Trump Tolak Iran, Kapal Selam Nuklir Langsung Muncul! UEA Diam-Diam Bombardir Kilang Iran?

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada awal pekan ini. Setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menolak proposal terbaru yang diajukan Teheran, Washington langsung memperlihatkan sinyal militer yang sangat jarang dilakukan secara terbuka.

Pada, 12 Mei 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat secara tidak biasa mengumumkan kepada publik bahwa sebuah kapal selam nuklir balistik kelas Ohio telah tiba di wilayah Gibraltar, teritori luar negeri milik Inggris, pada 10 Mei 2026. Langkah tersebut segera memicu perhatian internasional karena kapal selam strategis semacam ini biasanya beroperasi secara rahasia dan hampir tidak pernah diumumkan lokasinya secara terbuka.

Kapal Selam Nuklir AS Muncul Terbuka, Sinyal Keras untuk Iran

Kapal selam kelas Ohio dikenal sebagai salah satu sistem persenjataan paling mematikan di dunia. Kapal ini mampu membawa hingga 20 rudal balistik nuklir Trident dengan jangkauan lebih dari 12.000 kilometer, cukup untuk menjangkau hampir seluruh target strategis utama di Iran dari posisi peluncuran yang sangat jauh.

Keberadaan kapal selam tersebut di Gibraltar dianggap bukan sekadar operasi rutin. Banyak analis militer menilai pengumuman terbuka dari Pentagon merupakan pesan langsung kepada Iran bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan tekanan militer sewaktu-waktu apabila situasi terus memburuk.

Yang membuat situasi semakin menarik perhatian adalah fakta bahwa operasi semacam ini sangat jarang diumumkan secara publik. Dalam 25 tahun terakhir, ini disebut baru ketiga kalinya kapal selam nuklir kelas Ohio secara resmi diumumkan berlabuh di Gibraltar.

Para pengamat menilai keputusan Washington untuk mengungkap lokasi kapal selam strategisnya menunjukkan bahwa pemerintah AS ingin menciptakan efek psikologis yang besar terhadap Teheran di tengah negosiasi yang semakin buntu.

Konflik Iran-AS Kini Jadi “Ujian Kesetiaan” Negara-Negara Timur Tengah

Di tengah meningkatnya ketegangan, konflik Iran dan Amerika kini juga dianggap sebagai ajang untuk melihat posisi asli berbagai negara di Timur Tengah dan dunia internasional.

Menurut laporan media Amerika, termasuk Fox News, pasukan Uni Emirat Arab disebut telah beberapa hari melakukan operasi militer langsung terhadap target di Iran. Namun operasi tersebut dilakukan secara tidak terbuka.

Laporan menyebut Uni Emirat Arab menggunakan jet tempur canggih buatan Barat untuk melancarkan serangan udara rahasia terhadap sejumlah target Iran sebagai balasan atas serangan rudal Iran sebelumnya.

Situasi semakin memanas setelah The Wall Street Journal pada 11 Mei 2026 mengutip sumber internal yang mengatakan bahwa ketika Amerika Serikat dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata sementara, Uni Emirat Arab justru diduga menyerang fasilitas kilang minyak Iran di Pulau Lavan.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan fasilitas energi itu diperkirakan lumpuh selama berbulan-bulan.

Menariknya, pemerintah Uni Emirat Arab tidak secara langsung membantah laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri mereka hanya menyatakan bahwa negaranya memiliki hak untuk merespons tindakan bermusuhan yang dianggap mengancam keamanan nasional.

Sikap ini mengejutkan banyak pengamat internasional. Selama ini, Presiden Trump memang beberapa kali mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran, namun ancaman tersebut lebih banyak dianggap sebagai alat tekanan politik. Militer AS sendiri hingga kini belum benar-benar menghantam pusat energi utama Iran secara langsung.

Namun Uni Emirat Arab dinilai mengambil langkah berbeda. Begitu bergerak, mereka langsung diduga menyerang salah satu target paling vital milik Iran.

Turki Disebut Jadi “Jalur Nafas” Ekonomi Iran

Sementara itu, di sisi lain kawasan Timur Tengah, laporan intelijen Barat dan media Israel mengungkap bahwa Iran kini semakin bergantung pada Turki untuk bertahan dari tekanan ekonomi dan sanksi internasional.

Menurut laporan tersebut, Iran memanfaatkan jaringan perbankan bawah tanah “hawala” di Turki untuk melakukan berbagai transaksi rahasia menggunakan cryptocurrency, emas, dan uang tunai dalam jumlah besar.

Selain itu, Turki juga disebut menjadi pusat barter minyak dan barang untuk membantu Iran memperoleh dolar Amerika Serikat di tengah pembatasan internasional.

Laporan intelijen bahkan menyebut adanya aktivitas pesawat pribadi yang bolak-balik antara Rusia, Turki, dan Iran. Pesawat-pesawat itu diduga mengangkut uang tunai dan emas dalam jumlah besar.

Sebagian pembayaran minyak Iran oleh pihak Tiongkok juga disebut dialirkan melalui jaringan keuangan di Turki.

