjut melalui MoU Tri Dharma Perguruan Tinggi maupun skema lainnya,” tambah Bayu.
PLTS Hybrid yang akan diinstal berkapasitas 2,6 kWp untuk menyesuaikan kebutuhan beban irigasi cerdas dan mesin hilirisasi desa. Proses perakitan prototipe akan dimulai di Laboratorium Energi Terbarukan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM dengan melibatkan perwakilan warga desa untuk menjamin adanya transfer pengetahuan. Untuk menjamin keberlanjutan, sistem ini akan dilengkapi dengan keamanan terintegrasi berupa pemasangan kamera pengawas (CCTV) berbasis internet oleh pihak kalurahan.
Sistem juga mengusung konsep smart farming melalui Integrasi sensor RiTx untuk pemantauan kondisi tanah dan cuaca secara real-time. Untuk meminimalkan biaya perawatan, Smart Maintenance dilakukan dengan pelatihan deteksi anomali sistem menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Untuk pelaksanaan kegiatan ini, Tim UGM dipimpin oleh Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D. beranggotakan Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D, dan kolaborator internasional Direktur SRI UiTM Solar Research Institute Universiti Teknologi MARA, Malaysia Prof. Nofri Yenita Dahlan. Tim UGM juga baru saja menyelesaikan rangkaian kunjungan strategis ke Malaysia pada 5–9 Mei 2026 untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi agrivoltaic.
Studi kasus yang dilakukan di Malaysia memberikan pembelajaran peluang-peluang yang dapat digali dan dimanfaatkan untuk diimplementasikan skala demplot. Ketua Tim Pelaksana, Ahmad Agus Setiawan menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk melakukan transfer pengetahuan terkait manajemen energi surya pada berbagai skala dan aplikasinya di sektor pertanian.
"Kami berdiskusi intensif dengan berbagai Pusat Kecemerlangan (Center of Excellence) di UiTM, mulai dari SRI hingga Institute for Biodiversity and Sustainable Development (IBSD), untuk memastikan sistem yang kita bangun di Pandowoharjo memiliki standar global," kata Ahmad.
Di Malaysia, tim mengunjungi UiTM Large Solar Scale (LSS) Park 1 di Gambang, Pahang, untuk mempelajari tata kelola sistem surya berkapasitas besar. Selain itu, tim UGM yang didampingi SRI UiTM juga melakukan kunjungan ke Universiti Putra Malaysia (UPM). Kunjungan tersebut membuka wawasan baru mengenai potensi integrasi panel surya dengan peternakan kambing dan tanaman pangan.
Prof. Mohammad Effendy bin Yaacob dari UPM memberikan catatan penting agar teknologi ini memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan petani. Sementara itu, Prof. Nofri Yenita Dahlan, Direktur SRI UiTM, menghimbau agar perencanaan agrivoltaic dilakukan secara matang melalui simulasi energy yield dan analisis shading agar produktivitas tanaman tetap terjaga.
Kegiatan ini juga diikuti penyusunan MoU komprehensif antara UGM dan UiTM yang mencakup aspek Tridharma Perguruan Tinggi, mulai dari riset bersama, pengabdian internasional, hingga program pertukaran mahasiswa. Sebagai tindak lanjut, delegasi UiTM direncanakan akan melakukan kunjungan balasan ke Yogyakarta pada bulan Juni 2026 untuk workshop serta peninjauan langsung lokasi demplot agrivoltaic untuk monitoring dan evaluasi di Pandowoharjo.





