JAKARTA, KOMPAS.com - Warga di RW 01 Kembangan Selatan, Jakarta Barat, mengaku lelah lantaran permukiman mereka semakin sering direndam banjir.
Banjir yang dulunya hanya datang setahun sekali atau dalam siklus banjir besar lima tahunan, kini berubah menjadi rutinitas yang kerap melumpuhkan aktivitas warga.
Juriyah (45), salah seorang warga RW 01 Kembangan Selatan, mengeluhkan kondisi banjir di wilayahnya semakin parah sejak awal tahun 2026.
Baca juga: Kisah Hartati Korban Banjir Aceh Tunaikan Haji meski Rumah Hancur, Dokumen-dokumen Hilang
"Iya, memang banjir terus sih sekarang. Dari awal tahun kayaknya sudah empat kali mungkin ya, karena memang di sini sekarang jadi langganan banjir. Dulu mah sesekali gitu, banjir tahunan. Terus banjir itu parah kalau siklus lima tahunan. Tapi sekarang kayaknya parah terus," keluh Juriyah saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (14/5/2026).
Juriyah menceritakan, ketinggian air yang merendam rumahnya bahkan bisa mencapai satu meter.
Akibatnya, banyak perabotan rumah tangganya yang rusak karena tak tak sempat diselamatkan dan berujung terendam air.
Baca juga: Banjir Kembangan Jakbar Makin Parah, Warga Minta Saluran Dekat Proyek Hotel Dibenahi
"Lumayan sih banyak yang rusak, kursi, meja, kasur itu pada kerendam. Kalau kulkas segala macam sih kita sudah ganjal pakai konblok," ujarnya.
Warga menduga, makin parahnya banjir ini berkaitan dengan hilangnya area resapan air akibat pembangunan proyek hotel yang berbatasan langsung dengan permukiman mereka di sisi Jalan Raya Kembangan Selatan.
"Katanya sih pengaruh dari ada proyek ini juga ya, tapi saya enggak begitu paham sih. Tapi dulu memang itu lahan kosong, air biasanya larinya ke situ, sekarang kan diuruk," ucapnya.
Baca juga: Bendungan Polor Biang Kerok Banjir Cipondoh Tangerang
Keresahan Juriyah diamini oleh Ketua RT 01 RW 01 Kembangan Selatan, Abdul Rohman.
Ia menyoroti genangan di wilayahnya kini memakan waktu sangat lama untuk surut dibandingkan area sekitarnya.
Bahkan, saat banjir merendam, akses air bersih dan aliran listrik warga sering terputus.
"Dari dulu memang sebetulnya di sini sudah ada banjir. Cuma ibaratnya dulu itu banjir tahunan atau lima tahunan. Nah, tapi kalau ini belakangan mulai sering banjirnya, mulai rutin. Kayak kemarin saja kurang lebih banjirnya bisa sampai 1 meter," tutur Abdul.
Baca juga: Banjir Besar di Tanah Datar Sumbar, Bupati: Selama Saya Menjabat Belum Pernah Separah Ini
Ia membandingkan dengan RT 09 yang banjirnya lebih tinggi, tetapi air lebih cepat menyusut.
Bahkan, kata Abdul, banjir di lampu merah persimpangan Jalan Outer Ring Road pun yang termasuk ke jalur arteri juga membutuhkan waktu seharian untuk surut.