Media Israel, Channel 14, secara terbuka menyebut Turki kini telah menjadi jalur keuangan terpenting bagi rezim Iran dan bahkan disebut sebagai “penopang hidup” utama ekonomi Iran saat ini.

Banyak pengamat melihat situasi ini sebagai gambaran rumitnya geopolitik Timur Tengah saat ini. Di satu sisi ada negara seperti Uni Emirat Arab yang dianggap semakin dekat dengan posisi Amerika Serikat. Namun di sisi lain, Turki yang masih merupakan anggota NATO justru disebut membantu Iran secara diam-diam.

Iran Kembali Keluarkan Pernyataan Keras

Di tengah tekanan yang terus meningkat, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kembali melontarkan pernyataan keras melalui platform X pada 12 Mei 2026.

Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki pilihan lain selain menerima “14 poin tuntutan Iran” yang menurutnya merupakan hak rakyat Iran.

Ghalibaf juga menegaskan bahwa seluruh upaya tekanan terhadap Iran hanya akan berakhir dengan kegagalan demi kegagalan.

Bahkan dengan nada menantang, ia mengatakan bahwa semakin lama Amerika menunda keputusan, maka semakin besar pula biaya yang nantinya harus dibayar oleh rakyat Amerika sendiri.

Kelompok Garis Keras Iran Disebut Takut Kehilangan Kekuasaan

Di tengah situasi yang semakin kritis, media oposisi Iran juga mulai mengungkap dinamika internal di dalam pemerintahan Teheran.

Beberapa analis oposisi menyebut kelompok garis keras Iran sebenarnya memahami bahwa Presiden Trump berkali-kali menyebut mereka sebagai “algojo yang membantai rakyat sendiri” dan memperingatkan bahwa kejahatan mereka suatu hari tidak akan dibiarkan begitu saja.

Karena itu, kelompok garis keras disebut berusaha keras menggagalkan setiap peluang tercapainya perundingan damai dengan Barat.

Mereka khawatir apabila Iran terlalu banyak mengalah dan akhirnya mencapai kesepakatan besar dengan Barat, maka para tokoh garis keras tersebut berpotensi menjadi sasaran pembersihan politik di masa depan.

Namun di sisi lain, apabila mereka terus memaksakan konfrontasi total, rezim Iran juga menghadapi risiko kehancuran besar.

Banyak analis menggambarkan posisi kelompok garis keras Iran saat ini seperti berada di jalan buntu: menyerah dianggap berbahaya, tetapi terus melawan juga dapat membawa kehancuran.

Trump Disebut Semakin Dekat ke Opsi Serangan Militer

Sementara itu, media Israel Channel 12 mengutip pejabat Amerika yang menyebut Presiden Trump kini semakin condong untuk kembali memulai operasi militer terhadap Iran.

Perubahan sikap tersebut disebut dipicu oleh kekecewaan Washington terhadap posisi Teheran dalam negosiasi terbaru.

Laporan itu menyebut pada 11 Mei 2026, Trump telah bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus AS, Steve Witkoff, guna membahas langkah berikutnya terkait Iran.

Sebelum pertemuan berlangsung, Trump juga sempat menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata kini berada di ambang kegagalan.

Petinggi Iran Disebut Bisa Kabur ke Rusia

Di tengah meningkatnya ancaman perang, sejumlah pakar Timur Tengah mulai memperkirakan kemungkinan skenario terburuk bagi elite pemerintahan Iran.

Pakar Timur Tengah bernama Gorkal dalam wawancara dengan Fox News mengatakan bahwa apabila situasi terus memburuk, sebagian petinggi Iran kemungkinan akan mengikuti jejak mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang sebelumnya mencari perlindungan ke Rusia.

Menurut analisis tersebut, tokoh penting seperti Mohammad Bagher Ghalibaf kemungkinan akan memilih pergi ke Moskow jika kondisi Iran semakin tidak terkendali.

Sementara itu, anggota tingkat bawah Garda Revolusi Iran diperkirakan akan melarikan diri ke Irak atau Afghanistan karena telah lama memiliki jaringan operasi di wilayah tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Iran-Amerika kini tidak lagi hanya sekadar pertarungan diplomatik biasa. Ketegangan tersebut mulai berkembang menjadi perebutan pengaruh besar yang melibatkan banyak negara, jaringan keuangan rahasia, operasi militer tersembunyi, hingga kemungkinan perubahan besar dalam peta politik Timur Tengah. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjelasan Polisi Pernah Tangkap WN Jepang di Jakbar Terkait Prostitusi Anak
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Periksa 3 Saksi, KPK Dalami Aliran Uang untuk Hery Sudarmanto
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mandiri Berbagi 2.800 Paket Sembako Disalurkan untuk Warga Surabaya
• 23 jam laluberitajatim.com
thumb
Ekspor ke Australia Tembus Rp 7 T, Harga Pupuk Dalam Negeri Turun 20%
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Alasan Jaksa Tuntut Nadiem 18 Tahun Penjara dan Uang Ganti Rugi Rp5,6 T
• 22 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.